Tutik (nama samaran) turun dari mobilnya beberapa saat setelah azan isya berkumandang. Palm Spring Regency—markas tim DNK— masih ramai oleh tim redaksi yang puyeng dikejar deadline seharian dan menunggu orderan Go-Food.

Tutik memasuki kantor kami hampir bersamaan dengan datangnya tiga kotak pizza. Perempuan berhijab itu berperawakan chubby dan imut. Seperti bio dan deskripsi singkat yang ia lampirkan di portal web taaruf online.

Senyumnya manis berikut rona kemerah-merahannya yang membuat kami semua kesengsem. Tapi, kami sadar diri. Kami tidak akan bisa meraih hati Tutik yang mendambakan sosok suami saleh dan bisa membimbingnya bersama-sama menuju surga.

Karena itu, dia mendaftar di situs taaruf online —yang tidak bisa kami sebutkan namanya di sini. Berburu laki-laki atau ikhwan-ikhwan dari seluruh penjuru Nusantara, yang bisa menjadi jodoh sehidup semati, atas ridho Allah SWT.

Mifta Iskandar, salah satu tim redaksi DNK, hanya bisa gigit jari mengetahui fakta tersebut. Saya yakin dia akan rajin sembahyang dan mengaji pasca perjumpaannya dengan Tutik.

Mifta sangat mungkin juga berhenti membaca buku soal ateisme dan penyembahan setan.

Intinya gini, pacaran sama taaruf kan sama tujuannya, buat nikah. Lah kalau pacaran haram dan mendekati zina, tentu aku lebih milih taaruf dong.

***

Tutik berbincang dengan saya sambil terus tersenyum. Tampak di wajahnya ketenangan —yang hanya bisa didapat dari istiqamah salat lima waktu dan sunah. Tutik mungkin sudah setahun terakhir bermain taaruf online, dan menemukan pengalaman baru.

“Intinya gini, pacaran sama taaruf kan sama tujuannya, buat nikah. Lah kalau pacaran haram dan mendekati zina, tentu aku lebih milih taaruf dong. Toh kalau masalah pendekatan atau karakter pasangan saat pacaran yang enggak ditemui di taaruf, aku yakin semua orang bakal berubah pas udah nikah. Jadi, misal yang dulunya buruk, pas nikah jadi lebih baik. Itu pasti. Makanya aku lebih memilih taaruf,” ujar Tutik.

Mata saya sedikit berkaca-kaca mendengar apa yang dia sampaikan. Sangat menyentuh dan membuat saya ingin lebih mempelajari jodoh dalam agama. Mungkin bisa sedikit menenteramkan hati saya akan asmara.

“Aku sebenernya masih ikutan taaruf online. Cuman karena lebih sering gagal, akhirnya berhenti dulu,” tambahnya, lalu tertawa.

Kegagalan yang dialami Tutik menunjukkan bahwa proses taaruf online tidak instan. Sama seperti pendekatan pacaran atau PDKT konvensional pada umumnya, taaruf online malah berpotensi lebih sulit.

Berbeda dengan Tinder, yang hanya dengan memasang foto yang rada mendingan dan geser kanan-kiri, beberapa jam kemudian dengan mudahnya bisa mendapat teman lawan jenis —atau bahkan teman tidur.

“Di taaruf online, semua foto harus dipajang. Foto diri sama foto keluarga. Tapi, di sana anonim. Tanpa nama. Kalau ada niatan serius, bisa langsung menghubungi orang tua si perempuan. Untuk selanjutnya ditemui dan membahas rencana taaruf,” jelas Tutik.

“Potensi stalking lebih dulu tentu ada, walaupun nama tidak ditampilkan. Ini karena saat pemberitahuan penerimaan taaruf lewat e-mail, selalu ada nama e-mail yang ditampilkan. Jadi bocornya identitas di situ,” imbuhnya.

Tutik kemudian memamerkan formulir pendaftaran taaruf online. Lebih rumit dan njelimet ketimbang Tinder. Banyak syarat yang harus dipenuhi, juga data-data yang mesti diisi.

Saya pernah memakai Tinder dengan foto dan identitas palsu, nyatanya masih bisa tembus. Tapi, di formulir taaruf online, semuanya harus asli.

Dan yang membuat bergidik ngeri kalau mau tipu-tipu: di bawahnya ada kesaksian ‘Sumpah demi Allah’ bahwa yang dicantumkan dalam identitas adalah sebenar-benarnya asli, tanpa kebohongan.

Termasuk soal biografi, riwayat penyakit, dan kelemahan.

***
Tutik terus melanjutkan ceritanya soal taaruf online.

“Aku pernah diikuti anggota polisi yang kebetulan match di taaruf online. Aku sih enggak sadar kalau diikuti. Tapi, pas taaruf dibatalkan, aku jadi inget. Temenku juga ngasih tahu kalau dulu sempet diikuti pas match. Mungkin pas dia nguntit aku, akunya lagi ngelakuin hal yang enggak islami banget kali, ya,” ujar Tutik sambil terus tertawa. “Jadinya dia ngebatalin match-nya.”

Tutik kemudian bercerita soal proses dan tata cara taaruf online. Demi mencocokkan data, saya rela berjibaku di sejumlah website penyedia jasa taaruf online selama berjam-jam.

Sejumlah situs memudahkan kalian yang kebelet nikah untuk segera berikhtiar. Hanya bermodalkan laptop, wifi, dan klik, resepsi sudah bisa terbayang. Tapi, ada sejumlah syarat yang tidak boleh disepelekan.

Di salah satu situs, taaruf dikhususkan bagi ikhwan atau akhwat yang sudah memahami atau mau mempelajari Alquran dan sunah dengan metode manhaj Salaf. Sejumlah sikap juga harus dimiliki calon user. Di antaranya, jujur dan amanah. Seperti sikap Nabi Muhammad.

Selanjutnya, ada keterangan bahwa situs taaruf bukan situs media sosial. Privasi bakal dijaga dan hanya bisa dilihat peserta yang mengikuti program. Jadi, kalian tidak perlu khawatir privasi akan tersebar luas di dunia maya dan bikin malu sendiri.

Lain lagi ceritanya kalau teman jomblo kalian juga banyak yang ikutan secara sembunyi-sembunyi.

Tapi, kata Tutik, ada satu hal yang mengganjal. Sebagai penganut monogami, Tutik merasa risi dengan isi formulir pendaftaran.

“Jadi ada pertanyaan bersedia dipoligami atau enggak. Terus buat cowok, ada isian mencari istri pertama, kedua, dan seterusnya. Ya kita sebagai perempuan merasa gimana gitu ya, akhirnya,” kata Tutik.

Setelah wawancara, kami bercanda riang sambil menikmati potongan-potongan pizza. Mulut penuh. Pikiran-pikiran akan jomblo, taaruf, resepsi, dan pernikahan benar-benar terpinggirkan.

Mungkin benar kata pepatah lama: yang penting perut kenyang, semua masalah akan hilang. Termasuk soal jodoh.