Sebagai seorang kelas menengah ‘ngehe’, salah satu harapan untuk menuntaskan cita-cita mendapat buku-buku impor murah adalah menunggu agenda tahunan, Big Bad Wolf.

Kendati koleksi judul-judul sastra yang kian menipis, serta buku-buku musik dan film yang semakin minim, Big Bad Wolf tetap jadi pengharapan bagi seorang lumpen-proletariat seperti saya ini.

Dan, saya pun rela mengantre sedari pagi demi menjadi salah satu dari ‘golongan orang-orang beruntung’, untuk menilik apa aja sih yang mereka keluarkan di tahun ini?

Berbekal ekspektasi tinggi —karena tahun lalu saya dapat buku The Satanic Verses-nya Salman Rushdie hanya Rp 75 ribu— saya mengira akan menuai hal serupa tahun ini.

Saya pun bergegas pagi-pagi sekali dan hilang ditelan antrean yang mengular sejak pukul 08.00, sedangkan open gate masih kurang satu jam lagi.

Tepat pukul 09.00, satu per satu kaki mulai berderap berjejalan. Beberapa orang berlarian ke arah buku anak. Mungkin mereka terlalu kegirangan.

Saya tidak pernah mengira bahwa bazar buku —yang sakral— kemudian menjadi seperti pasar lelang ikan bajak laut: yang sesama pembelinya saling rebut dan sikut.

Namun, harapan yang saya semai runtuh dalam sekejap. Puluhan orang menyerbu area stan buku anak. Mereka berjibaku untuk mengambil sebanyak-banyaknya buku. Menjejalkannya di troli-troli, kemudian mengumpulkannya di sebuah sisi gedung.

Rupanya, mereka ini adalah agen jasa titip alias jastip. Pantas saja, setelah mengumpulkan banyak buku, mereka mulai memotretnya satu per satu.

Yang lebih mengherankan, mereka juga bersiaga di depan gudang. Begitu sebuah boks tampak diderek, seperti zombi yang tengah kelaparan, mereka mengikuti ke mana pun kotak Pandora itu diletakkan.

Bahkan, sejumlah orang berteriak “Bongkaran! Bongkaran!” begitu melihat petugas akan me-reload buku baru.

Saya tidak pernah mengira bahwa bazar buku —yang sakral— kemudian menjadi seperti pasar lelang ikan bajak laut: yang sesama pembelinya saling rebut dan sikut.

Jatim Expo berubah bak Sungai Amazon. Di mana para jastip dan kroni-kroninya adalah kumpulan ikan piranha yang melahap habis buku-buku dalam waktu kurang dari 30 menit.

Pekerjaan yang dilakukan para jastiper ini terstruktur, sistematis, dan masif. Mereka lebih layak disebut sebagai sindikat.

Mereka telah mempersiapkan tim eksekutor (yang bertugas berebut dan mengincar buku buruan), tim media sosial yang siap sedia untuk live sepanjang hari, serta grup yang berisi para distributor.

Semuanya dipersiapkan jauh sebelum Big Bad Wolf dimulai.

Usut punya usut, setiap hari mereka menargetkan 8 ribu buku yang laku terjual. Modal mereka pun terbilang besar. Setidaknya, ada Rp 500 juta di tangan untuk modal pembelian awal.

Dan goal mereka setiap hari adalah nilai transaksi lebih dari Rp 210 juta, agar mendapat potongan 10 persen.

Kalau dihitung, jika saja mereka memenuhi target 8 ribu buku satu hari, dengan ongkos jasa titip Rp 5 ribu-Rp 10 ribu, setidaknya mereka bisa mengantongi Rp 40 juta. Belum lagi jika transaksi lebih dari Rp 210 juta. Mereka akan mengantongi seburuk-buruknya Rp 60 juta per hari.

“Saya digaji Rp 500 ribu untuk sepuluh jam kerja. Bagian saya adalah terus mencari buku dan memfoto, sekaligus jaga-jaga waktu bongkaran,” ujar Rochmad (bukan nama sebenarnya), salah seorang anggota jastip yang bermarkas di Surabaya.

Bahkan, ada jastip yang turut mengikuti Big Bad Wolf ke mana pun mereka melangkah. Tak hanya di Surabaya, mereka juga ikut hingga ke Jakarta, Bangkok, dan bahkan berencana terbang ke Penang, Malaysia, demi mengokupasi buku-buku.

Yang jadi incaran mereka adalah buku anak-anak. Target mereka pun beragam. Mulai distributor toko buku kelas teri, perpustakaan sekolahan, hingga pembelian pribadi. Yang saya sebut terakhir adalah yang paling kecil persentase pembeliannya.

Pihak yang paling dirugikan dari aksi jastip itu adalah para pembeli umum. Mereka jadi makin sulit mendapatkan buku yang mereka suka.

Jastip kini menjelma menjadi cukong yang memonopoli bazar buku besar itu lewat kuasa simbolis mereka, dengan membawa beberapa massa.

Kalau begini, apakah kita masih punya harapan untuk menuntaskan PR besar bangsa yang bernama minimnya minat membaca?