Keajaiban kadang tak bisa dipercaya. Kamu harus mengalaminya lebih dulu. Atau paling tidak, kamu sempat jadi saksi yang merekam kejadian ajaib itu. Begitu pula soal kisah-kisah karomah kiai atau ulama.

Kamu memang tidak mengalami atau sempat berada di tempat kejadian perkara saat peristiwa tersebut berlangsung. Tapi, kisah-kisah itu seperti urban legend: turun-temurun dan diwariskan.

Dipercaya sebagian besar kalangan, dengan bumbu-bumbu yang membuat kisah tersebut semakin hebat dan memukau.

Sejumlah cerita sangat mungkin benar-benar terjadi. Jangan bayangkan ada kejadian ajaib seperti di Thor, Doctor Strange, atau semua dongeng Marvel kesayangan kalian. Semua di dalam kisah ini lebih sederhana, membumi, dan berpotensi meningkatkan keimanan.

Ini semua bukan tokoh komik; murni, diyakini benar-benar terjadi di dunia nyata.

Demi menambah kevalidan cerita, saya menemui Prof Aswadi, direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel atau Uinsa Surabaya, di suatu siang yang hangat di kantornya.

Pria paro baya karismatik itu bercerita soal beberapa ulama asal Gresik sebagai tempat asalnya, yang punya kisah-kisah karomah yang membuat saya hanya bisa melongo dan terpukau.

Ini jelas lebih bisa mempertebal keimanan ketimbang cerita-cerita religi absurd murahan yang digarap Indosiar dan sekutunya.

Nah, secara hitung-hitungan logika, jalur darat di sana kan lebih cepat. Tapi, justru jenazah Kiai Ismail yang dibawa pakai perahu bisa sampai lebih dulu.

KH Ismail (Pondok Qomaruddin Bungah, Gresik)

“Dulu di Pondok Qomaruddin daerah Bungah, Gresik, ada yang namanya Kiai Haji Ismail. Sudah dibukukan dalam buku sejarah Pondok Qomaruddin dan riwayat Kiai Haji Ismail Bungah, Gresik.

Jadi, KH Ismail ini pas wafat, jenazahnya sempat dipulangkan ke rumah lewat jalur air, pakai perahu. Sementara pengiringnya lewat jalur darat.

Nah, secara hitung-hitungan logika, jalur darat di sana kan lebih cepat. Tapi, justru jenazah Kiai Ismail yang dibawa pakai perahu bisa sampai lebih dulu. Ini mungkin jadi karomah beliau.”

Abah Thoyib Sumengko, Gresik

”Ketika ada yang menemui Abah Thoyib demi mendapat nasihat, orang itu justru senang kalau dinasihati sambil dimarahi. Ini tandanya, Abah Thoyib senang.

Contohnya, saat beliau menyuruh orang memberikan semua uangnya di rumah kepada yang membutuhkan. Pasti dituruti. Ini karena orang yang ke sana itu bahkan belum cerita apa pun soal kekayaannya. Abah Thoyib bisa langsung tahu.

Abah Thoyib juga senang riyadhoh, penguatan olah rasa dan olah hati. Tapi, riyadhohnya rasional. Misalnya gini, Abah Thoyib kan asli Gumeno, tapi bikin pesantren di daerah Sumengko.

Waktu itu, beliau sama istrinya mau pulang ke Gumeno sesudah mengunjungi pesantrennya di Sumengko. Istrinya mau naik kendaraan, tapi Abah Thoyib pengin jalan kaki.

Padahal, jarak Sumengko dan Gumeno kurang lebih 20 kilometer. Ini juga termasuk riyadhoh. Kata Abah Thoyib pada istrinya: ‘kamu mau naik kendaraan dalam kondisi semper, atau jalan kaki dalam kondisi sehat’.

Akhirnya keduanya jalan kaki, yang dijadikan media untuk menguatkan riyadhoh.”

Pak Ajmain (Bungah, Gresik)

“Di Bungah, ada yang namanya Pak Ajmain. Beliau sering dimintai tolong orang dan dijuluki Menteri Penerangan. Itu karena beliau bisa memindahkan hujan dan membuat cuaca ‘terang’.

Sering dimintai tolong khusus sebagai pawang hujan. Keahlian Pak Ajmain ini mirip seperti Nabi Nuh: bisa mengatur sumber mata air dari bumi. Karena itu, beliau sering diundang saat ada proyek pembuatan waduk dan sebagainya.

Spesial untuk penerangan supaya enggak hujan. Tapi, Pak Ajmain ini nggak pernah makan nasi, bahkan saat kondangan.”

Disclaimer:
Cerita-cerita di atas memang belum bisa dikatakan valid 100 persen. Percaya atau tidak, sepenuhnya jadi urusan kalian.

Kami menerima revisi, kritik, saran, dan sumbangan cerita sebagai upaya kami untuk rutin menggali kisah karomah yang jarang dipublikasi dan diketahui orang. Sebagai penutup, Prof Aswadi menyampaikan satu petuah penting:

“Keajaiban bisa terjadi pada siapa pun. Enggak bisa diduga kapan terjadinya. Dan kalau sudah terjadi, nggak bisa terulang. Lebih gampangnya, supaya bisa percaya, kamu harus mengalaminya. Atau setidaknya jadi saksi yang merekam kejadian itu. Itu cara yang paling masuk akal buat percaya hal-hal di luar nalar manusia.”