Tidak ada salahnya menjadi anak kecil lagi. Toh menjadi dewasa membuat kita hampir selalu migrain setiap saat, memikirkan cara untuk menutup masalah satu dengan yang lain.

Tidak ada salahnya jadi anak-anak lagi. Meruwat diri dengan njajan Chiki, Cheetos, Jet-Z, serta membeli seperangkat Hot Wheels atau Tamiya. Atau kembali memutar lagu Tasya Kamila dan Trio Kwek-Kwek.

Tidak ada salahnya jadi anak-anak lagi. Ngguya-ngguyu dolanan karepe dewe, rame sak rame-ramene, nakal sak nakal-nakale.

Melupakan masa dewasa yang penuh keterikatan, jaim seru, tanggung jawab yang nggak berujung, dan sengaknya hidup yang membuat kita memikirkan ulang arti proses penciptaan.

Ehm, petuah nasihat di atas tampaknya terlalu tendensius. Seperti utopian dream, susah terwujud. Tapi masak kita membiarkan anak kecil dalam diri kita terbunuh, lur?

Baiklah, ambil gampangnya saja. Berikut tim DNK siapkan playlist lagu anak yang membuat anak kecil dalam dirimu kembali bermain kejar-kejaran.

Sejumlah lagu yang akan abadi dan tetap relevan memupuk jiwa anak-anak yang ceria dalam kepala kita.

1. Potong Bebek Angsa

Nomor wahid dalam lagu-lagu penolak dewasa adalah Potong Bebek Angsa. Anthem soal penjagalan bebek dan budaya dansa itu selamanya akan tetap klasik dan melegenda.

Serong ke kiri serong ke kanan, lalala-la-lalala-lalalala, dan semuanya bergembira meskipun palsu.

Kehidupan dewasa kita tidak akan benar-benar stabil, kadang serong kiri kadang serong kanan. Atau kalau lebih revolusioner, tidak ada orang yang benar-benar murni kiri atau murni kanan. Persetan.

Yang penting, jalani dengan bahagia dan tertawa, sambil menyadari bahwa sebenarnya menjadi dewasa hanya angan masa kecil yang tidak perlu terjadi. Sebab, saat dewasa, kita justru doyan berandai-andai menjadi kecil lagi.

2. Naik Delman

Ini adalah lagu soal bagaimana anak-anak selalu bisa menghayati momen. Tuk-tik-tak-tik-tuk suara sepatu kuda adalah buktinya.

Orang dewasa tidak akan pernah memperhatikan bagaimana bunyi sepatu kuda, bahkan mungkin nggak tahu kalau kuda pakai sepatu.

Tapi, anak kecil dengan polosnya meresapi suara sepatu kuda, menjadikannya magis dan memompa ingatan akan liburan bersama ayahanda —yang mungkin sekarang berusia senja— di hari Minggu yang santai.

Anthem segala umur yang riang sejenak mengembalikan umur 13 tahun lebih muda.

3. Naik Kereta Api

Naik Kereta Api adalah tanda kepolosan, kepasrahan, dan keriangan anak saat bepergian, atau dalam konteks masa dewasa sekarang bisa dimaknai sebagai perjalanan hidup.

Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama: ini adalah propaganda yang bagus. Menguatkan sikap akan apa pun pilihan hidupmu. Yang terpenting adalah menjalani.

Enggak gopoh dan bingung karepe dewe, dan akhirnya menyesal karena ketinggalan sepur.

4. Kring-Kring-Kring Ada Sepeda

Lagu ini membuat kami terharu seharu-harunya. Bahwa menjalani hidup dewasa sebenarnya amat simpel dan nggak perlu drama. Tinggal berusaha dan bekerja keras, maka hidup kita akan membaik.

Bait sepedaku roda tiga, kudapat dari ayah, karena rajin belajar, mengajarkan makna berusaha dalam arti yang sederhana.

Nggak perlu pakai drama, bahkan pusing dan terlalu lebay. Usaha dan kerja keras sampai keringat mengkristal jadi emas: spirit lagu anak-anak macam begini cocok didengarkan untuk masa mudamu yang bimbang.

5. Kasih Ibu

Sebagai penutup, kami haturkan anthem paling mengharukan dan bikin baper. Jauh sebelum kita galau tidak keruan saat mendengarkan Kahitna.

Nadanya yang gloomy membuat kita sebagai orang dewasa minimal tergores hatinya, merindukan emak di rumah yang mungkin sedang merajut atau menonton RCTI.

Cinta sebenarnya sederhana, kawan muda. Itu sudah diajarkan dalam Kasih Ibu yang bisa didengarkan kapan saja, terutama saat sumpek menderu.

Dan kamu mendadak ingin menenggak Baygon karena jomblo menahun atau drama percintaan dewasa kalian sudah mulai bikin muntah-ngeseng.