Aroma hio atau dupa melabrak hidung sebelum kaki ini berhasil merengkuh beranda depan kelenteng. Cahaya merah temaram dari pendar lilin berwarna serupa berjajar di atas kayu-kayu lapuk yang mengepung saya saat kali pertama berkunjung ke kelenteng di Jalan Dukuh.

Hong Tiek Hian, barangkali sudah berdiri tujuh abad lalu. Tidak ada yang tahu pasti karena kelahiran mereka tidak pernah dirayakan. Yang jelas, pembangunan kelenteng tersebut beriringan dengan invasi pasukan Tar-Tar dari Mongolia di bawah komando Kaisar Bhi Lai Khan.

Kelenteng itu digunakan sebagai tempat pemujaan para pasukan. Mereka hadir di Indonesia untuk melakukan invasi besar-besaran di Kediri dan menyerang kerajaan yang dipimpin Prabu Jayakatwangi.

Ruangan di Kelenteng Hong Tiek Tian memang hampir tampak gelap. Aura magis juga mengikuti di belakang. Untung saya berkunjung saat siang. Bukan untuk beribadah memang. Tapi menyaksikan wayang potehi, pertunjukan wayang khas Tiongkok yang hanya dapat ditemui di kelenteng tersebut.

 

Sejarah kesenian wayang potehi telah berkembang kurang lebih di abad ketiga masehi. Eksistensi wayang potehi hadir di relung-relung budaya masyarakat Tionghoa sejak Dinasti Jin (265–420 M). Potehi tak hadir dari seniman-seniman adiluhung yang bertahta di kerajaan.

Lebih dari itu, potehi justru hadir dari pemikiran seorang pesakitan yang berada di balik jeruji besi seraya menanti hukuman mati yang dilimpahkan kepadanya pada masa itu.

Di penjara tersebut terdapat lima tahanan hukuman mati. Empat orang di antaranya terus bersedih sedangkan satu orang berbeda. Ia berpikir daripada terus bersedu-sedan. Toh, nanti akhirnya mampus juga. Ia memilih menghibur diri sendiri dengan mengambil perkakas seaadanya dan mulai klotekan. Kawan lainnya pun penasaran dan turut ambil bagian.

Dengan beranggotakan lima orang, mereka menciptakan narasi dari dalam penjara dan menghibur narapidana lain. Kaisar pun mendengar dan terhibur dengan kesenian tesebut. Kemudian, mereka diberi pengampunan. Dengan catatan, karya tersebut harus dihadirkan di kampung-kampung rakyat untuk menghibur warga di luar jeruji besi.

 

Potehi sendiri berasal dari kata serapan dialek Hokkian (bukan bahasa), yakni: poo (artinya kain), tay (kantong), dan hie (wayang). Sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut 布袋戯 (baca: Bu Dai Hu) yang secara harfiah berarti wayang yang berbentuk kantong kain.

Orang yang berperan sebagai dalang memainkannya dengan memasukkan tangan ke kain. Wayang potehi terdiri atas dua kata, yaitu wayang dan potehi. Kata itu juga berasal dari bahasa Indonesia dan serapan dialek Hokkian.

Di Surabaya, Kelenteng Hong Tek Hian menjadi satu-satunya tempat yang setiap hari mementaskan wayang potehi. Dimainkan grup Lima Merpati yang diketuai Pak Sekarmudjiono –seorang dalang veteran–, wayang potehi digelar setidaknya tiga sesi dalam sehari. Kok kayak minum obat ya? Ya mungkin untuk kesehatan kebudayaan, itu perlu.

”Awalnya suka nonton permainan wayang potehi di kelenteng ini karena jaman saya dulu kan jarang sekali ada pertunjukkan atau hiburan. Kebetulan, rumah saya dekat sini. Karena sering nonton, akhirnya penasaran cara mainnya. Ingin selalu tahu ada cerita apa hari ini dan seterusnya. Akhirnya diajak belajar sama ncik-ncik yang dulu jadi dalang. Lah kok keterusan,” kenang Pak Sekarmudjiono.

Menyaksikan wayang potehi merupakan suatu bukti bahwa Surabaya sudah bertoleransi dengan etnis lain jauh sebelum Indonesia berhasil mengibarkan bendera kemerdekaan.

Di sepanjang kota tua, banyak serpihan kenangan yang bercecer di jalanan. Memunguti serta menggabungkannya menjadi sebuah montase cantik akan menghadirkan memoria yang menjadi bagian dari sejarah kota.