Hari itu, Dhafintya Noorca Achni gundah gulana. Dibacanya sekali lagi kertas yang baru diperolehnya dari Pusat Bahasa salah satu kampus negeri di Surabaya. “Kurang 13 lagi! Kok bisa sih!” katanya dengan nada gemas.

Dhafin baru mengikuti tes TOEFL sebagai syarat untuk lolos beasiswa strata 2 LPDP. Tapi, nasib belum berpihak. Skor maksimal 500. Dhafin hanya mendapat 487.

“Sebenernya sedih banget pas itu. Aku sampai nangis. Kurang dikit padahal. Rasanya dunia kayak mau ambruk,” ungkap Dhafin.

Setelah membuka surat itu, Dhafin sempat panik. Dia menghubungi beberapa kawan terdekatnya. Sekadar untuk meluapkan kekesalan. Dhafin sempat menghubungi saya waktu itu, sayangnya saya belum terjaga.

“Bagaimana lagi. Mungkin kurang belajar kali ya. Aku nggak kapok sih buat TOEFL lagi. Next time semoga bisa lebih baik,” lanjutnya.

TOEFL adalah singkatan dari Test of English as a Foreign Language, atau lebih gampangnya, tes bahasa Inggris. Dibuat oleh Educational Testing Service (ETS) yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Hasil TOEFL dipakai sebagai syarat masuk kuliah di hampir semua universitas di AS dan Kanada untuk S-1, S-2, dan S-3.

Mahasiswa yang mendaftar ke Eropa dan Australia akhirnya juga diwajibkan ikut tes itu. Selanjutnya sudah bisa ditebak: Indonesia mulai menerapkan TOEFL sebagai syarat melanjutkan studi.

Bahkan, beberapa perusahaan mencantumkan syarat minimal TOEFL bagi orang-orang yang ingin diterima bekerja di sana.

Saya sebenarnya ingin membahas lebih dalam atau bahkan mengkritisi sistem tersebut. Tapi, karena kurangnya bukti dan argumen, saya akhirnya hanya mengumpulkan kesedihan dan perjuangan mati-matian seseorang, supaya bisa lolos tes TOEFL sesuai nilai yang diharapkan.

Perkara positif-negatif TOEFL mungkin nanti bisa kita diskusikan bersama dalam satu meja kopi.

Kemampuan bahasa Inggris saya maksimal hanya menjangkau lirik-lirik lagu Radiohead. Selebihnya parah minta ampun.

Dilansir dari halaman English First, TOEFL bertujuan menilai kemampuan menulis dan tata bahasa dalam bahasa Inggris, supaya bisa membuat tulisan ilmiah. Kemampuan itu juga membuat mereka lebih memahami textbook, penjelasan dosen, atau apa pun itu dalam bahasa Inggris.

Dalam waktu sekitar tiga jam, peserta tes TOEFL harus mengerjakan grammar structure and written expression, listening comprehension, reading comprehension, dan writing.

Saya membayangkannya dan bergidik ngeri. Kemampuan bahasa Inggris saya maksimal hanya menjangkau lirik-lirik lagu Radiohead. Selebihnya parah minta ampun. “Biaya TOEFL sebenarnya nggak murah sih. Sekitar Rp 450 ribu mungkin ya,” ujar Dhafin.

Bahkan, kesedihan membuatnya lupa berapa biaya yang ia keluarkan untuk TOEFL. “Yo mungkin karena itu, tes TOEFL enggak boleh main-main. Kudu niat,” tambahnya.

Terpuruk karena gagal tes mungkin biasa. Tapi, stres lantaran gagal tes dengan biaya yang mungkin setara seperenam gaji bulanan, bisa dibilang luar biasa.

Beasiswa yang diincar Dhafin sebenarnya masih di universitas dalam negeri. Namun, TOEFL sungguh mencekik. Saya yang biasanya tertarik sekali dengan informasi beasiswa langsung keder dan mundur begitu ada syarat TOEFL.

***

Juman Rujhan masih tertahan di daerah Pare, Kediri, selama lebih dari satu bulan. “Sertifikatku belum keluar bro di kampung Inggris,” ujarnya memelas di akhir telepon.

Juman, mahasiswa yang baru menuntaskan program Jatim Mengajar di Banyuwangi, senasib dengan Dhafin. Informasi beasiswa pascasarjana begitu menggiurkan, tapi syarat TOEFL begitu menakutkan.

Sadar akan kemampuannya yang pas-pasan, Juman membuat keputusan serius: les di Kampung Inggris Pare. Program intensif yang diambilnya cuma sebulan.

Hasil nggapleki langsung terasa oleh saya sebagai sahabatnya. Juman memakai kosakata Inggris saat berbalas chat dan membuat vlog kampungan ala-ala dengan narasi Inggrisan.

“Sebenarnya bikin vlog itu tugas dari kampung Inggris. Kalo enggak disuruh, ya nggak bakalan mau aku,” ucapnya sambil cengengesan.

Perjuangan Juman untuk menembus TOEFL tidak main-main. Memaksakan dirinya mengikuti kelas intensif di Kampung Inggris Pare. Padahal, kondisi fisiknya hampir jebol sesudah terserang tuberkulosis.

Keinginan kuat menembus tes TOEFL demi beasiswa memicunya untuk mengorbankan apa pun. Bahkan agak abai dengan kesehatannya sendiri.

“Sebenernya, banyak tempat kursus bahasa Inggris yang lebih dekat dan terjangkau. Tapi, di Kampung Inggris Pare itu, kulturnya udah kebentuk. Maksudku, mereka intensif ngobrol pake bahasa Inggris, komunikasi sehari-hari. Dan itu jarang didapet di tempat kursus biasa,” jelas Juman.

“Di sana masuknya Senin sampai Jumat. Dari jam 6 pagi sampai kadang jam 5 sore. Semuanya wajib pakai bahasa Inggris. Otomatis dipaksa bisa karena kebiasaan itu tadi,” tambahnya.

Untuk kalian yang menggebu mempertaruhkan duit di meja TOEFL, cara Juman ini bisa diikuti. Meskipun harus mengorbankan biaya yang tak sedikit dan waktu yang entek-entekan full bahasa Inggrisan. Mendaftar di Kampung Inggris Pare cukup mudah. Bisa lewat website, transfer DP, dan mengikuti langkah selanjutnya.

Juman mengaku habis sekitar Rp 1 juta untuk paket sebulan. Tapi, kebutuhan lain seperti makan dan minum tidak jadi tanggung jawab penyelenggara.

Umumnya, peserta didik di Kampung Inggris Pare mempelajari pronunciation, vocabulary, grammar (tenses), dan speaking. Empat kelas itu adalah kunci untuk menguasai bahasa Inggris dengan baik dan benar. Understanding is the key. TOEFL bakal mudah kalau kalian mengerti letak kunci gemboknya.

Juman juga makin percaya diri mengikuti TOEFL setelah sebulan bermalam di Pare. Berbeda dengan sebelumnya yang mungkin hanya menguap tidak keruan saat disuguhi soal-soal TOEFL yang njelimet.

“Yang paling penting sebenernya mempelajari tata kalimat. Yakin wes bisa ngerjain TOEFL, udah bener-bener ngerti,” kata Juman.

Tapi, kalau kalian memang punya hitung-hitungan sendiri soal pengeluaran, sebetulnya ada trik jitu untuk lolos tes TOEFL. Caranya tentu saja belajar. Bedanya hanya pada buku yang dipelajari.

Menurut Juman, buku yang direkomendasikan tutor-tutor kampung Inggris adalah Longman Preparation Course for the TOEFL Test karya Deborah Phillips. Bisa ratusan ribu kalau beli di toko buku gede. Tapi, di Jalan Semarang atau Blauran, kalian bisa dapat harga Rp 35 ribu kalau pandai ngenyang.

Mungkin cara berjuang yang fair begini lebih memuaskan. Kalau punya pengalaman nyogok atau berburu kunci TOEFL yang rada ilegal, kalian bisa sharing pengalaman berharga itu ke redaksi kami.