Suatu hari di tahun 1988, seorang laki-laki penggemar reggae resmi mempersunting perempuan yang memang jadi cinta pertamanya sejak sekolah dasar.

Pernikahan digelar sederhana saja. Cenderung ala kadarnya. Hanya memakai tumpeng. Tidak ada kuade. Tidak ada orkes dangdut.

Puluhan tahun berlalu. Roda berputar. Si laki-laki sekarang dikenal sebagai penguasa orkes dangdut. Tidak hanya di panggung hajatan atau kawinan, tapi juga secara membabi buta bermain di panggung-panggung rakyat. Mencoba mendominasi pentas dangdut di televisi, dan berjaya di deru kerasnya speaker sopir truk saat melenggang ria melintasi pantura.

Laki-laki itu Sodiq Monata.

“Kalau belum duet sama Sodiq, ojok ngaku penyanyi dangdut Jawa Timur!” kata Sodiq, menirukan mitos yang sering disampaikan orang-orang perihal dirinya, kemudian tertawa.

Sodiq lalu membakar rokok Avolution-nya kembali, entah untuk yang keberapa kalinya. Sambil menyalami orang-orang yang pamit, dan terus mengobrol ke sana-kemari.

Malam ini (1/10), agenda Sodiq hanya di rumah. Tidak ada rencana manggung sampai beberapa hari ke depan. Sodiq masih berduka. Yuliani, perempuan yang dinikahinya puluhan tahun lalu, meninggal dunia.

Malam ini peringatan tujuh hari meninggalnya Yuliani. Setelah tahlilan usai, Sodiq terus berkelakar dengan sejumlah tamu yang datang, termasuk kami.

Tapi, kesedihan tetaplah kesedihan. Menggantung di udara. Lalu, suasana menjadi sendu dan muram saat Sodiq menceritakan fragmen tentang Yuliani, cinta sejatinya.

Ditemani kopi hitam panas dan kretek, juga gelaran tikar yang masih terpasang pasca tahlilan, kami bersiap mendengar cerita cinta yang mungkin paling romantis dalam sejarah pantura.

Kalau cinta adalah tumpukan kenangan, maka Sodiq tidak mau siapa pun merobohkannya.

***

“Waraso. Aku wes iso nyetir mobil. Duitku wes akeh. Semangato ben waras,” kata Sodiq, menirukan ucapannya pada Yuliani puluhan tahun lalu.

Saat itu, Sodiq baru saja mencapai kejayaan. Porong Ajur, single off-beat pantura, berhasil meledakkan namanya.

Pada tahun-tahun selanjutnya, karir Sodiq semakin moncer. Bersama Monata, Sodiq perlahan-lahan menjadi legenda. Dari Pandaan, Sodiq bahkan sudah menaklukkan show di Kalimantan.

Sayangnya, di tengah keglamoran, Yuliani terbaring lemah. Stroke menggerogotinya. Riwayat epilepsi dari keturunan memperparah keadaannya.

“Sebelum nikah, aku tahu dari awal kalau istriku epilepsi,” ujar Sodiq. “Tapi, karena cinta, aku yakin bisa merawatnya. Barangkali bisa sembuh kalau dinikahi,” lanjutnya, menerawang jauh.

Rumahnya di Dusun Genengan Durensewu, Pandaan, memang menyimpan berjuta kenangan. Termasuk soal kambuhnya epilepsi Yuliani, yang menimbulkan masalah di sarafnya.

Dengan masih bersila dan memakai baju koko putih, Sodiq tergiring ingatan tentang pertemuannya dengan Yuliani: sosok yang jadi inspirasi dan motivasi utama Sodiq dalam berkarya.

“Ketemunya sejak SD. Tresno jalaran soko kulino. Moleh bareng, ngaji bareng. Yuliani itu cinta pertamaku. Kenangan itu indah sekali,” tutur Sodiq.

“Cinta pertama nggak bakal bisa dilupakan. Kalau ada yang bilang sudah lupa dengan cinta pertamanya, itu gombal! Laki-laki enggak boleh lari dari kenyataan!”

Sodiq dan Yuliani memang menikah muda. Sodiq di usia 17, lebih tua satu tahun dari Yuliani. Pernikahan yang sudah berusia puluhan tahun tak pelak menimbulkan rasa mendalam untuk Sodiq. Kalau cinta adalah tumpukan kenangan, maka Sodiq tidak mau siapa pun merobohkannya.

Maka dari itu, Sodiq mengabadikan beberapa kisah dalam lagu ciptaannya. Yang paling sedih adalah lagu yang khusus diciptakan saat Yuliani meringkuk semakin lemah, sebelum akhirnya ajal menjemput. Berjudul Cobaan dan Jangan Meninggal Dulu Istriku. Semuanya spesial ditulis untuk Yuliani.

Sodiq dan Yuliani memang dua sejoli yang percaya bahwa kesetiaan adalah kunci dari mencintai. Ada masa di mana keduanya mengamen di rumah-rumah warga sepulang bekerja dari pabrik roti di Prigen.

Ada masa ketika Sodiq harus menjalani operasi di perut dan tidak bisa melakukan apa pun, tapi Yuliani tetap merawatnya dengan setia. Ada juga masa saat Yuliani terbaring sakit sampai bertahun-tahun, dan Sodiq, dengan penuh kesetiaan terus mendampinginya.

Kesetiaan mungkin jadi hal paling esensial dari mencintai, sekaligus bagian yang paling sulit.

“Ternyata Tuhan punya rencana yang baik. Kalau istriku enggak sakit, mungkin aku jadi tambah nakal,” ucap Sodiq. “Selama istri sakit, aku jadi lebih sayang keluarga. Nyambut gawe. Noto masa depane anak-anak.”

Sekarang, Sodiq sudah naik beberapa tingkat: lolos dari ujian kesetiaan. Yuliani telah pergi dengan tenang.

Tapi kami percaya, di setiap rhythm maut dan lirih bariton suara Sodiq di atas panggung, ingatan akan Yuliani tidak akan pernah mati.

Dan kami tahu, kisah romansa terbaik di pantura ini sulit dicari tandingannya.