Di beberapa sekolah menengah atas, tanpa berpretensi generalisasi, jurusan bahasa paling jarang difavoritkan. Sebaliknya, jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA) yang juga mencakup mata pelajaran matematika sangat difavoritkan. Tentu saja, “favorit” adalah narasi besar yang beredar luas di masyarakat, bahwa lulusan IPA kerap dianggap lebih cerdas, lebih beruntung dalam mencari kerja, dan masa depannya dirasa cerah.

Bagi murid-murid, memang tak selalu demikian. Mereka tak jarang menghindari jurusan IPA karena ogah berurusan dengan matematika. Penghindaran tentu mengarahkan ke jurusan IPS dan bahasa. Murid-murid jurusan IPS masih mungkin bertemu matematika di mata pelajaran ekonomi dan akuntansi. Murid-murid jurusan bahasa benar-benar berpisah dengan matematika. Bahasa dan matematika seakan tidak berjodoh.

Saya mencoba mencari bukti-bukti kecil ketidakberjodohan antara bahasa dan matematika. Saya lantas menjumpai beragam rupa kamus-kamus Indonesia-Inggris di toko-toko. Saya cukup menentukan dua kamus saja sebagai contoh: Kamus Lengkap 850 Trilyun yang disusun Hendra Yuliawan dan Kamus Lengkap 10 Trilyun yang disusun Warsito Darmanto.

Kamus-kamus sejenis sudah lazim beredar di sekitar kita, dan lebih populer ketimbang Kamus Indonesia-Inggris (1961) yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh oleh John M. Echols dan Hassan Shadily. Kamus berketerangan triliunan kata tersebut sering dipakai murid-murid sekolah, setidaknya sebelum gawai-gawai semakin canggih dan mudah didapatkan-dimiliki seperti sekarang ini. Bisa jadi, kita pun sempat memiliki kamus-kamus triliunan kata di rumah masing-masing.

Saya memulai pencarian bukti dari Kamus Lengkap 10 Trilyun. “Sebagai bahasa internasional tentu saja bahasa Inggris mendapatkan perhatian tersendiri di mata dunia. Kami pun menaruh perhatian khusus terhadap masalah ini, maka dalam kamus ini kami sertakan pula cara membaca setiap kata di dalamnya yang disesuaikan dengan lidah dan cara lafal masyarakat Indonesia,” tulis penyusun di kata pengantar.

Keterangan itu tentu tidak memuaskan. Saya belum mendapat bukti apa pun yang sahih ihwal keberadaan 10 triliun kata di kamus. Bahkan, di kata pengantar itu, penyusun hanya menyebut kamus susunannya sebagai Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris. Keterangan 10 triliun ditiadakan di kata pengantar.

Dugaan triliunan kata ditengarai ketebalan kamus. Kamus Lengkap 10 Trilyun itu tebalnya 688 halaman, dengan dimensi 14,5 x 20,7 cm. Apakah 688 halaman mungkin untuk menampung 10 triliun kata?

Sebagai perbandingan, esai satu halaman di kertas A4 biasanya bisa menampung 300-an kata. Saya tinggal mengalikan saja 300 dengan 688. Hasilnya ternyata mengecewakan, saya hanya mendapat 206.000 kata dari perkalian itu.

Saya mencoba iseng mengganti kata dengan karakter. Satu halaman esai termaksud biasanya terdiri dari 2.500 karakter. Saya coba mengalikan 2.500 dengan 688. Hasilnya tetap mengecewakan, saya hanya mendapat 1.720.000. Padahal, yang dikalikan adalah karakter, bukan kata, dan masih jauh dari triliun!

Saya telah membandingkan jumlah kata di sehalaman esai dan jumlah kata dalam kamus. Di esai, saya boleh menghitung semua kata yang tertampung. Sedang di kamus, tidak semua kata di tiap-tiap halaman dihitung. Sebab, yang saya hitung hanya lema.

Halaman kamus biasa terdiri dari dua kolom berjajar. Setiap kolom menampung sekitar 20-an lema, yang artinya pada tiap-tiap halaman ada sekitar 40-an lema. Masih butuh perkalian untuk membuktikan kebenaran klaim 10 triliun? Saya tinggal mengalikan saja 40 dengan 688, dan hasilnya jelas cuma 27.520 lema yang mungkin termuat di Kamus Lengkap 10 Trilyun.

Padahal, 688 halaman itu tak semuanya untuk menampung lema, namun masih disisipi lampiran informasi dan data umum, daftar kata kerja beraturan, kata kerja tak beraturan, dan tenses.

Saya baru membahas salah satu contoh kamus berklaim triliunan kata. Saya masih memiliki satu kamus “bermasalah” lagi, Kamus Lengkap 850 Trilyun susunan Hendra Yuliawan. Klaim jumlah kata di kamus tersebut jauh lebih fantastis ketimbang kamus susunan Warsito Darmanto. Bedanya hingga 85 kali lipat!

Dalam kamus yang kedua ini, perhitungan matematika semakin kacau. Saya sudah membuktikan 688 halaman tidak sanggup menampung 10 triliun kata, bagaimana mungkin 850 triliun tertampung kamus bertebal hanya 442 halaman?

Kamus Lengkap 850 Trilyun itu ukurannya lebih kecil, hanya setengah Kamus Lengkap 10 Trilyun. Dimensi Kamus Lengkap 850 Trilyun cuma 10,3 x 14,3 cm. Artinya, kita butuh empat eksemplar Kamus Lengkap 850 Trilyun untuk mengimbangi ukuran dan ketebalan Kamus Lengkap 10 Trilyun. Lho?!

Kamus-kamus triliunan kata sering kita jumpai tapi jarang dipersoalkan. Mungkin kita sama-sama mahfum bahwa “angka” adalah senjata utama dalam penjualan barang-barang, tidak terkecuali kamus. Para pelahap kamus tentu haus bahasa. Kamus triliunan kata justru bikin mereka mabuk angka.

Klaim triliunan kata bukan pembukti kualitas kamus, melainkan semata-mata pemikat dalam rangka mendongkrak penjualan. Klaim triliunan kata tak menjamin kepantasan kamus sebagai instrumen belajar bahasa, namun justru memosisikan kamus lebih sebagai komoditas.

Maka, pembuktian benar-tidaknya klaim triliunan kata dalam kamus-kamus itu sungguh upaya yang percuma dan buang-buang waktu belaka, termasuk seperti yang saya lakukan ini. Hadeeeh.