Pria itu memakai batik seperti akan pergi ke pesta pernikahan kerabat. Lengannya dilipat separo. Kurus, tapi tidak kering. Rambut berminyaknya berputar-putar, seiring gitar yang melengking dan nyanyian yang ia senandungkan.

Senyum berpalung dalam pipinya. Berdekik manis. Kaum hawa berteriak histeris. “Sendu Melagu” dimainkan. Panggung gegap gempita. Ini supergrup bernama Barasuara dengan motornya, Iga Massardi.

Situasi tersebut saya rasakan saat pertama kali menonton Barasuara —dan entah berapa kali lagi di tempat yang berbeda. Energinya nyaris sama: meluap-luap dan penuh. Iga, Gerald Situmorang, Asteriska, Puti Chitara —ah hanya itu personel yang saya hafal di luar kepala— bermain total seolah-olah besok kiamat.

Penontonnya berasal dari berbagai kalangan: pemuda hip, geek, hijabers, fashionista modis. Penggemar Bara ada pada kelasnya sendiri. Berbeda dengan, katakanlah Sheila on 7 atau Endank Soekamti. Penggemar Bara lebih segmented, lebih indie, lebih berbeda. Tapi soal massa, sama-sama pecah, sama-sama gila.

Lebih gilanya, para pemudi berhijab meramaikan koor masal lagu “Hagia” dengan repetisi “seperti kami pun mengampuni, yang bersalah pada kami” yang diambil dari Matius 6:12. Barasuara mengajarkan toleransi bahkan tanpa kalian sadari.

Mengajarkan bahwa nilai kebaikan agama apa pun universal dan mengajarkan cinta kasih yang sama.

Saat ditugasi menulis soal Guna Manusia sebagai single terbaru Barasuara tahun ini, bayangan itulah yang muncul dalam kepala.

Saya bukan penggemar Bara. Entah kenapa, band tersebut lebih mengingatkan saya pada Efek Rumah Kaca, tapi versi lebih stadion rock yang meriah. Juga agak membawa ingatan saya pada album Funeral-nya Arcade Fire yang rilis 2004.

Tapi, saya tetap penasaran. Bagaimana band itu bisa begitu didewakan di Surabaya?

Lebih gilanya, para pemudi berhijab meramaikan koor masal lagu “Hagia”, dengan repetisi “seperti kami pun mengampuni, yang bersalah pada kami” yang diambil dari Matius 6:12. Barasuara mengajarkan toleransi bahkan tanpa kalian sadari.

***

Dengan jumlah penonton yang militan, saya mencoba mencari tahu apakah ada fanbase Barasuara di Surabaya. Selanjutnya, saya dipertemukan dengan Giffahry, koordinator Penunggang Badai Surabaya.

Ya, nama penggemar resmi Barasuara memang Penunggang Badai. Mungkin terinspirasi judul album Taifun, yang bermakna angin kencang atau angin ribut.

Giffahry kemudian setuju dengan saya, bahwa materi di lagu baru Guna Manusia berbeda dengan album Taifun.

“Menurut temen-temen Penunggang Badai, lagu ini emang beda. Terutama dari segi aransemen. Terasa ada instrumen baru dan sedikit elektronik. Ngebuktiin kalau Barasuara lebih eksplor dan berani bikin hal baru,” ujar Giffahry.

Guna Manusia, harus saya akui, menunjukkan bahwa Barasuara tidak berusaha melampaui diri sendiri. Di album Taifun, Bara sudah sedemikan lengkap dan agung, bahkan ndewo.

Tidak boleh sering-sering didengarkan karena berpotensi bikin eneg, saking bagusnya.

Menciptakan materi sekelas atau melebihi Taifun sepertinya akan susah. Karena itu, lewat Guna Manusia, Barasuara berusaha menampilkan pakem musik yang berbeda. Rock futuristis dengan bantuan elektronika raya.

“Bedanya juga terasa dari segi lirik. Guna Manusia bener-bener to the point sih. Enggak ke kiasan atau analogi seperti lagu sebelumnya. Langsung nonjok, berasa banget pesannya. Menanyakan pada diri sendiri sebagai manusia, sebenernya gunanya kita ini apa sih,” tutur Giffahry.

Tugas saya selesai. Saya sudah memberikan gambaran soal Guna Manusia secara utuh. Dengan kapasitas pendengaran yang sedikit subjektif, dan pendapat dari penggemar militan Barasuara.

Namun, saya masih penasaran dengan Penunggang Badai Surabaya. Karena itu, saya terus memepet Giffahry untuk meminta penjelasan secara utuh.

“Penunggang Badai Surabaya terbentuk sekitar akhir 2016. Jadi, salah satu member berinisiatif bikin Instagram official-nya. Nah, mulailah anak ini cari-cari temen yang mau gabung. Cuman, waktu itu belum ada meet-up atau peresmian gitu,” ungkap Giffahry.

“Peresmiannya waktu Bara main di Surabaya Maret 2017 bareng KPR (Kelompok Penerbang Roket). Kami minta izin langsung dari temen-temen Barasuara, dan akhirnya Penunggang Badai Surabaya resmi disahkan,” tambahnya.

Fanbase itu memang masih jadi keluarga kecil, hanya beranggota sekitar 50 orang. Tapi, saya yakin jumlahnya akan terus bertambah. Saya juga yakin, banyak sekali penggemar Barasuara yang tidak tercatat jadi member.

Terbukti di beberapa kesempatan, gigs Barasuara selalu ramai pengunjung. Bahkan, panitia di suatu acara rokok yang pernah mengundang Bara main di Graha Fairground menyatakan, “ini gigs terpecah kami sepanjang menggelar event ini di Surabaya.” 

Ingatan saya pun kembali di awal-awal Barasuara berdiri. Pada 2015, berita soal Taifun ramai menghiasi kolom media musik ibu kota. Saya penasaran sehebat apa band yang didirikan Iga, yang sebelumnya bermain di The Trees & The Wild.

Ternyata benar, letupan idealisme Iga berhasil. Dan dua biduan yang selalu dibawa Iga sebagai tandem vokal, Asteriska dan Puti Chitara, mengingatkan saya pada orkes Melayu Soneta pimpinan Bapak Haji Rhoma Irama. Bedanya, gitar Iga masih mempunyai kepala di lehernya.