Hae…Driver keren nan ca’em is back, sauwdaraqu…

Oke langsung aja dilanjut ya ceritanya. Iya. Lho cerita sebelume ndek mana? Ndek sini, cong:

Tita On The Road: Jadi Tamu Gadungan di Pesta Pernikahan (3)

Well…

Setelah huru-hara yang ternyata tidak huru apalagi hara di Sampang tadi, menyebabkan kami tiba di Pamekasan hampir Maghrib.

Cahaya mentari meredup sudah. Gelap merambat, ditambah sedikit gerimis. Akibatnya, mata saya yang sepertinya menua lebih cepat ketimbang wajah saya ini, mesti meriyip agar bisa fokes melihat jalanan.

Tak hanya itu, gerimis juga membangkitkan hantu kenangan nyang berjudol pengkhianatan kamu di masa lalu. Eaaaa…

Lho lampu mobil apa ndak cukup menerangi jalanan dan hatimu? Ya akan cukup andai saja di sepanjang jalan yang kami lalui, bergandulan lampu-lampu penerang. Lha ini endak je.

Kala itu, tak ada seekorpun lampu pencerah gulita jalanan sehingga membuat gundahqu semangkin gulana.

Belum lagi jika diharuskan menangkap pendar lampu dari mobil yang berlawanan arah. Rasa perih sontak menyergap sepasang mata indah ini, lalu ia auto berkaca-kaca. Kayak pas ngga sengaja ngliat gebetanmu lewat sama gebetannya. Gandengan tangan pula.

Bisa dipastikan, rasa nyerinya akan langsung cuzz njujug ke ulu hati. Tapi gapapa. Namanya juga hidup. Kadang perih, kadang juga perih banget.

Oke lanjut.

Saat saya sedang asheek mashook berenang dalam kubangan kenangan bersama ia yang telah ninggalin saya demi rabi dengan wong liyo, Lisa ndleming.

Tita, aku baru ingat kalo emakqu berpesan agar aqu mampir ke sefruit place named The Eternal Fire. Bliauw bilang, lokasinya ndek Pamekasan. So you have to take me there.

What? Me? Have to?

Oke saya tahu ini perintah. Tapi sayanya tep kudu (iseng) mengupayakan agar engga mampir-mampir again. Siapa tau upaya kali ini berhasil. Semangat.

Do i have another choice, like…ummm to say no? Sumenep’s still about 60 km more to go. Artinya sekitar 2 jam lagi kita baru akan tiba ndek sana jika aqu nyetirnya glenak-glenuk. Do you know about it, Rukayah?

“Of course… (aqu tahu sebab akqu bukan tempe sepertimu). But you have to mematuhi perintahku. Kow harus membawaku ke Api Tak Kunjung Padam yang konon nyala apinya abadi (sama seperti kebodohanmu).”

Bhaique, Lisa. Bhaiiiqueeeee…

Sabar buk. Sabar. Okesiap.

Lalu sayanya (lagi-lagi ndak punya pilihan selain) mengendorkan tekanan jempol kaki ke pedal gas sembari tingak-tinguk, mencuba mengaktifkan fitur GPS versi terbaru yaqni Gunakan Penduduk Sekitar agar sampai ke lokasi Api Tak Kunjung Padam dengan selamat dan saksez.

Beberapa menit kemudian, alat pendeteksi calon korban (baca:orang yang bisa ditanyai) pun semacam berbunyi. Ada seseibu berdiri di kiri jalan sambil membawa nampan, seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk menyeberang jalan.

Bentar bukk pliss jangan nyebrang duluu, tunggu aqu dataaang…!

Sekejap kemudian,

Chiittttttt itt itttt (bunyi rem menggerus jalan-pen).

Mobil saya hentikan tepat di depan si ibu yang nampak terjegagik. Saya membuka jendela depan, tepat di sisi Lisa.

“Boabooooh kaget sayyaaaa dekkk…” reng Madura asli nih si ibu, logatnya terdengar medhog sangat. Yakalik elu emang lagi di Madura bukan lagi di Enggrez, nah Markonah.

“Bu, permisi jangan nyebrang dulu. Saya mau tanya-tanya. Tapi saya tak meminggirkan mobil dulu bentar ya bu? Ya?”

Setelah berhasil menepikan mobil, saya turun. Menghampiri si ibu.

“Dhe’remma, dek?”

“Permisi, gini bu, tunjek poin aja ya bu. Lokasi Api Tak Kunjung Padam tu dimana bu?”

“Oooo masih ke sana, dek. Sampeyan muter, balik sana lagi. Nanti kiri jalan ada pengkolan, liatin aja. Jangan belok. Adek terus aja. Nah, nanti kanan jalan bedeh tiang listrik yang ada tulisannya Api Tak Kunjung Padam. Adek ikuti aja itu tanda panahnya.”

“Masih ke sana? Berarti maksudnya saya kebablasan gitu bu? Bener masih ke sana bu?”

Saya bertanya sembari menjulurkan tangan saya ke arah yang berlawanan dengan moncong mobil.

“Iyee…”

Bhaique. Saya menelan ludah. Ada kayak gemes-gemesnya dikit gitu sama si ibu. Wq~

“Mator sakalangkong, bu..”

Sayanya kembali ke mobil. Untuk kedua kalinya pada hari yang sama, saya puter balik.

Dan di bawah keremangan sinar rembulan namun tak seindah gemerlap bintang, finally sayanya menemukan tiang listrik yang dikatakan si ibu.

Saya masuk ke gang yang jalannya gembronjal, mengikuti papan petunjuk yang santai bersandar di bahu tiang listrik.

Setelah kurang lebih 700 meter, kami sampai ke lokasi.

Oalahhh ini to…

Bayangan saya sebelumnya tu lokasi ini suasananya syahdu mendayu. Tetapi engga, sauwdaraqu. Saat itu, yang terlihat di sekeliling adalah kesemrawutan yang disebabkan oleh bangunan (yang mungkin adalah) rumah penduduk dan juga toko buah juga toko souvenir.

Sampah juga banyak yang tidak berada di tempatnya.

Kami turun setelah saya memposisikan mobil dengan tidak benar seperti yang dimaui bapak tukang parkir.

“Tulung fotoken, Tit. Mo qu kirim ke emakqu sekarang juga.”

Shiap bosque.

 

And mengutip cerita yang disampaikan oleh sesebapak tukang parkir bahwa pagar besi yang ditancapkan mengelilingi api itu bukan bertujuan untuk menghukum api karena apinya sering keluyuran diam-diam kek kamu yang demen pergi ke dugem. Bukan.

Pagar besi itu dipasang berkeliling sebagai penanda bahwa titik-titik sumber apinya berada di area tanah yang di dalam pagar. Ada 50 ekor titik api bersemayam ndek sana.

Kata si bapak, jika tanah di dalam pagar digali, maka nyala api akan semakin besar. Tapi entah why, warga tak bisa menciptakan titik api baru, meski di dalam area pagar. Jadi jumlah titii apinya ya ndak akan bertambah.

Dan ini api beneran tak kunjung padam ya sauwdaraqu meski diguyur dengan air. Hanya hujan lebat yang dikawani oleh angin topan yang sanggup memadamkannya. Itupun untuk sekejap waktu saja.

Setelah hujan reda, api akan perlahan kembali menyala. Begitulah. Ia abadi. Ia memang padam ketika diguyur lebatnya hujan, namun tak akan lama. Tak jauh beda seperti aku. Kow jatuhkan, aku bangun. Kow jatuhkan lagi, aku bangun lagi.

Oke curcolnya cukup.

Malam itu, suasana riuh oleh bakul yang mengajak kami mampir ke lapaknya dan…kami pun tergoda. Kami pun masuk ke beberapa toko.

Karena memang mungkin tak membaca atau ia telah membaca tapi tak ingin mengabulkan harapan pemilik toko, Lisa tak melepas sandalnya.

Ketika kami keluar dari toko tanpa membawa belanjaan karena ya penjaganya tadi cuma nyuruh masuk dan lihat-lihat tanpa menyuruh beli, datang seekor mobil Elf.

Ia membawa rombongan adek-adek yang setelah mereka keluar dari mobil, mereka tampak lebih girang melihat Lisa ketimbang melihat keabadian api.

“Bu, boleh foto bu?” seseanak cewe seusia putri kedua saya, dengan tak malu-malu menghampiri saya.

“Foto sama teman bule saya? Boleh dong. Tapi ada syaratnya. Satu aja: jangan panggil saya bu ya. Saya masih embak-embak, dek.”

Dan setelah mereka (terpaksa) menyepakati syarat yang saya ajukan, saya abadikan gambar mereka.

And look, mereka tampak gembira berfoto dengan latar belakang WC UMUM  10 meter.

 

Eh eh…kami juga makan jagung yang dibakar di atas bara api abadi loohhhh…Walo rasa jagungnya ga jauh beda sama jagung bakar pada umumnya sih yha…tapi sensasi jongkok hingga kaki pegal nungguin jagung mateng tuh emejingnya kebangeten ghaess.

Cobain deh kalo ga caya.

Setelah jagung habis, kami pun pergi. Meninggalkan keabadian.

And kow mau mampir kemana lagi Lisa habis ini?”

“Ga ada. Cuzzz go to Sumenep.”

“Maukah kow berjanji padaqu Lisa bahwa kita ga akan mampir-mampir lagi?”

“Iya. Janji…”

Lalu kami tidak berpelukan dan hidup bahagia sepanjang perjalanan menuju Sumenep.

Estimasi saya, 1 jam saja akan sampai di Sumenep. Tapi… 

Jempol saya sudah pegal. Sampai jumpa di part five ya sauwdaraqu.

Bhayyy

*dadah-dadah