Ini adalah salah satu kisahku, saat masih sekolah di SMA Antartika Sidoarjo. Masih banyak hal yang aku alami saat sekolah dulu, dan kubentuk kisahku menjadi sebuah buku sebagai kenang-kenangan untuk adik-adik kelasku.

Agar mereka lebih berhati-hati di sekolah. Sebab, di sekolah itu bukan hanya ada kita, para manusia. Ada juga mereka yang tidak terlihat.

Sebelum aku bercerita tentang Banaspati, apakah ada yang tahu apa itu Banaspati?

Buat informasi singkat, Banaspati itu hantu yang berbentuk seperti manusia tapi berbadan lebih besar dan seluruh tubuhnya terbuat dari api. Jika makhluk tersebut datang, pasti sebuah tempat terasa panas meski biasanya tempat itu dingin. Itu karena panas api dari tubuhnya membuat tempat yang dia datangi menjadi panas.

Cerita berawal saat kami akan mengikuti lomba PMR. Seperti biasa, kami mengadakan rapat dengan pembina kami saat waktu luang di sekolah. Aku, Jovi, April, dan Septi menyiapkan tempatnya. Aku meminjam kunci lab kimia yang berada di samping musala. Kami membuka dan masuk ke lab kimia.

Lab tersebut kerap jadi jujukan kami. Sebab, lab selalu dingin ketika hawa di luar terasa panas.

Kami berempat masuk dan menyiapkan tempat sambil menunggu anggota yang lain. Satu per satu anggota PMR datang dan duduk di lab kimia. Tak lama, pembina datang dan memulai rapat hari itu.

Aku dan Jovi duduk di belakang bersama anggota cowok yang lain. Sedangkan April dan Septi duduk di depan bersama pembina kami.

Saat rapat berlangsung, aku merasa ada yang memperhatikan kami dari luar. Aku melihat ke jendela yang menuju ke musala, namun tidak ada yang memperhatikan. Aku melihat jendela yang satunya tidak mungkin, karena di jendela itu hanya ada celah sempit yang tidak memungkinkan ada orang di situ.

Selama rapat berlangsung, aku terus memperhatikan sekitarku karena tidak nyaman jika terus diamati seseorang yang belum aku ketahui di mana orang itu.

Sosok itu sangat gepeng. Dia bersembunyi saat tahu aku sedang memperhatikannya. Aku hanya bisa melihat sebagian tubuhnya yang penuh luka dan cukup mengerikan.

Meski tidak mungkin ada yang bisa mengintip di celah jendela yang menuju belakang sekolah, aku merasa dari celah itulah ada yang memperhatikanku.

Lama kuperhatikan jendela paling pojok, dan sekilas aku melihat sosok di celah itu. Aku terus perhatikan dan berusaha memastikan apa yang ada di celah tersebut.

Aku berpikir tidak mungkin ada orang yang bisa berada di celah sesempit itu, dan memang bukan orang yang ada di celah tersebut. Setelah cukup lama kuamati, ternyata yang memperhatikanku dari tadi adalah sosok yang menyerupai orang. Hanya saja, tubuhnya tidak sempurna.

Sosok itu sangat gepeng. Dia bersembunyi saat tahu aku sedang memperhatikannya. Aku hanya bisa melihat sebagian tubuhnya yang penuh luka dan cukup mengerikan.

Setelah mengetahuinya, aku tidak terlalu memperhatikan sosok yang terus saja mengintip dari celah itu. Tak lama, aku merasa ada yang aneh pada Septi. Dia yang dari tadi biasa-biasa saja mulai kipas-kipas. Padahal, udara di lab kimia cukup dingin.

Melihat Septi seperti itu, aku baru sadar bahwa bagian punggungku terasa panas dan udara di lab yang tadinya sejuk menjadi lumayan panas. Aku kembali memperhatikan sekitar. Di celah itu, sosok yang tadi kulihat sudah tidak ada.

Saat melihat ke belakang, aku cukup terkejut karena ada sosok tinggi besar dan seluruh tubuhnya terbungkus api merah. Ternyata, sosok itulah yang membuat udara di lab menjadi panas. Aku berusaha untuk tidak panik meski sosok tersebut terus mendekat dari belakang.

Aku merasa semakin panas. Berjarak satu bangku dari tempatku duduk, tiba-tiba sosok itu menghilang entah ke mana dan udara kembali sejuk. Septi pun kembali seperti biasa.

Setelah rapat selesai, aku kembali ke kelas dan berkumpul dengan temanku. Aku menceritakan apa yang kulihat saat rapat itu.

Temanku bilang, yang aku lihat itu adalah Banaspati. Sosok tersebut memang berbentuk seperti manusia tinggi besar dan tubuhnya terbuat dari api. Tapi, masalah sosok yang mengintip di jendela itu, tidak ada yang tahu namanya apa. Jadi, kami menyebutnya manusia gepeng.