Konflik sepak bola harus berakhir. Dan jika tidak berakhir, lebih baik sepak bolanya saja yang diakhiri. Masih terus mengingat Haringga Sirila, ditambah para Aremania yang sepertinya tidak punya iktikad baik untuk berdamai, saya rasa sepak bola ini harus segera dihentikan saja.

Agar tidak ada lagi nyawa yang melayang dan tidak ada masalah yang tak kunjung tuntas.

Menengok jauh ke belakang, saya sebagai suporter Persela juga mempunyai kisah kelam. Jauh sebelum kasus Haringga yang menggemparkan itu, Lamongan juga memiliki korban bernama Gilang ‘Inong’.

Cerita itu terus membekas dalam ingatan saya. Seperti tak mau hilang dan seperti hantu, ia datang terus menghantui.

Hari itu, saya berjumpa dengannya di depan Stasiun Lamongan. Saat baru tiba dan masih di atas motor, dia menyapa “ayo nyuwiping (sweeping) Bonek, Mas”. Orang itu tidak asing, orang yang di malam sebelumnya nge-chat saya lewat Facebook untuk menanyakan prediksi pertandingan sepak bola Eropa.

Meskipun kami tidak pernah satu sekolahan, bukan seusia, dan bukan rekan satu tongkrongan, dia tidak asing buat saya. Almarhum sering bertemu saya di tribun timur Surajaya dengan senyum dan guratan tawanya yang khas.

Pada hari itu, entah dapat info dari siapa, begitu cepat beredar di media sosial bahwa akan ada rombongan suporter Surabaya yang berangkat dengan kereta api. Satu gerbong paling belakang akan diisi penuh oleh Bonek Mania.

Sore itu saya langsung menuju Stasiun Lamongan. Sudah banyak teman-teman suporter Persela yang saya kenal dan tidak saya kenal. Begitu kereta datang, tanpa aba-aba, saya bersama yang lain sudah berada di dalam kereta.

Saya dan kawan-kawan yang beratribut LA Mania menyusuri gerbong kereta lewat pintu belakang. Kurang lebih 10 menit di dalam gerbong, kereta tiba-tiba menghentak. Menandakan bahwa kereta segera berangkat kembali.

Seketika itu saya dan teman-teman keluar karena takut kebablasan ikut kereta. Ketika kami sudah berada di luar kereta, terdengar teriakan “Karembo sik nang jero, Karembo nang jero sepur (Karembo masih di dalam, Karembo ada di dalam kereta)”.

Saya kaget, teman-teman pun panik. Yang masih di dalam itu adalah dirigen LA Mania. Orang yang selama 90 menit tidak berhenti memberikan komando dukungan kepada Persela saat Laskar Joko Tingkir bertanding.

Kereta melaju cepat, dengan pintu belakang yang seperti sengaja ditutup rapat. Ternyata benar, di gerbong paling belakang (bahkan dua gerbong paling belakang), banyak Bonek yang tidak menggunakan atribut Persebaya. Yang terlihat dari luar jendela sontak berdiri ketika kereta mulai berjalan.

Tanpa pikir panjang, saya mengejar dengan motor. Karena saya yakin kereta akan berhenti kembali di Stasiun Babat.

Setiba di daerah Plosowahyu (kira-kira 6 km dari Stasiun Lamongan), beberapa warga melihat ada yang jatuh dari kereta. Karena penasaran dan banyak orang berkerumun, saya pun mendatanginya.

Ada seorang manusia tak bernyawa di pinggir rel dengan luka tusuk di leher. Dia mengenakan baju yang tidak saya sangka bakal saya ingat seumur hidup: kaus biru muda bergambar Kadet Soewoko dipadu celana 3/4 warna merah.

Dialah Gilang, teman yang saya temui beberapa menit lalu di stasiun.

Teman saya karena sepak bola, saudara saya karena Persela Lamongan.

Ternyata, yang tertinggal di dalam kereta bukan hanya Karembo. Itulah yang membuat Karembo tertinggal di dalam kereta. Dia bermaksud menyelamatkan Gilang. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Babat dengan harapan melihat Karembo dilepaskan dalam keadaan baik-baik saja.

Sesampai di Stasiun Babat, ternyata kereta tidak berhenti. Kereta melaju cepat ke arah Bojonegoro.

Saya pun memutuskan istirahat dulu di warung kopi sebelum balik ke Lamongan. Bersama teman-teman LA Mania dari Babat yang saya temui di Stasiun Babat.

Saya tidak ingat namanya, juga tak ingat wajahnya. Yang ada dalam pikiran saya saat itu hanya bagaimana nasib dirigen kebanggaan saya.

Setiba di Lamongan, saya mendengar kabar bahwa Karembo tak sadarkan diri dan dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan. Karembo menderita beberapa luka karena benda tumpul dan senjata tajam.

Itu memang masa paling kelam dalam hubungan antara Bonek Mania dan LA Mania. Waktu-waktu yang hampir tidak pernah berhenti membahas kejelekan suporter Persebaya dalam lingkaran pergaulan saya.

Demikian juga para Bonek ketika melihat kami, orang Lamongan. Ketika Persebaya sedang tandang dan melewati Lamongan, banyak orang yang seperti pawai dan keluar rumah. Jalanan penuh dengan orang-orang marah yang hendak menuntaskan dendam.

Dendam masa lalu telah usai. Semangat untuk memberi kabar baik bagi sepak bola nasional terus digelorakan. 

 

Tapi, itu kisah kelam 7 tahun lalu. Yang sekarang mulai sirna oleh berjalannya waktu dan iktikad baik dari kedua pihak. Musim ini, Bonek Mania akhirnya bisa datang ke Surajaya selama hampir bertahun-tahun tanpa sapa.

Laga Persela lawan Persebaya pada 30 Maret 2018 di Surajaya adalah pertandingan pertama di mana suporter Bajul Ijo dan pendukung Laskar Joko Tingkir saling akur. Suporter Lamongan akhirnya juga bisa bertandang ke Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada 5 Agustus lalu dengan sambutan hangat.

Dendam masa lalu telah usai. Semangat untuk memberi kabar baik bagi sepak bola nasional terus digelorakan. Omongan 7 tahun lalu bahwa pertikaian ini tidak mungkin bisa selesai sudah dibungkam.

Salah seorang temanku pernah bilang, ada dua jenis orang apabila melihat temannya meninggal karena perkelahian atau tawuran. Pertama, orang tersebut akan jadi lebih berani. Dan kedua, nyalinya akan hilang atau menjadi penakut.

Saya memilih untuk menjadi orang yang kedua. Orang yang takut melihat ibunya sendiri menangis, takut melihat bapaknya putus harapan karena putra kebanggaannya lebih dulu meninggalkannya. Dan, itulah yang saya lihat dari mata orang tua almarhum Gilang.

Pengalaman ini sebenarnya ingin saya tulis setelah mendengar adanya korban jiwa dari suporter Persija “Haringga Sirila” karena fanatisme buta. Ditambah melihat perlakuan Arema saat melawan Persebaya kemarin, keinginan untuk menuliskan ini jadi kian memuncak.

Permasalahan yang tidak selesai itu terkadang membuat tidur malam saya tidak nyenyak dan obrolan di warung kopi jadi tidak menyenangkan. Tidakkah mereka lihat bagaimana suporter Surabaya dan Lamongan yang telah bertahun-tahun berseteru ini akhirnya bisa bersatu?

Kenapa ditulis sekarang? Karena saya menolak lupa, tapi bukan untuk memelihara dendam. Saya menolak lupa bahwa tidak ada pertandingan yang seharga dengan nyawa.

Teruntuk Bonek maupun suporter lain yang pernah menerima kekerasan fisik dan verbal dari saya, saya sampaikan permohonan maaf. Mengingat kebodohan masa lalu sering membuat saya menyesal, kenapa dulu melakukan hal seperti itu.

Semoga tidak ada lagi korban jiwa, karena seharusnya sepak bola itu membahagiakan. Jika tidak, lebih baik dibubarkan saja. Semoga kita bisa terus seduluran semuanya, suporter Indonesia.