Bulan purnama Sumobito menggantung tepat di atas kami. Tidak ada arak-arakan awan yang berarti, langit gelap cerah. Asap rokok membubung di udara, dihembus Jamaah Maiyah.

Tidak harus keretek Dji Sam Soe seperti merek rokok Cak Nun. Berpak-pak mereka membawa Surya, Mild Menthol, bahkan rokok obat khas Jombang. Toleransi dan kebebasan sudah ditekankan Maiyah, bahkan dari pilihan jenis rokok.

Ini pulalah yang membuat jamaah datang dengan kostum beragam: topi abang, peci biasa, topi Slank terbalik, atau beanie. Memakai sarung, jins bolong robek-robek, atau chinos.

Memakai busana muslim, kemeja flanel grunge, atau kaus Persaudaraan OM Monata. Untuk jamaah perempuan: memakai kerudung, rambut ikat kuncir kuda, atau terurai. Semua membeludak, bercampur jadi satu.

Tidak ada yang salah kostum, tak ada aturan kostum yang baik dan buruk. Bahkan, tidak ada aturan yang membedakan tempat jamaah laki-laki dan perempuan. Seluruhnya bercampur lebur tapi saling menjaga.

“Di Maiyah setahuku nggak pernah ada ribut-ribut, kriminal, atau pelecehan. Aman-aman gini aja, santai,” kata Rio Bagus Leonardo, Jamaah Maiyah yang kebetulan duduk di sebelah saya.

Pada awal perkenalan, Rio membuat saya keder. Dia adalah fanboy Maiyah sejati yang mengikuti Cak Nun di mana pun beliau tampil. Sikap militan membawanya jauh-jauh dari Malang menuju Jombang, hanya demi menghadiri Maiyahan.

Beda dengan saya, anak kemarin sore yang baru pertama kali menghadiri Maiyah.

Mata Rio memerah setelah tiga jam perjalanan motor dari Malang menuju Sumobito. Tapi, Rio yang mengaku berkuliah di Universitas Brawijaya mendapat angin segar dan kepuasan saat Kiai Kanjeng memainkan nomor pembuka.

“Paket lengkap, nih. Kiai Kanjeng full. Cak Nun sama Cak Fuad juga dateng,” ujarnya.

Menurut Rio, Jamaah Maiyah tidak selalu bergantung pada Cak Nun. Terkadang, meskipun beliau tidak datang, jamaah tetap melanjutkan ngaji bareng.

Bisa dipandu Cak Fuad atau Sabrang, vokalis Letto, yang memimpin jalannya Maiyah. Tapi, malam ini Maiyah Padhangmbulan menghadirkan paket lengkap: Cak Nun, Cak Fuad, dengan iringan Kiai Kanjeng.

Sebagai kajian pertama, saya merasa beruntung.

***

Acara Maiyah selalu dibuka dengan Ummul Quran, salawat, ayat Kursi, tahlil, pujian dan diba nabi. Itu diikuti dengan syahdu oleh seluruh Jamaah Maiyah. Termasuk Rio yang saat ini memejamkan mata merahnya, berdoa dengan khusyuk.

Saya melihat fenomena doa bersama itu sebagai sarana persatuan yang ajeg. Visi-misi besar dilempar dan diamini seluruh jamaah yang hadir.

“Baiklah, kita mulai Maiyah malam ini. Sebelum itu, kita bersama-sama siapkan kuda-kuda berpikir kita. Ini bukan majelis ilmiah dan kampanye politik, tapi ajang berpikir,” ujar Cak Arifin yang bertindak selaku pembawa acara.

Setelah beberapa nomor yang sedikit psychedelic dan hardrock dilempar Kiai Kanjeng, Cak Nun datang dan duduk bersila. Mengenakan pakaian putih dan topi abang, Cak Nun disambut riuh oleh Jamaah Maiyah.

“Maiyah itu universitas. Lehmu mlebu lewat endi wae monggo (lewat mana pun kamu masuk, silakan saja). Ini karena di dalam kebersamaan Maiyah, kita diajak untuk tidak terjebak berpikir fakultatif,” ujar Cak Nun, mengawali ngaji barengnya.

Saya yang sudah mengalami vibe Maiyah secara langsung tersihir dengan aura kebesaran beliau. Suara besarnya yang khas, serta penjelasannya yang berpadu antara bahasa Indonesia dan Jawa, membuat pesan-pesannya begitu membumi.

Beberapa guyonannya juga langsung ditanggapi riuh masal. Bukan hanya itu, di setiap kajian Maiyah, Cak Nun kerap melibatkan penonton ke atas panggung. Mereka diajak berdiskusi, berpikir, dan guyonan bersama.

Seperti sesi gimmick di acara live televisi, malam ini Cak Nun mempersilakan penonton untuk maju. Tapi bukan untuk berdiskusi seperti biasanya, melainkan konsultasi penyakit.

“Inilah senengnya nonton Cak Nun, lewat langsung atau streaming live. Selalu nggak ngebosenin, lucu, seger. Ada aja yang dilakuin tiap Maiyah. Semuanya enggak terduga. Kejutan. Moro-moro spontan, lucu, nggegek,” kata Rio.

Sekitar enam orang terpilih maju untuk mengonsultasikan penyakitnya. Cak Nun kebetulan membawa ahli kesehatan perempuan dari Kupang, Surabaya, yang bisa memberikan solusi kesehatan. Ramuannya sederhana dan kadang hanya dibantu khasiat herbal.

“Saya batuk darah setiap pagi,” ucap seorang penonton yang maju ke depan. Jamaah Maiyah tertawa sekenanya dan berteriak clometan.

Bahkan untuk masalah seserius watuk getih, Jamaah Maiyah begitu guyub dan kompak menganggapnya guyonan. Begitu pula Cak Nun.

“Saya juga kadang kalau pagi lemas,” tambah penonton itu.

“Mungkin awakmu butuh jodoh,” sahut penonton lain dalam kerumunan.

Tapi, si ahli penyakit memberikan saran yang serius.

“Kamu banyak pikiran, nggak bisa tidur nyenyak. Usahakan bercerita kalau ada masalah, jangan dipendem sendiri. Nanti stres. Malah jadi penyakit.”

Bahkan, penonton tertawa-tawa saat mendengarkan petuah serius. Saya makin yakin bahwa sisi yang membuat ketagihan dari Maiyah adalah guyonannya.

Tidak terduga, clometan get-getan, slapstick, cenderung ngawur dan spontan. Di posisi ini, saya berjanji akan mendatangi Maiyah lagi. Tidak akan kapok. Terus ketagihan. Ini jadi titik balik saya sebagai medioker untuk terus mengikuti kajian tersebut.

“Eh, tapi kalau ngerokok enggak apa-apa kan, Buk?” tanya si penonton.

Dari situ, emosi penonton memuncak. Tertawa deras.

Guyonan yang ditambahi topik soal rokok, mungkin selalu jadi isu penting saat pengajian Mbah Nun —yang dikenal pro-keretek dan selalu mendidik jamaahnya agar kritis pada semboyan ‘merokok membunuhmu’.

“Enggak apa-apa ngerokok, asal jangan berlebihan. Jangan takut juga pada makanan apa pun. Toh hidup cuma sekali, konsumsi apa saja yang Sampean pengen,” jawab si ahli herbal.

Petuah itu ditanggapi dengan tepuk tangan meriah. Bahkan, beberapa jamaah langsung membakar rokoknya, menghabiskan satu pak tanpa peduli apa pun. Isu merokok dan Cak Nun selalu ditanggap dengan meriah.

“Kalau begitu saya boleh nyuwun rokoknya Cak Nun, nggeh?” Pertanyaan tersebut sontak membuat jamaah dan Cak Nun tertawa terbahak-bahak.

“Awakmu iku arep njaluk rokok ae pura-pura loro barang,” ujar Cak Nun sambil memberikan satu batang Sam Soe-nya.

“Wes, wes. Emang nang Maiyah iki onok ae kejadian.”

***

Saya pulang sambil menahan dingin. Pukul 04.00, Maiyah Padhangmbulan berakhir. Saya belum bisa dan tidak akan bisa menyimpulkan apa pun. Perjalanan Maiyah ini masih panjang, bahkan tidak tampak tanda-tanda akan berakhir.

Masih ada kota lain, masih ada pembahasan lain, dan ada keseruan lain. Tapi, yang bisa saya pastikan: Maiyah sedikit mengingatkan saya pada alam akhirat dan Tuhan.

Terlalu dini untuk bisa dibilang hidayah, tapi setidaknya Maiyah mengingatkannya.