Suatu malam di pos polisi yang tidak terpakai di daerah Rolag, sekelompok pemuda yang bersenjatakan cat, alat lukis, dan pot berisi bunga berniat melakukan aksi sepihak.

Para gelandangan dan tunawisma yang bermukim di sana berpotensi merasa terganggu. Tapi, mereka tentu tidak perlu khawatir.

Bisa apa para pemuda yang hanya mempunyai seperangkat alat lukis selain corat-coret membuat karya?

Alhasil, gardu terbengkalai itu disulap jadi meriah. Menjadi ruang yang lebih layak untuk ditinggali, bersih, nyaman, dan tentu memiliki nilai estetika.

Tapi, para tunawisma tidak tahu kalau itu jadi minggu terakhir mereka di sana. Kurang lebih seminggu setelah aksi tersebut, otoritas yang berwenang langsung melakukan penggusuran. Tidak ada yang tersisa.

Cerita itu dituturkan dengan berapi-api oleh Dwiki Nugroho Mukti, yang akrab disapa Komeng. Aktif di dunia seni rupa membuatnya beberapa kali membuat komplotan seni. Salah satu kolektif bentukannya bertanggung jawab membuat pos polisi di Rolag dan beberapa tempat lain lebih berwarna.

Dinamakan Dinas Rahasia Respon Ruang, dengan singkatan yang berpotensi membuatmu yang agak cadel sulit mengucapkannya: Dirareru. Beranggota dedengkot seni rupa yang juga aktif di komunitas Serbuk Kayu: Krisna Esa, Wang Wang Teror (WWT), Amal, Kharisma Adi, dan Owan.

“Intinya ini merespon ruang nang Suroboyo. Kan pembangunan sangat cepat, tapi pasti ada sisi positif-negatifnya. Akhirnya, akeh ekses pembangunan yang terabaikan. Akeh ruang nggak terpakai. Ruang kosong. Terbengkalai,” ujar Komeng.

“Memang sebagai seniman, cara terbaik menyuarakan sesuatu ya lewat estetik. Lewat seni. Kalau lewat bentuk protes, itu lain lagi,” tambahnya.

Ruang, harus diakui, sudah jadi kebutuhan manusia urban. Adanya ruang untuk pulang, berinteraksi, mengekspresikan diri, atau apa pun itu, menunjukkan peran sentral ruang dalam memengaruhi manusia di sekitarnya.

Makna ruang sudah jadi sangat cair dan bisa dipermainkan. Tapi, pemanfaatan ruang yang kurang tepat tentu bisa menjadi masalah.

“Sebenernya, Dinas Rahasia ini enggak ada tujuan apa pun. Intinya cuman merespon ruang, memperindah, memfungsikan ulang, bahkan membuat ruang alternatif dengan bermodal gagasan batas imajiner saja. Tapi, yang masalah pos di Rolag, kami nggak nyangka kalau tempat itu bakal dihancurno,” jelas Komeng.

Karena itu, Dirareru akhirnya tidak menjadi polisi moral dan memberikan judgement pada ruangan yang terbengkalai. Mereka hanya mencari ruang yang terabaikan, kemudian diperindah, dipercantik, dan dipermak sehingga mengundang perhatian kembali.

Pasca direspons, masyarakat sekitar dan pemerintah-lah yang menentukan selaku apresiator karya tersebut. “Pada akhirnya, terserah pemerintah buat mengecap benar atau salah. Ruang ini memang seharusnya ada atau enggak,” ucap pria yang pernah aktif jadi Komite Seni Rupa di Dewan Kesenian Jatim itu.

“Aksi ini emang ilegal dan bentuk vandal sih. Kita enggak izin, enggak opo, yowes sikat ae,” kata Komeng. “Sebenere kita nggak njaluk diperhatikan. Tapi, saat jadi perhatian, yo iku bonuse.”

Dengan anggota yang tidak sampai sepuluh orang, Dirareru berusaha konsisten mencari ruang dan ide lain. Salah satu yang menarik adalah kegiatan mereka di daerah Aloha, Sidoarjo, yang dikenal punya banyak pos polisi terbengkalai.

Tidak hanya merespons dengan mural. Komeng dan kawan-kawannya menggelar lapakan, performance, dan pembacaan puisi. “Mungkin ini bisa jadi bentuk protes karena keterbatasan ruang untuk berkreasi, pameran, dan sebagainya,” tutur Komeng.

Sebagai seniman yang bekerja di jalanan, cerita rebel Komeng membuat saya penasaran. Selain Dirareru, Komeng juga sering menggarap proyek mural di jalanan. Salah satunya di jalan baru sebelum Lenmarc, Surabaya Barat. Tentu itu berstatus proyek pure ilegal, tanpa izin apa pun dari pemerintah.

“Jadi pas mulai gambar, ada tiga truk satpol PP lewat. Kayaknya mau ngobrak danau Unesa. Waktu itu arek-arek gopoh. Sampek singitan nang selokan. Tuaek ancen,” kelakarnya sambil tertawa. “Tapi nggak diapa-apain. Cuman dimintai KTP.”

Komeng juga punya senjata sakti saat terjadi hal-hal seperti itu. “Aku ngomong ae: ‘Pak, aku mbiyen tau nggarap proyekane pemkot. Ambek pak iki iki iki. Yowes akhire aman,” ujarnya.