“Tuhan kalah di riuh jalan” bisa jadi merupakan bait lirik terbaik yang pernah dihasilkan scene Surabaya beberapa tahun terakhir. Silampukau mendokumetasikannya dalam balada epic Malam Jatuh di Surabaya.

Saya sempat menonton konser tunggal Silampukau beberapa waktu silam di Cak Durasim. Lagu ini berhasil terngiang-ngiang terus bahkan sampai hari ini. Terkhusus untuk bait Tuhan Kalah di Riuh Jalan.

Mari kita bongkar betapa magisnya larik ini dengan pembahasan amatir ala-ala anak yang baru membaca Zarathustra (aku baca tiga kali dan setiap membacanya selalu menemukan pandangan yang berbeda-beda).

1. Versi Agamis

Tuhan adalah zat yang kekal. Tidak bisa mati. Tidak terkalahkan. Konsep ini tidak bisa dibantah karena apabila kita menyangkalnya, eksistensi kita sebagai manusia ciptaan Tuhan musnah dan hancur dengan sendirinya.

Alhasil kalau dihubungkan dengan larik Tuhan Kalah di Riuh Jalan, mungkin hasilnya adalah ketiadaan jalan dan bahkan kita sendiri. Saat Tuhan kalah, musnahlah alam semesta.

2. Versi Agak Filsafat Jerman

Sebagai pembaca filsafat amatir yang sempat mendengarkan dengan serius lagu Forgotten Tuhan Telah Mati, saya tentu tidak kaget dengan larik semacam ini. Tuhan kalah lhah wong kita yang mengalahkannya sendiri. Sengaja dilupakan.

Ini pendapat yang dianut Nietzschean (ehm meskipun Nietzsche sendiri pernah berkata kalau dirinya enggak butuh pengikut karena pengalaman tiap orang pada filsafatnya pasti berbeda dan enggak bisa disamaratakan).

3. Versi Marx

Membahas Marx tidak bisa dipisahkan dari bagaimana sistem ekonomi membuat kita sebagai manusia merasa terasing dari apapun. Terbuang sejauh-jauhnya. Termasuk dari aspek kontemplatif dan religius.

Tuhan Kalah di Riuh Jalan dalam konteks ini adalah soal bagaimana manusia-manusia pekerja memperlakukan diri mereka. Terpaksa berangkat pagi pulang petang. Dihadang macet dan bus dengan slogan “Naik Bus Biar Kurangi Macet” yang malah bikin semakin macet.

Saya memang belum menyentuh kitab Das Kapital, tapi secara garis besarnya, kalian tentu paham maksud saya.

4. Versi Pekerja Nine To Five Tanpa Tendensi Apapun

Simpel saja. Larik ini menggambarkan manusia-manusia yang kejebak macet saat adzan Maghrib, dan baru sampai rumah di waktu Isya. Tuhan dalam konotasi ini adalah adzan. Lah tapi gimana kan lagi macet. Ya bisa mampir masjid sih tapi… tapi… ya begitulah.

Saya sih lebih setuju tafsir sederhana semacam ini. Wong Silampukau sendiri dibentuk juga atas dasar kesederhanaan. Iya nggak Mas Kharis? Mas Eki?

5. Versi Kalian

Tentu saja semua versi yang saya paparkan di atas bisa saja salah. Bisa juga dianggap guyonan. Remeh temeh. Sok-sok main filsafat. Sistem ekonomi bla-bla-bla. Memang iya hehe.

Kalau begitu begini saja: ciptakan versi kalian sendiri. Caranya?

Keluarlah menuju Jalan Ahmad Yani, pukul lima lebih dikit. Kalian akan dengan suara adzan sayup-sayup bersahut-sahutan dengan suara klakson mesin dan umpatan. Sampai kalian sadar ketika sampai tujuan: ternyata malam memang telah jatuh di Surabaya.