Viral video seorang wanita yang katanya sedang mengalami gangguan jiwa, marah-marah masuk masjid sambil membawa anjing dan masih mengenakan sepatu. Seorang laki-laki (entah dia hanya jamaah atau marbot) berbaju merah menghadang dan melawan wanita yang sedang emosi tak terkendali itu dengan emosi tak terkendali juga.

Tetapi dari semua kejadian itu, bagian paling menariknya tentu menyimak adu cocot para netijen dan berpartisipasi di dalamnya, huahahaha!

Saya tertarik pada pernyataan pihak-pihak yang menyayangkan sikap laki-laki berbaju merah yang menurut mereka antara lain; ngamukan, bersumbu pendek, tidak memahami teknik negosiasi dengan baik, dan sebagainya. Bukannya mau membela, saya hanya mau bilang, sebelum pernah mengalami sendiri sebuah situasi ekstrim yang mendadak dan kita sudah teruji melaluinya dengan baik, hati-hati mencibir orang lain.

Pada banyak kali saya mengamati respon seseorang terhadap suatu masalah, sering saya menemukan, ternyata orang yang dalam kesehariannya saya anggap bijak, dewasa, atau yang dituakan dan dihormati oleh lingkungan, ketika mereka menghadapi masalah yang sama, responnya terhadap masalah tidak sebijak ketika mereka menasehati orang lain.

Ketika mereka sendiri yang tersangkut masalah, responnya bisa melenceng dan ngawur.

Misalnya begini. Saya mengenal langsung seorang ayah yang sudah sepuh, beliau dihormati dan dituakan oleh sanak kerabat. Ketika keponakannya ingin menikah tapi orang tuanya tidak menyetujui, beliau bisa mengurai masalahnya dengan baik. Saya mendengar sendiri beliau menanyai asal usul, seluk beluk calon suami keponakannya untuk memastikan sang keponakan menikah dengan orang yang tepat.

“Katanya kerjanya di pelayaran. Lha pelayaran itu bagian apa dulu? Apakah juru mudi? Apakah bagian mesin? Apakah tukang masak? Apakah tukang cuci piring? Kan harus jelas. Ora dumeh pelayaran,” begitu katanya ketika menceritakan momen-momen beliau menginterogasi calon mantu ponakan.

Tapi herannya saya, ayah yang sama itu, ketika putrinya hendak menikah malah abai menanyakan detil seluk beluk calon menantunya sendiri. Saking abainya sampai bisa ditipu calon menantu yang mengaku dokter spesialis kandungan padahal yang betul dokter spesialis gadungan.

 Nalar kita tentu saja bertanya-tanya, memangnya nggak pernah tanya dokter kandungan praktek di mana, memangnya ndak pernah ngecek apa betul nama itu ada di daftar dokter di klinik yang disebut?

Kejadian-kejadian seperti itu tidak hanya sekali dua kali saya alami. Sehingga membuat saya sampai pada kesimpulan (yang masih sangat bisa dikritisi) rupanya begitulah kebanyakannya manusia. Ketika melihat masalah yang menimpa orang lain, ia berdiri di luar belitan masalah itu.

Di titik yang berjarak dengan masalah ini, jangkauan pandangan jadi lebih lebar sehingga bisa memikirkan alternatif-alternatif solusi yang lain. Alasan lainnya adalah karena ketika kita berjarak dari masalah, emosi kita juga tidak teraduk-aduk seperti subyek yang sedang berhadap-hadapan dengan masalah.

Tentu saja kita menyayangkan kejadian di Sentul itu. Tapi sikap-sikap para pihak yang terkait di dalamnya saya rasa sudah sangat manusiawi. Perhatikan saja, ketika si ibu yang dengan emosional ngotot mencari suaminya, dan si bapak juga dengan emosional ngotot mengatakan anjing tidak boleh masuk masjid, ini jelas komunikasi sesama orang ngamuk yang tidak nyambung.

 Saya membayangkan kalau dibiarkan mungkin mereka bisa jambak-jambakan wkwkwk.

Dalam keadaan seperti itu, warga, ya entah itu jamaah atau bukan yang berada di situ, berusaha mengendalikan bapak-bapak berbaju merah supaya tensi suasana tidak semakin meningkat. Anjingnya digusah keluar, si ibu juga digiring keluar. Di luar ada bapak-bapak berbaju putih (sepertinya datang belakangan mungkin karena ada yang manggil) yang terlihat lebih tidak emosional ketika berusaha menenangkan dan memberi penjelasan pada si wanita.

Di halaman, ketika situasi mulai sulit dikendalikan, warga juga berinisiatif untuk segera memanggil pihak berwajib. Toh kalau ada satu orang yang emosional, nyatanya jauh lebih banyak yang lainnya yang masih bisa berpikir jernih demi tidak meluasnya huru-hara.

Di sisi lain, saya menyimak video dari Pak Felix Siauw atas kejadian ini. Saya menyayangkan sikapnya yang seolah memanfaatkan situasi seperti ini untuk membakar emosi jamaahnya.

“Kalau dikatakan nggak tau kok ya nggak mungkin. Kalau dikatakan gila, nggak waras ya itu mungkin saja. Tapi kok ya bisa dibiarkan lepas ini kan bisa mengganggu kerukunan umat beragama.”

Pak Felix mungkin belum pernah punya saudara yang terkena gangguan jiwa. Belum pernah motornya dipinjam sama saudaranya yang terkena gangguan jiwa tapi masih bisa beraktivitas sehari-hari dengan baik, tapi ternyata nggak paham kalau motor mogok karena bensin habis, dia masukin bengkel lalu ditinggal jalan cari rosok kemudian lupa di mana bengkelnya. Saya pernah. Makanya berani bilang, kalian yang belum pernah memiliki kerabat dengan “sakit” seperti ini nggak akan bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Di keluarga kami punya satu yang kayak gini. Habis akal rasanya bagimana harus menghadapi. Apalagi kalau biaya yang bisa disediakan keluarga sangat terbatas. Tidak banyak pilihan pengobatan dan perlakuan yang dimiliki keluarga.

Dalam videonya Pak Felix juga menyatakan kekhawatirannya kalau hal seperti ini dibiarkan terus menerus, seolah-olah kaum muslim diposisikan harus selalu mentolerir sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat. Lalu menutup videonya dengan pernyataan, “Ini bukan tentang fiqih, tapi tentang terusiknya rasa keadilan.”

Saya cuma mau tanya, kalau faktanya wanita yang bawa anjing itu beneran kena gangguan jiwa, masihkah Pak Felix menuntut wanita itu harus diproses hukum misalnya dengan tuduhan penodaan agama, misalnya? Keadilan seperti apa yang dianggap adil di mata beliau, dan kalian-kalian yang terus-menerus melancarkan aksi mencibir pelaku sekaligus negara yang dianggap tidak adil menangani hal seperti ini?

Punya anggota keluarga yang sakit jiwa itu berat. Bisa entek omah entek dadah kalo orang Jawa bilang. Nggak usah perlu Tuhan kasih kalian keadaan itu hanya biar kalian bisa memahami untuk tidak mencibir dan merendahkan orang lain dalam kejadian ini dan mungkin kejadian-kejadian serupa lainnya.

Berat, aku takut kalian nggak akan kuat.