Sebagai anak kos yang mungkin sudah puluhan kali pindah kos, ada satu faktor penting yang membuat penghuni seperti saya nyaman. Bukan seberapa empuk spring bed atau tersedianya sambungan wifi berkecepatan 100 megabyte per second, tapi si induk semangnya alias yang punya kos-kosan alias ibu kos.

Sejauh pengamatan, memang ada sejumlah kos di Surabaya yang dimiliki bapak-bapak. Tapi, ibu-ibu lebih mendominasi. Tanpa bermaksud seksis atau membedakan genre dan gender, bapak-bapak pemilik kos biasanya lebih nyantai. Jadi, bayar kos sampai telat tanggal 10 atau nunggak enam bulan kadang enggak masalah. Lain cerita untuk ibuk-ibuk atau emak-emak.

Ibu kos tentu masih harus dibagi-bagi lagi. Kategori paling gampang tentu saja berdasarkan range usia. Setiap karakter memengaruhi sikap dan daya tahan kamu, kaum-kaum penunggak yang suka nilap duit kos, untuk berlama-lama di pondokannya.

Jadi anak kos memang sulit. Tapi, menjadi ibu kos dengan anak kos yang menyulitkan jelas lebih sulit. Maka dari itu, tulisan ngehe ini tidak berusaha men-judge seenak udel atau upaya mengata-ngatai bu kos, tapi justru sebagai homage atau penghormatan.

Atas jasa ibu kos-lah kalian selamat dari cap gembel atau tunawisma. Kalau kos kalian bebas cewek-cowok, kalian malah harus mengucap beribu-ribu terima kasih. Karena hanya dengan begitulah kalian bisa pacaran dengan murah, aman, dan menyenangkan lahir batin.

1. Mbah-Mbah Berusia Senja

Saya tidak berani berkata macam-macam soal yang satu ini. Takut kualat. Tapi, perhatian dan kasih sayang yang diberikan ibu kos berusia sepuh memang tidak ada duanya. Kadang bertindak seperti nenek kita sendiri. Mengingatkan untuk mandi, kuliah, kerja, dan lain sebagainya. Meskipun kalau bayar ya tetap enggak boleh telat.

Biasanya, kalau anak kuliah, akan ditanya begini di awal bulan: “Nggak dititipi ibuk duit ta (buat bayar kos)?” Atau ucapan sengak minta ampun untuk penghuni kos dari kelas pekerja: “Gajian perasaan tanggal 1, sekarang udah tanggal 14 lho, nak.”

2. Tante-Tante MILF

Yang model begini biasanya ramah dan hangat. Tapi, tidak tertutup kemungkinan bisa bertindak jutek. Kebanyakan kos-kosan di Surabaya memang dipegang ibu-ibu macam begini. Biasanya punya anak lebih dari dua.

Hal positif dari tipe ibu kos ini adalah sense of humor yang kadang kebablasan: menyinggung area-area panas dan sedikit stensilan. Kalau berani, kamu bisa menanggapinya. Tapi, kalau sungkanan, jangan berharap apa-apa.

Eh, tapi kebanyakan cerita lendir di internet selalu diawali dengan sikap canggung: “Dengan ragu-ragu dan bingung, aku sedikit deg-degan melihat ibu kos mendatangiku di tengah malam, hanya dengan memakai daster sleeveless…”

Tapi, buang semua mimpi murahan cerita dewasa kalian. Toh enggak akan terjadi dan tagihan tetap harus dibayar di awal bulan.

3. Mamah Muda Gemes

Ini adalah keberuntungan hakiki. Apalagi kalau lokasi rumah si empunya kos sama dengan penghuninya. Ditambah lagi kalau tempat jemur bajunya sama. Biasanya, penghuni kos dengan induk semang seperti ini jadi sering mengintip-intip. Setelah itu mandi keramas. Entah kenapa.

Bedanya tipe mamah muda gemes dengan tipe sebelumnya adalah dari perangai penghuni kos itu sendiri. Kalau si tante-tante memang pure sange, tapi kalau si mamah-mamah ini kadang membuat kita berpikir untuk menculiknya saja, menua bersama.

Ada sensasi fallin’ in love yang membuat kita caper dan senyam-senyum sendiri. Gairah yang meletup-letup. Nafsu yang menderu-deru. Cinta yang meluap-luap. Gila.

Eh, ada nggak sih FTV yang mengangkat kisah cinta anak kos dengan induk semangnya? Mungkin ada di RCTI. Biasanya jam 1 dini hari dengan pemeran Wiwid Gunawan.