Sebagaimana kelompok suporter mana pun di dunia, Bonek meyakini bahwa tak ada yang lebih besar daripada klub sepak bola yang mereka dukung. No one bigger than club. Tak ada yang lebih besar daripada klub, dan sepak bola bukanlah pertunjukan satu orang. Ini cerita tentang sebelas orang yang bertarung habis-habisan di lapangan dan ditopang sekian banyak orang yang bekerja di balik panggung.

Namun, setelah kekalahan 0-1 oleh Borneo FC di kandang sendiri, Gelora Bung Tomo, siapa pun patut bertanya-tanya. Benarkah Persebaya lebih besar daripada David da Silva dan Irfan Jaya?

Ada sebelas orang berseragam hijau di lapangan. Menurut data statistik pertandingan yang dilansir Emosijiwa.com, Persebaya menguasai 71 persen jalannya pertandingan. Melepaskan 10 tembakan melenceng dan empat tembakan akurat ke gawang. Namun, tak ada satu pun yang menembus gawang Nadeo Argawinata.

Tanpa ujung tombak David da Silva dan pemain sayap Irfan Jaya, Persebaya bermain tanpa imajinasi, kreativitas, dan tumpul di depan. Pertandingan pekan ke-25 kompetisi Liga 1, Sabtu (13/10), menegaskan fakta bahwa Persebaya hanyalah nama lain dari Da Silva and Friends Football Club atau Persatuan Sepak Bola Da Silva dan Kawan-Kawan. Tanpa Da Silva, Persebaya tak ubahnya butiran debu di Liga 1.

Saat ini Da Silva mencetak 16 gol, terbanyak di klasemen pencetak gol sementara Liga 1. Dia adalah kunci dari skema serangan Persebaya. Tujuh kali Da Silva tak bermain, Persebaya mengalami 4 kekalahan, 1 kemenangan, dan 2 hasil imbang.

Persentase kemenangan Persebaya lebih besar saat Da Silva bermain, yaitu 33,3 persen. Saat dia absen, 57,15 persen pertandingan Persebaya berakhir dengan kekalahan.

Fenomena ketergantungan Persebaya terhadap satu pemain juga terlihat pada Irfan Jaya. Saat pemain asal Sulawesi Selatan itu bermain, Persebaya memperoleh 1,375 poin per pertandingan. Saat dia absen, Persebaya hanya membawa pulang 0,875 per pertandingan.

Da Silva dan Irfan sama-sama memiliki work rate bagus dalam menyerang dan bertahan. Mereka tak segan-segan mundur jauh ke belakang, saat dibutuhkan untuk melakukan pressing terhadap serangan pemain lawan. Irfan menjadi senjata Persebaya untuk membombardir lawan dari sayap.

Sementara itu, Da Silva memiliki kelebihan pada keberanian dan kemampuan menerabas pertahanan lawan sendirian dan sangat oportunistis. Dia juga bisa membuka ruang bagi rekan-rekannya karena pemain lawan terlalu terkonsentrasi pada pergerakannya.

Bermain tanpa Da Silva dan Irfan saat melawan Borneo membuat Persebaya bagaikan buaya kehilangan taring. Trisula Persebaya diisi Ferinando Pahabol, Rishadi Fauzi, dan Osvaldo Haay. Komposisi dan kombinasi trisula itu belum pernah dimainkan selama Liga 1.

Namun, dengan Rishadi di depan, bisa dipastikan Persebaya akan memainkan bola-bola umpan silang dan memaksimalkan kemampuan duel udara pemain yang pernah membela Madura United tersebut.

Mengandalkan Rishadi bukannya tak berisiko. Selama kompetisi Liga 1, pemain bernomor punggung 26 itu kurang bersinar. Dia hanya mencetak tiga gol, jauh di bawah Da Silva.

Sementara itu, di lini pertahanan, Persebaya harus bermain tanpa bek kanan Abu Rizal Maulana yang terkena akumulasi kartu. Alih-alih mencoba formasi tiga bek dan lebih menumpuk pemain di lini tengah, pelatih Djadjang Nurdjaman memberikan kepercayaan kepada M. Irvan Febrianto alias Ambon sebagai bek kanan.

Sebelumnya, Irvan pernah empat kali diturunkan dalam starting line-up untuk menggantikan Ruben Sanadi. Tak satu pun kemenangan diraih Persebaya: dua kali imbang dan dua kali kalah.

Di lini tengah, Pugliara bisa diturunkan sejak menit awal setelah tak masuk starting line-up saat melawan Mitra Kukar dan Arema. Misbakus Solikin dan M. Hidayat ditempatkan menjadi double pivot, sedangkan Pugliara yang memiliki naluri ofensif akan didorong lebih ke depan demi membantu serangan.

Dengan kata lain, Persebaya bisa mengubah formasi dasar dari 4-3-3 menjadi 4-2-4.

Namun, skema tersebut tidak berjalan sesuai harapan Djadjang. Para pemain Persebaya tak bertaji di depan 12.153 pendukungnya sendiri. Pemain memilih menyodorkan bola langsung ke depan dan membiarkan Pugliara serta trisula Rishadi-Pahabol-Osvaldo mengaturnya, daripada membangun serangan dari belakang.

Direct football tak efektif karena pemain Persebaya beberapa kali melakukan kesalahan oper.

Tanpa Da Silva, Djadjang agaknya memberikan peran yang lebih besar kepada Pugliara untuk sesekali menjadi false nine. Beberapa kali pemain asal Argentina itu mendadak sudah di kotak penalti dan bertindak seperti striker, bergantian dengan Rishadi.

Menit ke-6, Osvaldo Haay yang memenangi duel di lini tengah mengirimkan umpan datar kepada Pugliara yang berlari cepat meninggalkan pemain-pemain Borneo. Sebuah tekling mematahkan serangan tersebut.

Namun, kehilangan Da Silva memang sangat terasa. Tak ada lagi pergerakan individu yang penuh keberanian dan sulit dipatahkan yang biasanya dilakukan pemain asal Brasil itu. Praktis, tidak ada ancaman mematikan bagi kiper Borneo Nadeo Argawinata.

Serangan Persebaya pun monoton, mudah terbaca, dan tak berimbang. Ruben Sanadi sangat rajin naik turun membantu serangan dan pertahanan di sisi kiri. Tapi, Irvan memilih tak agresif di babak pertama. Alhasil, serangan lebih dominan dari satu sisi.

Di sisi lain, umpan-umpan lambung dari kiri bisa dipatahkan barisan pertahanan Borneo yang dikomando Renan Alves dan Leonard Tupamahu.

Kendati bermain di kandang lawan, Borneo berani melakukan pressing tinggi. Beberapa kali enam pemain Borneo berada di zona Persebaya. Pressing itu membuat pemain-pemain Persebaya tak nyaman menguasai bola terlalu lama dan memilih lebih cepat mengalirkan ke depan.

Runtuhnya bangunan serangan Persebaya makin terlihat setelah Pugliara ditarik pada menit ke-19 untuk digantikan Rendi Irwan. Tekling dua kaki Wahyudi Setiawan Hamisi mengakhiri petualangannya di Liga 1 musim ini lebih cepat. Otot ligamennya robek dan tulang betis kanannya patah.

“Butuh waktu enam bulan agar bisa pulih,” kata Pratama Wicaksana Wijaya, dokter tim Persebaya, setelah operasi terhadap Robertino Selasa siang (16/10).

Kehilangan Pugliara membuat ketajaman serangan Persebaya kian tereduksi. Borneo justru tampil semakin lepas. Pemain gaek Borneo asal Papua, Titus Bonai, masih jadi ancaman dengan kecepatannya di sisi kiri. Gol Borneo pada menit ke-23 tidak terlepas dari andilnya.

Dia berlari kencang membawa bola dan tak bisa diantisipasi Irvan. M. Hidayat yang mencoba menghadang dalam kotak penalti. Bola menerobos lewat sela-sela kakinya. Titus kemudian melepaskan tembakan yang bisa ditepis kiper Miswar Saputra. Tapi bola jatuh di kaki ujung tombak Borneo, Matias Conti, yang lalu melesakkannya ke gawang Persebaya.

“Gol ini sesuai dengan yang kami latih dan kami persiapkan selama ini,” ujar pelatih Borneo Dejan Antonic.

Absennya Pugliara hingga akhir musim membuat opsi pemain bagi Djadjang kian terbatas. Apalagi jika cedera Da Silva berkepanjangan dan Irfan absen dalam jangka waktu lama karena panggilan tim nasional.

 

Babak kedua, Persebaya meningkatkan tempo serangan. Borneo pun memilih menunggu untuk melakukan serbuan balik. Irvan pun lebih berani keluar dari zona pertahanan dan membantu serangan dari kanan.

Penampilan Rishadi benar-benar buruk malam itu. Kukuh Ismoyo, salah satu Bonek, memberikan nilai 4. Nilai tersebut cukup pantas, jika melihat Rishadi benar-benar tak berdaya. Pada menit ke-65, umpan terobosan dari tengah membuat Rishadi berkesempatan berlari menggiring bola. Namun, diapit Renan Alves dan Tupamahu membuat Rishadi kehabisan bensin.

Lima kali tandukannya di depan gawang, dua di antaranya dalam posisi bebas, tak membuat kiper Borneo bekerja keras. Menit ke-82, Rendi Irwan memberikan bola atas dan Rishadi berada dalam posisi tak terkawal sama sekali. Tapi, bola tandukannya hanya menjadi bagian dari atraksi lompatan ‘nyantai’ Nadeo.

Kekalahan itu membuat Persebaya harus bekerja keras untuk menghindari zona degradasi. Kini dengan nilai 29 pada pekan ke-25, Persebaya hanya terpaut satu angka lebih banyak dari PS Tira yang berada di peringkat tertinggi zona degradasi.

Jika PS Tira memenangi pertandingan melawan PSMS, Persebaya bisa dipastikan turun ke peringkat 15 atau satu setrip di atas zona degradasi.

Sembilan pertandingan tersisa adalah final. Persebaya membutuhkan setidaknya 40 angka untuk lolos dari degradasi. Lima di antara sembilan pertandingan tersebut dimainkan di Gelora Bung Tomo.

Namun, tidak berarti Djadjang Nurdjaman bisa bernapas lega. Sebab, lawan yang dihadapi tak mudah: Madura United, Persija, PSM, Bhayangkara, dan PSIS. Tiga tim pertama tengah berebut peluang menjadi juara. Mereka tentu akan bermain habis-habisan. Dan dengan penampilan Persebaya yang tak stabil di kandang, kemenangan atas tuan rumah bukanlah hal mustahil.

Absennya Pugliara hingga akhir musim membuat opsi pemain bagi Djadjang kian terbatas. Apalagi, jika cedera Da Silva berkepanjangan dan Irfan absen dalam waktu lama karena panggilan timnas, para Bonek harus lebih banyak berdoa.

Sportivitas Bonek dalam menyikapi kondisi Persebaya terlihat setelah pertandingan melawan Borneo. Tak ada lagu-lagu berisi ujaran kebencian dan lemparan benda keras ke arah pemain lawan.

Bonek berupaya naik level dan memperbaiki performa agar tak lagi berangasan dan mudah naik darah. Tinggal menanti respons Persebaya di lapangan hijau: naik level atau tetap menjadi tim medioker hingga akhir musim.