“Kata Surabaya dan panas memang kerap kali bersanding, seperti kamu dan dia yang sudah bersanding. Susah untuk dipisahkan,” ujar Mifta Iskandar, pentolan DNK.ID, sambil ngemut Pocky Strawberry.

“Tapi hari ini tumben-tumbenan langit Surabaya berselimut awan mendung. Jadi kayaknya agak serem kalau aku terus-terusan denger black metal.

Karena enggak ada yang biasa diajak kemulan bareng, mending aku memutar playlist Fourtwnty sealbum,” tambahnya.

Saya yang baru tersadar kalau awan sore ini benar-benar gelap, akhirnya dengan tabah harus menelan semua yang Mifta obrolkan. Termasuk beberapa playlist lagu dan buku, yang dia rekomendasikan sebagai konsumsi ringan menjelang datangnya rintik hujan.

Semua di bawah ini adalah rekomendasinya.

Playlist Berirama Syahdu Lagi Sendu

“Mungkin ada benarnya ungkapan anak Twitter, kalau hujan itu terdiri dari 1% air, 99% kenangan,” ujar Mifta.  “Ini karena hujan membawa suasana hati mengingat kenangan manis.

Langit kelabu, berselimut udara dingin, ditambah suara ritmis rintik air, menjadikan suasana sendu yang kaffah,” tambahnya.

Saya mengangguk-anggukan kepala, pura-pura mengerti. Mifta kemudian membuka koleksi Spotify bajakannya, dan langsung memutarnya.

– Efek Rumah Kaca – “Desember”

“Lagu ini bernada selow, tidak seperti kebanyakan lagu ERK yang lain. Di dalam liriknya juga banyak pakaii kata hujan. Lagu ini sangat cocok menemanimu bergalau ria, sambil goler-goler di atas kasur,” ujar Mifta berlagak seperti pengamat musik amatir.

– Banda Neira – “Hujan Di Mimpi”

“Meskipun sudah bubar 2016 lalu, lagu Banda Neira memang selalu pas didengarkan.  Liriknya lumayan puitis, alunan melodinya juga meneduhkan.

Cocok didengarkan sambil menyeruput Indomie kuah dicampur telur,” kata Mifta sambil mengambil dua bungkus Indomie original dari kardus. Lalu terdengar suara jerengan air.

“Kalau diselami, lirik “Hujan Di Mimpi” bisa membuat kita semakin baper. Apalagi kalau kamu jomblo stadium A, liriknya membuat kita mendadak utopis dan membayangkan areknya menggamit jari-jemari kita,” tambahnya.

Saya sebenarnya tidak peduli-peduli amat celotehan Mifta—dan gelagat ini kemungkinan besar dicium olehnya.

Selanjutnya sambil menunggu jerengan air matang, Mifta memutar lagu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mendung dan hujan. Mungkin untuk menggugah ketertarikan saya.

“Riders On The Storm” dari The Doors mengalun remang di udara enam sore.

Buku-buku Receh dan Hot

Mifta semakin menjadi dan kemudian memamerkan koleksi buku-bukunya. Dia memilih sejumlah nama pengarang yang dikenal karena produktivitas karya sedihnya.

“Tingkat kemenyean seseorang akan meningkat saat hujan turun, karena itu membaca buku bertema romansa atau menye, bisa memberikan kenyamanan,” ujarnya.

Berikut pengarang rekomendasi Mifta.

– Aan Mansyur

Saya sedikit lupa celotehan Mifta akan penulis satu ini. Tapi buku Mas Aan yang “Melihat Api Bekerja” memang luar biasa direkomendasikan. Dengan pengantar oleh Suhu Puisi Pak Sapardi Djoko Damono, buku ini memberikan kita puisi yang panjang—sepanjang kenanganmu.

Kebanyakan berbentuk seperti prosa dengan hawa-hawa sendu dan murung. Mifta mengaku biasa memakai bait-baitnya untuk menggombali perempuan, tapi kebanyakan perempuannya tidak bisa menangkap dengan mudah makna dan esensinya.

Karena itu hanya ada dua opsi yang bisa dilakukannya: mencari perempuan baru atau berhenti menyukai perempuan.

– Fiersa Besari

Saya malah tidak ingat sama sekali saat Mifta berceloteh apapun soal Fiersa Besari. Kebanyakan Mifta memakai kata ‘manis’, ‘rindu’, ‘galau’, dan taek-taekan lainnya.

Saya bahkan tidak mengerti untuk apa Fiersa Besari diciptakan selain untuk memberi jaminan kalau segala konflik dalam hubungan akan baik-baik saja.

Bait-bait novelnya atau puisinya atau tweetnya atau apanyalah itu, membuat Mifta berani menatap masa depan, meskipun hujan badai sedang deras-derasnya. Membuatnya nekat merengkuh cintanya, bahkan tanpa memakai payung sekalipun.

– Boy Chandra

Saya sebenarnya ingin skip bagian ini. Tapi Mifta memaksa saya untuk terus menuliskannya. Dan dia terus mencekoki saya kalau Boy Chandra adalah novelis terbaik sepanjang kata galau ditemukan.

Saya dengan tabah hanya mengangguk-angguk sopan, dan segera ingin pergi dari ruangan ini.

– Freddy S.

Saya memutuskan untuk segera pamitan dari Kantor DNK.ID saat Mifta mulai bercerita soal koleksi novel Freddy S-nya yang menggunung.

Mifta dengan fasih bercerita adegan dalam novel stensil “Bercinta Dalam Gelap,” dan mengulang-ulangi adegan mengerang dan merintih dengan penuh penghayatan.

Saat Mifta merem melek sambil membayangkan kenyalnya Indomie sebagai pipi seorang gadis, saya memutuskan untuk langsung keluar ruangan secara tidak sopan, tanpa berpamitan.