Selamat untuk Ibu Risma, wali kota Surabaya tersayang yang sudah mendapat penghargaan Purwakalagrha sebagai Pejabat Peduli Museum 2018. Menurut Indonesia Museum Awards 2018, Risma pantas menerima penghargaan itu karena sumbangan nyatanya untuk perkembangan museum di Surabaya.

Risma dinilai berhasil membentuk Kota Seribu Museum seperti yang dicita-citakan. Ya meskipun nggak sampai berjumlah seribu juga. Risma pun berperan dalam menjaga dan merawat museum, walaupun Monkasel lebih sering dipakai gigs hardcore dan moshing bertubrukan tanpa ampun.

Tapi begini, kami sebagai media alternatif sebenarnya agak ragu dengan penghargaan atau puja-puji. Benarkah Risma sudah sebegitu berjasanya dalam bidang permuseuman di Surabaya?

Atau apakah banyaknya museum yang ada berbanding lurus dengan banyaknya pengunjung atau meningkatnya wawasan akan sejarah? Kami tentu masih geleng-geleng kepala dan mempertanyakannya.

Tapi, tulisan ini tidak hendak melakukan kritik atas keberhasilan dan ngrusuhi. Kami hanya ingin memberi usul dan ide segar, kira-kira arek-arek Surabaya ini butuhnya museum apa saja sih?

1. Museum Persebaya
Tidak ada yang lebih membuat jiwa pride nyali wani arek-arek Suroboyo tergugah selain Persebaya. Hanya Persebaya satu-satunya.

Semangat Green Force yang dipupuk sejak 1927 harusnya direkam dalam sebentuk bangunan museum. Bagaimana awal mula Persebaya berdiri dan berjaya, hingga menjadi klub dengan salah satu basis massa terloyal sepanjang sejarah sepak bola tanah air.

Membangun museum adalah bukti bahwa pemkot benar-benar mendukung Persebaya. Bisa dikunjungi kapan pun oleh para Bonek dan pengunjung yang ingin melihat diorama kampiun.

Kalau toko-toko Persebaya bermunculan di banyak tempat, mengapa tidak ada yang pernah berpikir untuk membuat tempat di mana kejayaan bisa dipamerkan? Sebagai cerminan, refleksi, dan menjaga benang merah jati diri Bonek.

Risma pantas menerima penghargaan kalau sudah bisa menghargai jasa-jasa para penggawa Persebaya. Wani!

2. Museum Surabaya Kota Rock
Mari kita urutkan satu demi satu. AKA, SAS, Gombloh, dan banyak lagi musisi dari rumpun Suroboyoan berhasil merangsek ke barisan rockstar gaek nasional.

Bakal sulit menyebutnya satu-satu, tapi mungkin bisa dimulai dari Dara Puspita —Lady Rock pertama di Indonesia yang berasal dari Surabaya.

Peran Suroboyo sebagai Kota Rock sudah diakui. Termasuk pada era 80-an saat Log Zhelebour membuat agenda festival rock rutin di Tambaksari.

Tapi, tampaknya penjelasan saya terlalu boring. Karena itu, masyarakat butuh satu tempat seperti museum untuk menghadirkan rekaman sejarah soal bagaimana kultur rock di Surabaya terbentuk, dan kemudian bisa memengaruhinya sampai taraf nasional.

Sedikit usul, band-band legenda jahat dari skena bawah tanah harus dimasukkan demi menjaga ingatan soal romantisme Bluekuthuq di Metalik Klinik I. Atau arsip sejarah tentang acara Trendy Bangsat yang memberikan arti penting bagi perkembangan musik keras Surabaya.

3. Museum Dolly
Sebagai lokalisasi legendaris yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara, penghancuran Dolly jelas bisa menutupi fakta sejarah. Karena itu, dibutuhkan museum yang menampung segala kenangan dan ingatan tentang Dolly.

Tentu saja, museum itu sebaiknya untuk pengunjung berusia 17 tahun ke atas.

Kalau Risma sudah berani menggusur Dolly, seharusnya rekaman sejarahnya disimpan dong. Walaupun agak gimana gitu, membangun museum sepertinya jadi keputusan yang lumayan mashok.

4. Museum Gusur
Soal beberapa tempat di Surabaya yang terkena gusuran, baik dari pemkot maupun pihak pengembang swasta, saya mengucapkan beribu simpati. Tapi, toh bangunan sudah tergusur dan rata dengan tanah. Bisa apa kita selain mengenangnya?

Pembangunan Museum Gusur seharusnya difasilitasi. Banyak tempat, baik yang sudah atau berencana digusur, punya sejarah penting bagi perkembangan kota. Foto-foto dan diorama bisa mengedukasi masyarakat soal kebudayaan yang telah dihancurkan.

5. Museum Air Mata
Sebagai penutup, ini bisa jadi ide museum paling pribadi yang pernah dibuat. Gimana tidak? Akhir-akhir ini, air mata muda-mudi Surabaya tumpah ruah.

Jalan bermandikan air mata, sedu sedan, dan kisah-kisah dramatis karena ditinggal areknya.

Ayolah, museum semacam ini jauh lebih berkelas ketimbang pasar yang menjual barang-barang mantan. Sebagai refleksi untuk noto ati sebelum memulai petualangan cinta kembali.

Tapi, saya juga bingung museum beginian diisi apaan. Takutnya nanti kepeleset di dalam, saking banyaknya air mata dan umbel sisa tangisan yang masih mengental.