First Man adalah film biografi yang diangkat dari buku dengan judul serupa, First Man: The Life of Neil A. Sesuai judulnya, baik film maupun buku, tentunya menceritakan kehidupan Kang Mas Neil yang kita ketahui sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan.

Film itu diperkuat dengan duo sutradara dan pemeran utama La La Land. Kang Mas Danielle Chazelle sebagai sutradara yang mengantarkan La La Land ke perhelatan Oscar, kali ini sukses ngaduk emosi penonton First Man. Terutama saat pendaratan di bulan.

Mas-mas yang duduk di kursi sebelahku bahkan sampai bangkit, megangin pipi dan berurai air mata di adegan tersebut. Emosional banget!

Tentunya itu juga berkat akting ciamik dari Kang Mas Ryan Gosling, aktor yang dipuja cewe-cewe pencinta drama, khususnya The Notebook.

Neil belum bisa move on dari kematian anak cewenya, Karen. Karena itu, keputusan yang diambil Neil terlalu berani dan cenderung cari mati.

Yang dihadirkan di First Man pun bukan sekadar kisah perjalanan Neil dalam kokpit Apollo-11 sebelum mendarat di bulan yang dibumbui drama mendebarkan ala-ala Gravity-nya Sandra Bullock.

Jauh dari itu. Adegan peluncuran Apollo-11 dan pendaratannya di bulan justru menjadi final act dari First Man, hanya dihadirkan pada sekian menit terakhir.

Bisa dibilang, sebenernya First Man tak sekadar menceritakan perjalanan karir Neil Armstrong dan kehidupannya sebagai astronot yang bikin istri ketir-ketir terus–karena bisa mendadak mati gitu aja.

Cerita utama yang paling kerasa malah bagaimana Neil yang belum bisa move on dari kematian anak cewenya, Karen. Karena masih susah move on inilah, kadang keputusan yang diambil Neil terkesan terlalu berani dan cenderung cari mati bagi Jan, istrinya.

Ya sudah, jelasnya ada ribut-ribut kecil rumah tangga. Tapi bukan yang njembeki. Wong permasalahannya malah sweet, kok. Yakni rasa cemas, khawatir orang kesayangannya ga pulang lagi ke rumah.

Kebalikan banget ama orang zaman sekarang yang kadang malah berharap bojone gak usah muleh ae, terus dikancingi turu njobo.

Neil bukan astronot yang wah sebenernya di NASA. Meski begitu, bisa dibilang dia adalah astronot yang penuh perhitungan. Maklum, dengan latar belakang sebagai engineer, tentunya pola pikir demikian tetep kebawa terus.

Dan memang, dalam peluncuran penuh risiko gitu, pasti mereka butuh orang kayak Neil yang bisa cak-cek kalo ada masalah.

Gak cuma dari sisi kehidupan astronot dan dilema keluarga, bahkan keadaan politik dihadirkan dengan baik di First Man. Terutama persaingan Rusia dan Amerika dalam penjelajahan luar angkasa pada saat itu.

Rusia yang awalnya terus di depan bikin Amerika jembek. Amerika akhirnya sok bikin terobosan, yang ndilalah coba disaingi ama Rusia juga. Pendanaan untuk persaingan itu ga murah, ya. Banyak rakyat Amerika yang protes juga karena kelaparan.

Pendaratan Neil di bulan-lah yang akhirnya mengakhiri sementara persaingan penjelajahan luar angkasa antara Amerika dan Rusia.

Ya, meski setelah pendaratan Neil tersebut, masih banyak yang mengingkari keberhasilannya dengan bilang itu hanya hoax bikinan Amerika. Beberapa tahun lalu, malah sempat beredar isu bahwa foto pendaratan di bulan itu sekadar foto di studio.

Alasannya sih, kalo bener mendarat di bulan, siapa yang motoin?

Kesian yang percaya ama isu itu, karena mungkin ga ngerti kalo Apollo-11 dilengkapi kamera juga. Maklum, sok skeptis tapi sedikit tahu, ya gitu deh jadinya.

Kalo dulu males baca, bisa coba tonton First Man ya, Mas Mbak yang percaya isu itu. Keliatan kok kalo ada kamera di Apollo-11. Kamera itulah yang akhirnya bikin gambar buat bukti pendaratannya Neil Armstrong sama Buzz Aldrin.

First Man adalah film biografi dari Neil Armstrong. Film yang menceritakan perjalanan karir astronot era 60-an dan juga film keluarga dengan pemeran utama seorang bapak yang belum move-on dari kematian anak cewenya.

Ritme film tersebut cenderung lambat, jadi mungkin membosankan bagi yang suka nonton film jedar-jedor ala James Bond.

Sama seperti Interstellar, film itu membagi penonton menjadi dua kubu yang langsung berlawanan. Kubu pertama tentunya yang mengerti dan menganggapnya bagus.

Dan, kubu kedua pastinya yang ga paham apa-apa dan cuma ngerasa bosen luar biasa selama 144 menit.