Malam itu, satu di antara dua penghuni rumah ini kebelet berak. Cepat-cepat dia masuk ke kamar mandi yang digabung dengan WC jongkok.

Beberapa saat dia menikmati bongkar hajat besarnya. Kemudian meraih gayung dan menciduk air dari jeding atau bak mandi. Yang tingginya hampir sejajar dengan kepalanya, karena dia jongkok.

Dia siram WC hanya untuk mengguyur tinjanya supaya tidak menumpuk, lalu mengembalikan gayung ke jeding. Namun tidak jadi. Sebab, ada separuh bulatan hitam yang muncul di tepi jeding.

“Masa itu gayung? Kan gayungnya aku pegang?” pikirnya, heran.

Perasaannya mulai tidak enak. Segera dia palingkan muka. Lalu mengejan kuat-kuat demi menguras isi perut. Berusaha mengalihkan pikiran-pikiran seram di antara waktu yang terasa lambat. Yang menjadikannya berak terlama dalam hidupnya.

Isi perut akhirnya habis. Refleks dia menggayung air. Tapi, ia seketika syok. Kini separuh bulatan hitam itu punya sepasang mata. Langsung dia lari hingga mendobrak pintu.

Pengalaman tersebut hanyalah satu dari episode-episode keseraman yang dialami penghuni rumah di kawasan Tuwowo, Surabaya. Padahal, rumah itu terlihat biasa saja, seperti rumah-rumah lain di sekitarnya.

Jika ditarik sejarahnya, tidak ada informasi yang begitu terkait dengan keangkeran tempat itu. Sebatas yang diketahui, dulu kawasan tersebut adalah bong alias pekuburan Cina. Yang lambat laun tersisih oleh pembangunan rumah warga. Namun, anehnya, pusat aktivitas gaibnya hanya di rumah itu.

Pada tahun 70-an, pemilik rumah yang masih berdinding bambu itu sakit keras. Dia lantas menjual rumahnya kepada salah satu warga yang mempunyai predikat ‘orang pintar’.

Entah kenapa dia menawari ‘orang pintar’ itu. Apa karena orang tersebut pernah menangkap dua benda mirip lilin yang menyala, yang berjalan-jalan memutari gang dan menakuti warga? Atau karena rumah itu sudah menjadi pusat aktivitas astral, sehingga hanya ‘orang pintar’ yang pantas membelinya?

Tidak ada informasi lebih.

Setelah dibeli, rumah tersebut dirombak total hingga menjelma bangunan tembok berlantai dua. Menjadi yang paling mentereng di antara rumah-rumah lainnya pada masa itu.

Namun, ada sepetak bagian samping, yang atas kebijakan pemilik baru, diberikan kepada satu keluarga. Yang ternyata sudah menyewanya.

Alasannya, pemilik lama rumah tersebut sering meminjam duit kepada mereka untuk berobat. Dan karena belum dikembalikan, mereka meminta bagian samping itu sebagai gantinya.

Hingga tahun 90-an, rumah yang sebelumnya hanya ditengok dan dibersihkan secara berkala itu ditempati dua anak laki-laki dari kelima anak pemilik rumah tersebut.

Dua remaja itu tinggal dengan barang-barang seperlunya, sehingga lebih mirip anak kos. Hanya saja, mereka lebih banyak makan horor daripada makan mi instannya.

Meski begitu, mereka tetap bandel. Sampai hafal motif keusilan hantu-hantu itu. Ada kalanya seperti mengajak bercanda. Namun yang paling kentara adalah, jika rumah itu digunakan untuk hal-hal yang ‘tidak benar’. Bisa dipastikan akan diganggu.

Bahkan, pernah ada pencuri yang bisa masuk tapi tidak bisa keluar. Dia seperti terjebak di dalam labirin. Sampai kelelahan dan terkulai loyo pagi harinya.

Berbagai kejadian tersebut rupanya berimbas pada rumah sampingnya. Apalagi, hanya dibatasi satu tembok. Yang tak lain keturunan dari keluarga ‘samping rumah’ tadi. Sang kepala keluarga merasa gerah, lalu berniat menetralisir tempat itu.

Malam itu, setelah mendapat izin dari pemilik rumah, dia masuk ke rumah tersebut. Di sana dia segera membaca-baca doa pengusiran hantu. Namun, hantu-hantu malah mendatanginya secara bergantian. Mulai kepala gelinding, anak-anak kecil, kuntilanak, sampai pocong.

Hingga muncul raja terakhir, yaitu kakek-kakek berjenggot panjang. Yang dengan lancar menirukannya membaca doa, persis, sampai khatam. Pengusir hantu dadakan itu jadi bengong. Lalu dengan kecewa ‘balik kucing’.

Keseruan persahabatan antara penghuni rumah dan hantu-hantu tersebut kini tinggal kenangan. Rumah itu telah dijual karena suatu sebab. Hingga membuat seorang cucu dari pemilik rumah merasa sedih saat menutup pintu pagar untuk terakhir kalinya.

Dengan tatapan nanar, dia memandangi bekas tempat tinggalnya tersebut. Dan berharap suatu hari bisa membelinya kembali.

Tiba-tiba pandangannya terantuk pada sosok anak perempuan di lorong samping rumah yang remang. Ekspresinya tampak marah. Seakan juga tidak rela kalau tempat tinggalnya beralih ke tangan manusia lain. Mendadak hantu anak-anak itu terbang dengan cepat ke arahnya sambil berteriak kencang.