Tim nasional Indonesia U-16 gagal menembus Piala Dunia Junior. Supriyadi dan kawan-kawan dikalahkan Australia 2-3 dalam sebuah pertandingan perempat final yang ketat dan menegangkan.

Mereka kalah, tapi dengan kepala tegak dan masa depan cerah.

Apalagi, sebelum Piala Asia di Malaysia, mereka berhasil merebut trofi Piala AFF U-16 di depan publik sendiri. 

Pelatih Fachri Husaini telah melakukan tugas dengan baik. Mantan gelandang tim nasional itu berhasil menanamkan taktik serta filosofi bermain sepak bola modern yang menarik dan enak ditonton.

Publik seperti dibawa kembali pada masa kejayaan tim nasional U-19 saat dilatih Indra Sjafrie dan dihuni pemain-pemain seperti Evan Dimas dan Ilhamuddin Armayn.

Di bawah Fachri, tim nasional U-16 menjadi mesin serang kolektif yang spartan. Iran sudah merasakannya setelah dihajar 0-2 di babak penyisihan grup.

Australia pun terlibat pertarungan hingga detik akhir menghadapi mentalitas pantang menyerah atau ‘never-say-die attitude’ Garuda Muda. Fox Sports Asia memuji penampilan Indonesia, terutama Andre Oktaviansyah dan Amiruddin Bagus Kahfi.

Namun, akhir Piala Asia menghadirkan pertanyaan lainnya: bagaimana menjaga kualitas anak-anak muda itu agar bisa menjadi fondasi tim nasional senior masa mendatang? 

Gelar juara penting. Tetapi, timnas U-16 adalah bagian dari pembinaan berjenjang dan jangka panjang sepak bola Indonesia untuk membentuk tim nasional senior yang tangguh. 

Trofi adalah penyuntik motivasi, tapi dari kegagalan sebuah tim sepak bola belajar banyak.

Kegagalan kita menjaga tim nasional U-19 setelah menjuarai Piala AFF pada 2013 agar menjadi fondasi untuk tim nasional masa mendatang memberikan pelajaran penting: sulitnya menjaga kesinambungan pembinaan. 

Proses pembentukan tim nasional U-16 saat ini dan tim nasional U-19 saat dilatih Indra Sjafrie lima tahun silam sedikit banyak hampir sama. 

Mayoritas pemain tidak datang dari kompetisi liga resmi level junior. Mereka berasal dari sekolah sepak bola dan akademi, termasuk dari akademi waralaba klub-klub Liga Primer seperti Chelsea.

Selama bertahun-tahun, lemahnya pembinaan internal di tubuh klub sepak bola profesional Indonesia menjadi isu bersama. Tak semua klub punya akademi atau kompetisi internal yang berkesinambungan. 

Tim-tim Liga 1 dan Liga 2 lebih memilih merekrut pemain jadi dari klub atau daerah lain ketimbang menggunakan sumber daya pemain muda di daerah sendiri, karena memburu jalan singkat meraih trofi. 

Ikhtiar PSSI untuk menggelar Elite Pro Academy layak dipuji dan ditunggu hasilnya. Namun, metode itu punya kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Hanya klub-klub eks perserikatan seperti Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, Persija Jakarta, atau Persib Bandung yang memutar kompetisi internal yang menyeleksi pemain-pemain berbakat. 

Kendati harus diakui, peluang anak-anak muda itu kian hari kian tipis untuk masuk tim utama di liga profesional.

Pembinaan tim nasional junior seperti timnas U-16 masih mengandalkan pola lama, yaitu pusat pelatihan jangka panjang. Mereka berkumpul dan berlatih bersama dalam jangka waktu lama untuk menghadapi sejumlah turnamen uji coba maupun resmi. 

Sebelum menjuarai Piala AFF di Sidoarjo pada 2013, tim nasional U-19 yang dilatih Indra Sjafrie sudah terbentuk dan bermain bersama sejak usia 16 tahun. 

Bersama selama bertahun-tahun membuat mereka mengenal satu sama lain dan membentuk ikatan telepatik dalam bermain sepak bola menyerang. Hal serupa bisa kita lihat dari timnas UU-1 yang diasuh Fachri.

PSSI baru memulai kompetisi Elite Pro Academy sebagai bagian dari kompetisi berjenjang sejak usia kurang dari 16 tahun pada medio September 2018.

Kompetisi tersebut adalah kelanjutan dari kompetisi amatir U-13 dan U-15 yang diikuti sekolah sepak bola, akademi, maupun sekolah umum. Elite Pro Academy diikuti klub-klub Liga 1. 

Dari situ, diharapkan muncul sumber daya untuk tim nasional secara berjenjang. Sementara itu, timnas U-16 diharapkan bisa menjadi fondasi untuk Olimpiade 2024.

Idealnya, kompetisi berjenjang adalah sarana bagus untuk membentuk tim nasional, dan bukan pusat pelatihan nasional yang memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. 

Ikhtiar PSSI untuk menggelar Elite Pro Academy layak dipuji dan ditunggu hasilnya. Namun, metode itu punya kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Jika hendak diibaratkan, pusat pelatihan nasional jangka panjang adalah sebuah laboratorium sains. Sebagaimana layaknya laboratorium, lingkungan dan kondisi dalam pemusatan latihan jangka panjang bisa diatur seideal mungkin. 

Para pemain muda bisa dibentuk dan didisiplinkan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang sama tentang filosofi sepak bola ideal. Namun, tanpa kompetisi nasional berjenjang yang bagus, pelatih dan ofisial tim nasional harus bekerja keras untuk mencari pemain-pemain berbakat seperti yang dilakukan Indra Sjafrie dulu. 

Risiko terbesarnya, banyak pemain berbakat yang lolos dari pengamatan karena pencarian bakat itu lebih spontan. 

Kisah tukang ojek yang mengantarkan Indra Sjafrie menemukan salah satu pemain andalan timnas U-19 menunjukkan bagaimana pencarian bakat tersebut berjalan acak dan sebagian mengandalkan keberuntungan.

Kompetisi seperti Elite Pro Academy menjanjikan ruang pencarian bakat yang lebih luas dan terstruktur untuk tim nasional. Namun, PSSI dan semua pemangku kepentingan sepak bola Indonesia harus menyediakan iklim kompetisi yang bagus dan ideal. 

Selama bertahun-tahun, sudah menjadi rahasia umum jika kompetisi sepak bola usia dini yang seharusnya menjadi bagian pembinaan diperlakukan seperti sepak bola senior. Ada persaingan demi menjadi yang terbaik, bahkan dengan segala cara. 

Pencurian umur adalah salah satu penyakit kompetisi sepak bola usia dini yang akut di Indonesia. Jadi, jika kita hendak menjadikan kompetisi berjenjang sebagai ikhtiar untuk membentuk tim nasional di semua level, mentalitas dan niat pemangku kepentingan sepak bola mesti diperbaiki. 

Klub harus menyambut kebijakan PSSI itu dengan membentuk infrastruktur pembinaan sepak bola usia dini yang solid. Jika tidak, sepak bola Indonesia akan selalu terperosok dalam persoalan yang sama: gagal menyediakan sarang dan lingkungan yang ideal untuk para Garuda Muda kita agar berkembang.