Selain Hogere Burger School yang didapuk sebagai gedung sekolah tertua di Surabaya, ada satu lagi gedung sekolah yang terbilang sangat tua dan masuk kawasan cagar budaya. Yakni, SMKN 2 Surabaya. Letaknya di Jalan Patua Nomor 26, Surabaya.

Gedung sekolah tersebut diperkirakan berusia satu abad. Pada era kolonial, sekolah tersebut bernama Koningen Emma School (KES). Sedangkan pada masa pendudukan Jepang, namanya berganti menjadi Kogyo Senmon Ghakko.

Saat Belanda kembali menguasai tanah air, sekolah tersebut bernama Middlebare Technische School (MTS) atau setara sekolah menengah kejuruan. Sama halnya dengan HBS, pribumi yang bersekolah di sana harus berasal dari kalangan bangsawan, priyayi, atau ulama.

Tak heran, tempat tersebut masih memiliki aura keangkerannya sendiri. Salah satu kisah datang dari alumnus SMKN 2 Surabaya. Saat itu, desas-desus mengenai bangunan tersebut adalah bekas rumah sakit masih santer terdengar.

Dari sekian banyak catatan sejarah yang tertulis, tempat tersebut merupakan bekas penampungan korban tentara yang kalah dalam pertempuran. Karena itu, sosok serdadu Indonesia masih sering menampakkan diri di sana. Disertai beberapa penampakan lainnya.

Suatu ketika, seorang alumnus sekolah itu pernah melihat sosok perempuan yang berseliweran di koridor sekolah. Memang ada sebagian perempuan yang bersekolah di sana.

Tetapi, apakah lumrah jika seorang siswi berambut panjang terurai tak beraturan dan berbaju putih melayang-layang di luar jam sekolah?

Ada juga kejadian yang dialami mantan guru honorer. Beliau menceritakan sosok siswa pelengkap di salah satu kelas. Saat masih aktif mengajar, dia mengalami hal yang membuatnya merinding jika mengingat kembali hari itu.

Saat itu ujian sekolah sedang berlangsung. Di dalam kelas, ada satu siswa yang menganggu pandangannya. Duduk di bangku paling belakang. Bersebelahan dengan siswa yang fokus mengerjakan ujian. Wajahnya pucat dan menunduk ke bawah.

Beliau mengira siswa tersebut sakit. Dengan maksud menanyakan kondisi, guru tersebut menghampiri si siswa. Setengah perjalanan menuju tempat duduk siswa itu, tiba-tiba ada seorang murid yang menanyakan soal ujian.

Ketika beliau kembali melangkahkan kaki, siswa tersebut sudah tidak tampak lagi di bangkunya. Hanya ada seorang murid yang fokus mengerjakan ujian di bangku itu. Karena penasaran, guru tersebut menanyakan sosok siswa yang dilihatnya barusan.

Yang terjadi, si murid malah bingung dengan apa yang ditanyakan pak guru. Sebab, mulai awal masuk kelas, bangku di sebelahnya memang kosong.

Lain halnya dengan salah seorang pedagang kaki lima yang berjualan di luar sekolah tersebut. Jalan Patua memang terkenal sebagai sentra penjualan ikan hias. Suatu malam, saat akan menutupi barang dagangan, pedagang tersebut mendengar teriakan seperti komando baris-berbaris.

Dalam benaknya, itu tidak mungkin terjadi karena hari sudah sangat larut. Dia berpikir positif, mungkin sedang ada kegiatan di sekolah. Diklat, misalnya.

Teriakan komando tersebut semakin lantang hingga terdengar di luar gedung sekolah. Didorong oleh rasa penasaran, pria tersebut memanjat dinding sekolah.

Benar saja, yang dilihatnya adalah sekumpulan orang yang baris berbaris. Tetapi, semua badan orang tersebut tak berkepala.

Ini sebagian cerita saja. Mungkin masih banyak cerita yang tersebar di luar sana tentang keangkeran sekolah tersebut. Banyak gedung angker di Surabaya yang menyimpan misteri. Banyak pula kisah mistis di Surabaya yang menjadi khazanah dunia perhantuan tanah air.