Saya heran ketika dua penulis tersohor saling berdebat tentang keuangan milenial di tulisan masing-masing. Ya itu, tulisannya Mas Edi dan Mas Haryo yang sok ngurusi milenial.

Sik to yo mereka milenial bukan sih, kok ngrusuhi urusane milenial? Saya belum sempat mengepoin njenengan berdua ya Mas Edi dan Mas Haryo, tapi pastinya njenengan berdua jauh lebih senior dibandingkan saya yang sedang mengalami krisis perempat usia ini―bahasa kerennya quarter life crisis.

Sebagai orang yang baru belajar menulis, saya juga tidak bisa memamerkan kelebihan saya, lha wong tulisan njenengan berdua di atas 1000 kata, sedangkan saya 1000 kata saja kurang. Tapi izinkan saya ikutan nimbrung di tengah perdebatan absurd ini ya, Mas-Mas sekalian.

Saya sebagai milenial kok merasa njenengan berdua ini malah tukaran sakkarepe dewe, padahal milenial yang njenengan berdua perdebatkan lho yo malah sante-sante wae.

Tapi tenang, ndak ada yang benar atau salah dari njenengan berdua. Milenial emang ada kok yang mau ribet menerapkan tips-tipsnya Mas Haryo seperti di buku Millenialnomics. Saya baca buku njenengan kok Mas Haryo, pre-order pula.

Tapi ya banyak juga milenial yang modelnya nyantai aja setiap hari nongkrong dan ngopi. Eh btw, saya belum pernah ngopi di Café Basa Basi nih, Mas Edi, semoga nanti pas ke Jogja saya bisa mampir merasakan aura milenial di sana. Hemm, aura, padane milenial koyok demit ae ono aura sing iso ditrawang Roy Kiyoshi…

Terus, ada juga milenial yang seperti saya ini, ada kalanya ribet ngatur duit buat masa depan anak (yang masih belum ada karena saya belum menikah), tapi ada kalanya juga menikmati hidup dengan jalan-jalan, nonton, dan ngopi.

Nah, keliatan kan kalau sebenarnya, kita tidak bisa hanya memberi cap milenial dengan satu jenis cap saja, wong kenyataannya milenial itu macem-macem. Banyak artikel keuangan tentang milenial yang judulnya “Milenial Tidak Bisa Menabung dan Punya Rumah”, seakan-akan milenial itu seburuk-buruknya generasi.

Kok cek ngenese se nasibe milenial, moso diprediksi miskin terus ngono.

Seperti kita ndak bisa sekadar menjustifikasi hitam atau putih karena kadang ya ada yang abu-abu, milenial juga tidak semudah itu dibagi menjadi dua kelompok saja, Sheyeng. Dari yang sudah saya sebutkan tadi saja sudah ada tiga kelompok berdasar semangat penghematan.

Nah, ada lagi milenial urban dan rural, Mas Haryo dan Mas Edi. Yang di Jogja dan Surabaya aja beda, lho. Wong UMR-nya aja beda, belum lagi iklim literasi dan jumlah mall-nya yang juga beda. Gak iso digebyah uyah Mas berduaaa.

Yaa meskipun ada juga sih kemiripannya, seperti tingkat kemacetan yang berkontribusi juga pada polusi, dan harga rumah yang semakin melambungggggggggg tinggi meskipun tempatnya nylempit di pojokan daerah Driyorejo.

Gaya hidup keuangan milenial dipengaruhi oleh pengalamannya. Kalau wes mulai kecentok baru mulai mikir. Nah, waktu kecentoknya itu yang beda-beda setiap orangnya. Misalnya saya nih, kecentok pas masih kecil, akhirnya ketika mulai dewasa berusaha mengumpulkan uang sebaik-baiknya.

Umumnya, milenial akan mulai ribet ngurusi tabungan kalau sudah mulai mendekati waktu nikah, anak masuk sekolah, atau tiba-tiba kena masalah kesehatan tapi nggak punya proteksi kesehatan, entah yang dari asuransi swasta atau jaminan kesehatan milik pemerintah.

Kalau masih belum punya tanggungan, bebassssss Mas, bebassssssss!

Milenial juga nggak suka kebanyakan teori ndakik-ndakik, Mas Haryo dan Mas Edi. Kami, milenial yang sukanya serba faster, better, easier ini lebih suka solusi dan bukti yang langsung makjleb pengaruhnya ke hidup kami, bukan sekadar janji atau gimmick kayak kampanye gaul sewaktu Pilpres kemarin itu.

Pura-pura dekat, sok merangkul, eh taunya malah ditinggal. Hadeeeeehhh…

Makanya, tulisan njenengan berdua yang eyel-eyelan juga sebetulnya ndak akan terlalu berpengaruh untuk kami kalau cuma jadi tulisan yang wacanak kisanak dan ngawang-ngawang bagi milenial.

Tips-tips perencanaan keuangan ya sudah banyak berkeliaran, seminar-seminar keuangan harganya jutaan ya sudah mulai gencar, ajakan menikmati hidup dengan bodo amat ya semakin banyak.

Tapi kalau belum ketemu momen kecentoknya ya milenial akan tetap nyantai dengan hidupnya sesuai dengan kondisi mereka saat ini.

Mending njenengan berdua tunggu kami mengalami kecentok dan masuk quarter life crisis aja, yang baru bisa bikin kami tahu mau ngikuti jalan siapa: jalan hidup ribet ala Mas Haryo atau jalan hura-hura ala Mas Edi.

Kalau kami butuh wejangan, jangan cuma dinasihati terus ditinggal lho, Mas berdua. Soalnya ditanggepin cuma buat ditinggal itu sakkkiiittt rasanya, Mz!