Penulis-penulis bagus dan bertalenta tiap tahun selalu lahir lewat jalan sunyi. Ditemukan pembaca dari ribuan buku dengan nama asing atau cerpen yang dimuat di media massa. Ada pula yang mesti dicari—lewat jalan sayembara atau lomba penulisan karya demi menguji daya tahan penulis juga kompetensinya.

Penghargaan seperti Kusala Sastra Katulistiwa atau turut berperan menyaring bacaan bagus yang terbit dalam satu tahun terakhir. Ini yang membuat saya bisa berkenalan dengan Nunuk Y Kusmina—perempuan yang kebetulan menyabet juara unggulan novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.

Saya sudah melahap habis Lengking Burung Kasuari (2017), novel perdana miliknya yang bercerita seorang gadis kecil yang mesti pindah ke Papua karena ayahnya dipindahtugaskan. Novel tersebut begitu riang, menampilkan panorama Papua dari sisi pengamatan anak kecil yang sedang asyik-asyiknya bermain.

Ketika akhirnya tahun ini Nunuk menerbitkan novel teranyarnya, tentu saya dibuat penasaran. Apalagi tema yang digarapnya berbeda dari karya terdahulu. Vipassana, novel terbaru Nunuk, berkisah tentang patah hati dan meditasi.

Vipassana mengambil latar Surabaya dan Malang dengan tokoh seorang mahasiswi. Ada beberapa hal menarik dari novel ini yang membuatnya pas jadi rekomendasi bacaan akhir pekanmu. Berikut di antaranya.

Lokalitas Jatim

Kalau dulu Nunuk mengambil latar Papua sebagai tempat para tokohnya memainkan peran, kali ini ia mengambil dua kota besar di Jatim yang memiliki tempat ikonik, Surabaya dan Malang. Pembaca diajak mengunjungi biara di kota Batu, sampai jalan-jalan di Surabaya.

Bahasa yang ada dalam novel juga memakai beberapa istilah Jawa sehingga menambah kesan lokalitasnya.

“Menjelang berpindah ruang untuk mengikuti pelajaran kimia—dan setelah itu enggak ada lagi kuliah padahal hari belum siang benar—Sarah mengajakku shoping. “Mau ke TP. Belanja. Mau ikutan?”

TP itu singkatan dari Tunjungan Plaza. Pusat perbelanjaan paling keren se-Surabaya. Meski belum pernah aku menginjakkan kaki ke sana.” (Hal. 56-57)

Romansa Zaman Kuliah

Jika kamu penggemar novel seperti Dilan atau Cintaku di Kampus Biru, agaknya kamu perlu  membaca novel ini agar menambah khazanah bacaan. Pembaca yang mau atau sudah lulus dari kampus diajak bernostalgia tentang bagaimana repotnya menjadi maba dan bertualang mendaki gunung bersama pecinta alam.

“Untuk sementara ingatan akan si Yang—berputar indah-saat—ospek tersimpan rapi dalam tabungan ingatanku. Tertutupi oleh kepadatan-kejengahan aktivitasku sebagai mahasiswa baru(maba).

Aku belajar membiasakan diri dengan teman-teman satu kos maupun teman-teman kampus, belajar melakukan segala sesuatunya seorang diri termasuk hunting makanan enak tapi murah di berbagai warung yang masih masuk anggaran belanjaku.” (Hal. 53)

Meditasi dan Yogi

Meski premis ceritanya sederhana yakni tentang mahasiswi patah hati usai diselingkuhi pacarnya, novel ini punya nilai plus saat tokoh melakukan meditasi demi menemukan ketenangan batin. Tokoh Amalia menemukan kebijakan hidup lewat pengajar yoga dan bikhu yang memberikan nasehat lewat cerita memikat.

“Cerita tentang raja dan penasihat terngiang-ngiang dalam batok kepalaku. Aku masih mengingat bagaimana Sayadaw mengatakannya. Itu saat dhammadesana tadi pagi yang singkat saja. Tentang tubuh kurusnya yang duduk tegak di kursi jati raksasa.

Tatapannya yang  teduh menyapu kami semua. Juga tentang kipas merah hati bundar di tangan kanannya. Dan tekanan he-nya yang jauh lebih lembut ketika diucapkan setelah mengakhiri kisah itu.” (Hal. 218)

Intinya, dengan membaca novel ini, pembaca bakal memahami caranya bermeditasi dan ikut merasakan bagaimana susahnya menjaga ketenangan batin dan melakukan olah tubuh. Akhir kata, saya berharap novel ini dapat menarik produser film untuk membuatnya ada di layar perak sehingga tak hanya film Eat, Pray, Love saja yang bakal mendunia.