Hari ini saya tidak bergairah melakukan apa-apa selain kembali ngebo dan masa bodo. Meskipun beberapa feed dan posting-an teman-teman di medsos ramai membagikan berita soal Ansor versus HTI.

Kebetulan, saat ini saya berada di Jombang, kota di mana Ansor dan Banser lebih berperan ketimbang polisi. Saya menginap di rumah salah seorang mantan anak punk Jombang yang sekarang gemar mengaji NU.

Daerah rumahnya adem ayem, sangat kontras dengan suasana panas di medsos busuk yang menggembar-gemborkan ricuh Ansor lawan HTI.

Kebetulan juga, subuh tadi saya baru selesai mengikuti acara Maiyah Padhangmbulan di Jombang dengan formasi lengkap: Cak Nun, Cak Fuad, dan seluruh personel Kiai Kanjeng.

Kabar konflik Ansor HTI, yang ditambahi bumbu-bumbu komentar orang pemerintahan plus isu konspirasi menjelang pilpres, membuat saya teringat nasihat drumer Kiai Kanjeng dini hari tadi.

Drumer yang saya lupa namanya ini membahas negara yang kacau pada 1998, era di mana Kiai Kanjeng melancarkan salawat sebagai bentuk perlawanan terhadap ribut-ribut negara.

Melihat feed yang panas, saya mencoba menghubungkan nasihat beliau dengan situasi negara saat ini.

Begini kira-kira inti nasihatnya:

“Saat situasi negara luar biasa kacau balau, wes mending kita sholawatan. Enggak usah ngurus negoro.”

Mantap!

Warga Jombang mah nyuantai, Mas. Masio Kota NU, Kota Santri, isu-isu atau ribut-ribut gitu nggak diurusi. Enggak penting, enggak onok gunane. Mending mbadog mi ayam ae sak wareg’e.

Ungkapan itu membuat saya melanjutkan merem. Saya tahu, ungkapan tersebut bukan sebuah bentuk ketidakpedulian atau sifat apatis, tapi lebih pada tidak memedulikan hal kurang penting. Lebih baik fokus pada hal yang lebih penting.

Lagi pula, minggu ini masih suasana perayaan Hari Santri. Hari yang sakral dengan semboyan “Bersama Santri, Damailah Negeri.” Tapi, ribut taek-taekan macam begitu seperti mencederai semangat ini.

Jombang sebagai kota tempat NU didirikan saja selow, kok para gatel-gatelan di kota besar bisa-bisanya ribut.

Kota Jombang Beriman tempat saya bermalam toh aman-aman ae. Bahkan, saat saya main-main ke Pasar Peterongan sesudah mencuci muka sisa kantuk, tidak ada huru-hara apa pun.

Adem ayem. Gemah ripah loh jinawi.

Di pasar yang sempat jadi tempat main Cak Nun muda tersebut, saya bersama teman-teman membeli seporsi mi ayam gurih demi meredam kuasa perut. Tak ada pembahasan soal isu konflik pembakaran bendara bla-bla-bla. Makan lahap-lahap saja. 

Saya mencoba melempar isu itu ke muka teman-teman pengikut NU Jombang yang lagi lahap makan. Tapi, nggak ada yang meledak.

“Eh gimana warga Jombang ngadepin isu pembakaran bendera?”

“Warga Jombang mah nyuantai, Mas. Masio Kota NU, Kota Santri, isu-isu atau ribut-ribut gitu nggak diurusi. Enggak penting, enggak onok gunane. Mending mbadog mi ayam ae sak wareg’e,” ujar salah satu teman tongkrongan yang baru saya kenal kemarin di acara Padhangmbulan Cak Nun.

Saya lalu menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menghadapi isu-isu dan konflik pembakaran bendera adalah selow ae. Mangan, turu, kerjo, koyok biasane.

Lakukan hal-hal produktif ketimbang nyepam taek asu di medsos. Kalau nggak tahu dasar hukum pembakaran bendera tauhid dan sejarahnya, mending meneng enggak usah rame.

Toh saya yakin konflik itu murni karena salah paham, atau beda persepsi yang sebenarnya bisa diluruskan dengan santai.

Arek-arek yang nambah-nambahi ruwet dengan posting sok-sokan membela inilah itulah, mungkin harus mencoba mi ayam di Pasar Peterongan Jombang. Kenyal, gurih, dan nendang.

Kalau wareg, biasanya emosi agak reda dan mood membaik. 

Saya juga sadar, menulis opini macam begini berpotensi membuat saya digeruduk. Media cangkrukan tempat saya bekerja juga akan jadi bahan elek-elekan warganet.

Enggak ngurus. Awak dewe pengen damai, cuy. Engga atek ruwet-ruwetan. Setelah ibadah Maiyahan langsung di Jombang, saya hanya ingin semakin mendekat pada Sang Pencipta. Wis. Ibadah, ibadah, ibadah.

Untuk mengademkan suasana, saya tuliskan kembali nasihat pentolan Kiai Kanjeng di acara Maiyah dini hari tadi. Nasihat yang membuatmu sebaiknya makan mi ayam atau ngopi, daripada berantem dan rame terus di medsos.

“Manusia harusnya jadi nol, kosong, dan netral untuk bisa dekat dengan Tuhan. Tapi, nol ini dinamis. Bisa naik, bisa turun. Kadang kemarahan atau hal negatif bisa mengubah rasa kosong tadi. Namun, kita sebagai manusia kudu bisa mengoper balik persneling, kembali ke nol. Itulah fitrah manusia.”

Tapi, kalau kamu masih bersikukuh nyolot dan rame nggak guna di medsos, saya kutipkan ungkapan Cak Nun di Maiyah Padhangmbulan tadi saat para peserta guyon karepe dewe.

“Gowoen cangkemmu kene, tak kerok’ane!”