Salah satu momen dalam pertandingan kompetisi sepak bola Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Kanjuruhan, Malang, Sabtu (6/10/2018), adalah aksi dirigen Aremania Yuli Sumpil.

Yuli bersama seorang Aremania turun ke lapangan pada masa jeda setelah babak pertama. Dia mendekati kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan, sembari menyodorkan sejumlah uang Rp 100 ribuan.

Tak jelas apa yang dikatakan Yuli. Ia tiba-tiba membanting uang tersebut dan memungutinya lagi.

Orang menduga-duga apa maksud Yuli. Mungkinkah Yuli bermaksud menawarkan uang itu sebagai gratifikasi agar gawang Persebaya bobol?

Sepanjang babak pertama, gawang Persebaya memang clean sheet. Mungkinkah Yuli teringat akan puluhan anggota DPRD Malang yang dibekuk Komisi Pemberantasan Korupsi karena gratifikasi dan menyamakannya dengan pemain Persebaya?

Atau mungkin Yuli menyodorkan uang kepada Alfonsius untuk membeli rokok, kopi, dan gorengan di warung sebelah? Banyak kemungkinan dan spekulasi, hingga Yuli mengeluarkan klarifikasinya lewat sebuah video yang beredar di media sosial.

Dalam akun Instagram @yulisumpil_alpenliebe, Yuli menyampaikan alasannya. “Pemaine Persebaya tak kek’i duwik. Soale gurung bayaran,” katanya.

Dengan rata-rata harga tiket Rp 50 ribu per lembar, pemasukan kotor Persebaya di setiap pertandingan adalah Rp 1,42 miliar.

Pernyataan tersebut membuka diskusi pengetahuan suporter terhadap kesehatan finansial klub-klub sepak bola di Indonesia. Kita tidak tahu benar, Yuli mendapat informasi dari mana soal tunggakan gaji sehingga punya niat mulia untuk memberikan uang kepada Alfonsius Kelvan.

Data PT Liga Indonesia Baru yang dilansir medio Juli 2018 menunjukkan, Persebaya memiliki penonton terbanyak hingga pekan ke-16 Liga 1, yaitu 198.878 orang. Di sisi lain, Arema justru hanya bisa menyedot 93.730 penonton.

Sampai pekan ke-16, Persebaya sudah menjalani tujuh pertandingan kandang. Artinya, rata-rata pertandingan dihadiri 28.411 orang.

Dengan rata-rata harga tiket Rp 50 ribu per lembar, pemasukan kotor Persebaya di setiap pertandingan adalah Rp 1,42 miliar.

Sementara itu, Arema yang sudah melakoni tujuh laga kandang hingga pekan ke-16 hanya bisa menyedot 13.390 orang setiap pertandingan. Dengan harga tiket rata-rata Rp 35 ribu per lembar, pendapatan kotor Arema hanya Rp 468,650 juta.

Ini sebenarnya melanjutkan tren penurunan jumlah penonton yang terjadi pada 2017. Saat itu, dari 17 laga kandang, Arema hanya bisa menyedot 177.355 penonton atau rata-rata 10.432 orang per pertandingan.

Presiden Persebaya Azrul Ananda dalam paparannya tentang finansial sepak bola di Youtube.com pernah menyebut empat komponen pemasukan bagi tim. Yakni, sponsor, apparel dan merchandise, subsidi liga dan hak siar televisi, serta tiket.

Tiket menjadi elemen yang sangat penting. Sebab, dari situlah ikatan klub dan pendukungnya diciptakan. Klub sepak bola bisa tetap hidup dan berlari jika para fans memberikan dukungan dengan membeli tiket.

Dalam video tersebut, Azrul mengasumsikan bahwa jumlah rata-rata penonton ideal untuk tujuh pertandingan kandang Persebaya saat Liga 2 adalah 20 ribu orang, dengan harga tiket kelas ekonomi Rp 50 ribu.

Jika mengacu pertandingan Liga 1, tentu angka itu melebihi asumsi dan ekspektasi Azrul.

Kekuatan tribun disokong kekuatan di luar tribun. Medio Maret 2018, Azrul Ananda melansir, ada sembilan sponsor yang menggelontorkan uang untuk Persebaya. Sementara itu, dari Persebaya Store yang menjual merchandise resmi klub, Persebaya menargetkan pemasukan Rp 1 miliar per musim.

Jersey otentik di toko resmi Persebaya adalah yang termahal bila dibandingkan dengan yang dijual klub lain. Jika Persebaya mematok Rp 750 ribu per potong, klub lain seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Arema FC, dan Bali United, menurut Bola.com, menjual dengan harga tak sampai Rp 500 ribu.

Keberanian manajemen Persebaya untuk menjual mahal menunjukkan betapa besar potensi pasar klub tersebut.

Kekuatan Persebaya dalam tayangan televisi juga bagus. Saat masih menjabat manajer pada medio Juli 2018, Chairul Basalamah mengatakan, Persebaya menduduki peringkat pertama dalam share rating televisi di putaran pertama Liga 1 2018.

Televisi adalah roh industri sepak bola modern. Tentu saja, tingginya rating penonton layar kaca (seharusnya) membuat kocek Persebaya semakin tebal karena bagi hasil hak siar.

Dengan kondisi seperti itu, tak terdengar lagi isu soal pemain Persebaya yang belum menerima gaji. Cerita tunggakan gaji pemain saat Persebaya tidak dikelola secara profesional kini tinggal kenangan. Tak perlu lagi ada saweran untuk mereka, sebagaimana yang dilakukan Yuli Sumpil.

Justru, ada baiknya Yuli Sumpil sebagai tokoh panutan mendorong Aremania agar berbondong-bondong mendatangi stadion daripada memikirkan cara untuk menyawer pemain Persebaya. Musim 2009-2010, Arema pernah mencatat rekor 512.876 penonton dalam 17 laga kandang atau rata-rata 30.169 orang per pertandingan.

Manajemen Arema tentu berharap rekor itu bisa terulang pada masa mendatang.

Di sisi lain, Bonek sebaiknya tetap mengapresiasi niat baik Yuli yang memberikan bantuan uang kepada pemain Persebaya. Terlepas dari caranya yang keliru sehingga membuat PSSI menjatuhkan sanksi larangan datang ke stadion seumur hidup.

Dengan memandang tindakan tersebut dari perspektif positif, Bonek tak perlu menyimpan dendam. Menghapuskan dendam adalah awal dari sepak bola Indonesia yang lebih baik.