Kendati tengah memasuki usia yang tak lagi belia, penampilan Om Edi terbilang cukup modis. Pernah pada suatu pagi, dia menggunakan setelan serbaputih. Lengkap dengan topi yang disisipi bulu merak di sebelah kanan serta jaket beludru putih sedikit kusam di panggul kiri. Ia berpapasan dengan kami yang hendak masuk ke Jalan Songoyudan.

Seorang kawan yang juga peranakan Tionghoa menyapa duluan. ”Mau ke mana nih, Om? Ganteng bener. Masih pagi, pesta sudah dimulai kah?” tegurnya.

”Oh enggak, cuma mau anterin tante (istri ke-4, Red.) aja ke rumah saudara. Bagaimana? Gak kalah kan sama Michael Jackson?” celetuknya.

Kami satu rombongan tim liputan pun tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan dia dengan santainya melenggang di depan mata saya, seraya menyalakan satu batang rokok dan menghisapnya pelan-pelan.

Jika tua begini saja masih keren, di masa muda Om Edi pasti merajai pesta dan lantai dansa.

 

Selain cerita-cerita gemilang sebagai tukang pangkas rambut yang sukses, dalam urusan asmara, Om Edi juga menuai keberhasilan. Bagaimana tidak, selama 75 tahun, dia sudah berhasil mengawini gadis-gadis molek di sekitaran Surabaya Utara. 

”Saya ini menikah sudah empat kali. Semua etnis dan agama sudah pernah semua,” katanya memulai cerita.

Istri pertama Om Edi adalah orang Belanda. Tapi, dia lupa namanya. Yang kedua bernama Fatimah. Dia adalah gadis paling ayu se-Ampel. ”Yang ketiga ini yang paling saya sayang. Namanya Sri. Seorang peranakan Jawa. Kulitnya kuning langsat. Tapi, dia sudah meninggal,” kata Om Edi lantas berhenti sejenak.

”Yang keempat baru tante ini. Cino totok. Sama seperti saya,” imbuhnya.

Istri Belanda Om Edi adalah kekasih sejak masa kanak-kanak. Mereka berdua saling menyayangi hingga memutuskan untuk menikah.

Tapi, setelah Belanda kalah dan diusir dari Surabaya, mereka harus berpisah. Sang noni Belanda dibawa bapaknya pulang kampung. ”Saya kejar dia sampai pelabuhan, tapi dihentikan sama tentara tanah air. Dihadang. Sedangkan kapal terus melaju. Persis kayak film-film,” kenangnya.

 

Istri kedua Om Edi adalah orang Arab. Setelah menikah, dia minta rumah. Om Edi menuruti. Saat pernikahan memasuki tahun ketiga dan punya dua anak, Fatimah dan Edi terlibat cekcok.

”Saya minggat dari rumah. Satu bulan. Karena rindu juga sama anak-anak, saya kemudian pulang. Waktu saya pulang, saya bingung. Kok rumahku gelap ya?” tuturnya.

Om Edi cuek saja. Dia menyelonong masuk. Ketika pintu rumah dibuka, dia tambah bingung. Sebab, banyak orang yang tidur di ruang tamu. Waktu Edi menyalakan lampu, semua orang bangun. Edi kaget. Orang-orang juga kaget. Mereka berteriak maling. 

”Kok saya di rumah sendiri dikira maling?”

Edi lantas bertanya kepada yang tidur.  “Kenapa tidur rumahku? Kamu siapa?” katanya. 

”Lho! Aku Ini yang punya rumah,” sahut orang yang baru saja bangun dari tidurnya itu. ”Aku baru saja beli rumah ini dari ibu Fatimah. Kowe iki sopo?” lanjutnya.

Om Edi kaget. ”Saya belikan rumah, dijual. Udah begitu, ditinggal kabur ke Arab. Kurang apes apa coba?” ingat om Edi sambil tertawa.

 

Beberapa tahun kemudian, ia bertemu dengan istri ketiga. Namanya Sri, seorang perempuan Jawa tulen. Om Edi mengaku cinta mati pada Sri. Namun, demam berdarah harus memaksa Om Edi mengikhlaskan cinta matinya. 

”Saya sangat terpukul saat itu. Tiga bulan nangis terus. Shin Hua tutup. Saya nangis aja kerjaannya,” kenangnya seraya buih air mata menggumpal di mata. 

Sekarang Om Edi tak sedih lagi. ”Kalau yang ini galak, gak kayak Sri. Dulu kenal di suatu pesta teman. Tapi sekarang tante ada di Malang ikut anak,” katanya.

”Saya gak mau pindah. Kalau belum meninggal, saya gak mau meninggalkan Shin Hua dan Surabaya,” tutupnya.