Orat-oret ini tidak bermaksud membeberkan “aib orang”. Juga, tidak terpantik niat secuil pun di hati saya untuk menerakan dosa yang diperbuat teman-teman saya kala ngangon wedhus.

Seperti dosa teman saya Jebod, Dabeng, Kino, Gopes, Jaya, Tarman Doyok, dan mereka yang sebab keterbatasan tidak bisa saya sebutkan nama kesemuanya secara paripurna tanpa tedeng aling-aling. Sebab yang akan saya gelar pada pertunjukan kata-kata kali ini adalah “dosa kami”. Ya, saya termasuk di dalamnya. E, sebut saja saya “Mutho” (nama orisinil).

Menjadi bocah angon dulu itu sangat mengasyikkan. Selain di sekolahan dasar (yang bikin mumet), wahana bermain kami adalah emperan sungai, hutan, dan kebun warga yang belum ditanami atau paskapanen. Ketiga tempat tersebut tempat kami ngangon wedhus.

Itu semua bisa dibilang asyik, sebab bagi kami ngangon itu bukan sebuah tugas negara yang kudu dilakoni dengan pethengthengan. Maaf, lupa, dulu kami nggak ngerti apa itu Negara. Udah gini aja, intinya waktu itu saya masih umuran SD. Pulang sekolah, saya itu menggembala wedhus. Gitu.

Lho asyiknya di mananya? Yo seeek, iki lho tak critani siji-siji.

Mungkin kalau waktu itu saya tahu ada yang namanya kata-kata bijak atau apalah namanya, saya bakal bikin kata-kata, “Dosa itu asyik, mari berdosalah”. Ya Gusti nyuwun ngapunten, niki namung guyon, kok…

Jadi, e, handai-tolan sidang pembaca yang budiman. Dosa yang bakal saya beber pada paragraf kemudian hakikatnya adalah ‘asyik-asyik yang mengasyikkan pada masanya’.

Masa di mana sekarang kami tak bisa mengalaminya lagi. Masa di mana tatkala menulis ini saya merasa sungguh berbangga bermasa kecil bisa jadi bocah angon yang tentu tak bakal bisa dinikmati oleh anak-anak sekolahan dasar modern.

E tapi jamaah, ternyata saya keliru duga bahwa dengan ngangon wedhus itu saya setidaknya telah lebih awal meniru Nabi SAW sebelum ikhwan dan akhwat fillah rombongan hijrah gembar-gembor sunnah.

Iya Nabi SAW seorang penggembala atawa bocah angon masa kecilnya. Tapi sungguh nista diri ini jika hanya dengan pernah jadi bocah angon telah nyunnah. Astajim!

Lha saya dan teman-teman sepengangonan dulu malah kerap berbuat maksiat yang tergolong langka di era kemenangan Jokowi ini. Wkwkwk.

Ini lho dosa kami sebagai bocah angon:

Mencuri pisang bakal disate

Dosa yang pertama ini biasa kami lakukan dengan penuh jiwa lapar jika kebetulan ada tanaman pisang milik orang yang sudah mau matang. Mau dimakan langsung pasti rasanya sepet. Mau didiamkan takut keduluan si kampret alias codot.

Akhirnya kami seringnya curi itu pisang. Kupas kulitnya. Diiris-iris. Ditusuk pake ranting pohon. Bikin perapian. Setelah bara api telah mekar, kami panggang itu pisang. Setelah masak, dibadhog dengan penghayatan tingkat lapar stadium paling mutakhir.

Nyammiieee… Sate pisang cap enak. Enak dong ya, tanpa mikir nanem. Tinggal klep!

Dosa yang tidak jadi

Kalau ini masuk kategori perbuatan tidak menyenangkan tapi mengasyikkan yang sukar memupus. Ceritanya kami itu sudah niat ikhlas lillangitangala untuk mencuri kopi cokelat (buah bakal dibikin cokelat).

Kebun kopi cokelat nan luas itu berada di kampung seberang. Untuk sampai ke seberang dengan efesiensi waktu, kami membutuhkan kecepatan berenang 2,12 km/jam dan daya dayung sekuat onta hijrah mengkafir-kafirkan orang.

Sampai di TKP. Kami harus melewati kebun mahoni, baru kebun kopi cokelat. Di kebun mahoni, saya yang traumatik pada asu langsung deg-degan waktu melihat semassa binatang berdemo, eh… berlarian tepat di depan kami meksipun agak jauhan.

Saya secepat monyet manjat mahoni. E, asu! Mereka bukan asu, tapi bagong alias babi liar. Saya turun dan bergabung bersama teman-teman mengejar babi-babi itu.

Ndilalahnya mereka lari ke kebun kopi cokelat. Ada satu babi kecil yang masuk serumpun semak-semak. Kami mengerumuni semak-semak itu dengan kesiagaan yang santai aja sih.

Tiba-tiba hadir di lingkaran siaga kami sosok bapak-bapak asing yang tak asing. Asing sebab kami tak kenal. Tak asing sebab dari gaya berpakaiannya kami tahu bapak itu adalah mandor atawa petugas keamanan kebun. Apes!

E, apesnya enggak jadi. Bapak itu malah urun mengepung si babi kecil malang. Tapi memang Tuhan Maha Meloloskan. si babi itu tak jadi malang, ia dengan kecepatan penuh kaboooor.

Nah, sudah kadung kepergok mandor, kami jujur enggak jujur mengakui hendak mencuri kopi cokelat. Tapi, memang Tuhan Maha Tidak Mendosakan, kami diperbolehkan mengambil beberapa buah kopi cokelat tanpa dilabeli “haram” alias dikasih, Luuur. Kami sangat meyakini ini sebab si babi kecil.

Makasih, ya Bab. Ternyata kau binatang haram yang menghalalkan. Niat berdosa kami jadi enggak jadi. Maksudnya, dosanya enggak jadi. Gitu.

Zaman sudah berganti, kebudayaan mengulur ke sudut yang lain, gaya hidup modern telah demikian mereduksi keudikan. Maka demikianlah dosa bocah angon yang cukup langka. Ya langka, sebab sekarang sih anak SD mana ada yang jadi bocah angon?