Setelah Laskar Pelangi, saya kurang ingat betul. Kapan terakhir saya rela berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan film anak. Ide penceritaan yang mandeg, yang mayoritas hanya berbicara seputar superhero atawa anak-anak yang dikultuskan karena kekuatan supernya yang irasional, adalah alasan terkuat mengapa saya enggan menonton film anak-anak.

Seperti Rafathar The Movie misalnya. Film yang lebih pantas berada di tong sampah, karena jika dikatakan sebagai film anak, orang tua mereka dan banyak orang-orang dewasa menyebalkan lainnya lebih banyak ambil bagian, dan sumbangsi untuk kebudayaan dan pendidikan anak berada pada angka nol besar!

Namun, ada keprihatinan yang mendorong saya untuk kali ini menyelakan waktu demi menyaksikan Kulari Ke Pantai. Selama 10 tahun terakhir, jumlah film anak yang hadir di layar lebar tak lebih dari 15 film saja. Dalam artian, tiap tahunnya kemungkinan anak-anak mendapat tontonan yang layak di ruang bioskop hanya 1,5 kali saja.

Dan selebihnya, adalah film-film yang sepatutnya kita tangisi daripada kita rayakan.

Dan Kulari Ke Pantai hadir sebagai es degan jumbo di tengah industri film anak yang kering kerontang. Kering jumlah dan kering mutu.

 

Dan Kulari Ke Pantai hadir sebagai es degan jumbo di tengah industri film anak yang kering kerontang. Kering jumlah dan kering mutu. Hadirnya nama Riri Riza di balik layar juga menjadi pendukung, dan berekspetasi, bahwa film ini akan mempesona, seperti biasa.

Lanskap keindahan alam Pulau Rote menjadi perkenalan sekaligus perpisahan dalam film ini. Mama Uci, Sam, serta Dewi adalah tiga perempuan bersama melawan dunia. Stereotip bahwa pahlawan dalam keluarga adalah sosok pria yang maskulin runtuh sudah.

Kulari Ke Pantai hadir menenatang rambu-rambu itu secara liris. Perjalanan tiga perempuan tangguh untuk melakukan perjalanan jauh meninggalkan riuh bising Jakarta menuju surga penuh deburan ombak di pantai G-Land Banyuwangi.

Ikhwal perjalanan mereka ke Banyuwangi adalah demi mempertemukan Sam, seorang gadis mungil pecandu ombak, dengan seorang surfer idolanya, Kailani Johnson. Sam dan Happy adalah saudara sepupu.

Namun kultur mereka berbeda. Sam dibesarkan dengan bentang alam raya di Pulau Rote, sedangkan Happy menjadi anak ibu kota yang terbiasa dengan gemerlap pesta. Sedangkan Mama Uci—ibu dari Sam—menjadi penengah di antaranya.

Sebagai perempuan paruh baya yang dibesarkan oleh Jakarta dan melanjutkan hidup di pulau Rote, dia tau betul bagaimana menyatukan mereka.

Namun, lewat perjalanan panjang ini, sosok Happy yang cenderung Jakarta-sentris dapat berubah pasca didera pilihan-pilihan yang mengajarinya arti hidup dan meredam ego.

Sam pun demikian. Dia belajar tentang betapa mengerikan kehidupan anak-anak kota yang dia idamkan. Serta Mama Uci, adalah tokoh sentral yang mengajarkan kedua anak ini untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.

Dani menjadi antitesis anak-anak hari ini yang terpapar post-kolonialis.

Dengan cermat, Riri Riza berusaha menyematkan keburukan gegar budaya lewat hadirnya sosok Dani, seorang Indonesianis dengan tampang ke-barat-baratan. Dilahirkan di Amerika, Dani tumbuh besar di tanah Papua.

Ada suatu dialog yang saya ingat. “Kita hidup di Indonesia e, kenapa mesti berbahasa Inggris? Kalau di Amerika sana saya baru ngomong Inggris, karena disana tra ada yang paham bahasa Papua,” kata Dani yang kemudian disusul gelak tawa.

Dani menjadi antitesis anak-anak hari ini yang terpapar post-kolonialis—begitu bahasa ndakik nya—yang selalu berpikiran bahwa menjadi keren dan modern sama dengan menjadi seorang yang asing, dalam hal ini adalah Barat. 

Sebelum gadget merajalela, sumber pengetahuan kita sebagai anak adalah sejarah tutur.

Saya menaruh perhatian khusus pada sosok Dani ini. Riri Riza menghadirkannya bukan untuk menumpas gegar budaya. Lebih dari itu, dia berupaya melahirkan kembali “sejarah lisan” yang dekat dengan kebudayaan rakyat Indonesia.

Dengan gitar mungilnya, Dani selalu membuka percakapan dengan kalimat, “Di sa punya desa dulu e, ada cerita…” yang kemudian dilanjutkan dengan cerita tentang mitos, mistis, hingga memori-memori masa kecil yang membawa kenangan kita.

Sebelum gadget merajalela, sumber pengetahuan kita sebagai anak adalah sejarah tutur.

Kulari Ke Pantai menurut saya berhasil sebagai film anak. Ada misi-misi penting yang disematkan oleh Riri dan Miles Film. Seiring waktu, kuantitas film berkualitas ini saya yakin bakal berlipat ganda. Hubungan sosial antar anak juga turut membaik seiring kualitas industri yang meningkat.

Meskipun iklan mereka tentang Bank Mandiri, Tolak Angin Anak, dan yang lain-lain cukup mbencekno, Kulari ke Pantai adalah satu-satunya film anak dalam satu dekade terakhir yang mampu membuat aku lari ke bioskop!