Bagi lelaki yang pernah menyukai musik-musik cadas, membahas genre dangdut koplo (dangkop) tentu kurang wajar. Sekaligus tampak cengeng dan kurang urban. Namun, harus diakui, beberapa bulan terakhir, atmosfer musik dangkop agak berubah. Dangkop tampil lebih substansial.

Saya merasakannya sejak dua atau tiga bulan lalu. Saat Asian Games 2018 usai dihelat. Pada pergelaran olahraga terbesar se-Asia tersebut, dangkop ditampilkan sebagai hiburan primer. Melalui lagu Meraih Bintang yang dibawakan Via Vallen, dangkop tampil sebagai musik yang mewah. Musik yang tidak bikin malu anak-anak muda kelas menengah.

Saya percaya bahwa Asian Games 2018 bukan momentum meroketnya musik dangkop. Tapi, dari Asian Games itulah, dangkop dikenal masyarakat luas sebagai musik elegan. Musik yang substansial.

Dangkop yang sebelumnya terkesan musik berlebih -baik dari gerakan tubuh maupun improvisasi penyanyinya- tampak lebih efektif dan fokus pada suara. Plus minim (kemunculan buah dada) gerak yang tidak perlu.

Saya tak mungkin bisa membuat tulisan ini jika warung giras tempat biasa saya ngopi tidak memutar sejumlah lagu dangkop secara terus-menerus. Dan itu-itu saja. Hampir setiap hari diputar.

Sialnya, setiap hari saya berada di sana. Saya pun mulai akrab dengan lagu-lagu Dunkdut kontemporer itu.

Saya mencatat, ada tiga lagu paling populer dan sangat mewakili genre dangkop elegan yang saya maksud. Yakni, Prei Kanan Kiri (Jihan Audy), Wegah Kelangan (Nella Kharisma), serta Bagaikan Bumi dan Langit (Via Vallen).

Terlepas dari siapa penciptanya, lagu-lagu tersebut benar-benar melekat dan ikonik dibawakan tiga diva dangkop asal Jawa Timur itu.

Dangkop yang sebelumnya mendayu-dayu, lebay, dan terlalu banyak menonjolkan unsur ekstrinsik kini lebih sederhana, syahdu, efektif, dan tentu saja elegan.

Coba dengarkan lagu Prei Kanan Kiri yang dibawakan Deq Jihan. Tentu lagu itu bukan imbauan ideologis agar tidak menjadi orang kanan (ekstremis) maupun orang kiri (Marxis), tapi lebih pada pesan optimistis supaya Anda yang masih jomblo atau sudah berpacaran berani budal rabi.

Hanya di dunia dangkop rasa sedih mampu disetarakan dengan rasa malas. Kamu malas mandi, artinya kamu sedih mandi. Hemmmh..

Prei kanan kiri adalah ungkapan untuk mengabaikan berbagai macam goda dan ragu di sekitarmu. Agar kamu tetap fokus satu (titik, hanya itu, titik itu) tujuan: pelaminan. Sebab, seperti yang kita semua tahu, menikah selalu dibuntuti keraguan, cuk.

…ra sah kakean haluan, ra sah ragu mergo kahanan, prei kanan kiriii…

Beda lagi lagu Wegah Kelangan yang dibawakan Nella Kharisma. Malas kehilangan tentu sikap manusia pada umumnya.

Lagu itu bercerita tentang betapa malasnya seseorang yang hubungan cintanya terancam gagal. Bukan sedih rek, tapi malas. Iya, wegah berarti malas. Hanya di dunia dangkop rasa sedih mampu disetarakan dengan rasa malas. Kamu malas mandi, artinya kamu sedih mandi. Hemmmh..

…jujur aku iseh sayang, wegah kelangan, mergo tresno wes takpatri neng njero ati, nanging piye maneh, iki wes kahanan, kudu pisahan.. 

Selanjutnya, lagu Bagaikan Bumi dan Langit yang dinyanyikan Via Vallen sebenarnya tidak terlalu jauh dari Wegah Kelangan. Nada-nada minornya tetap bersumber pada terancamnya hubungan cinta kasih karena tidak disetujui orang tua. Dan sialnya, seperti yang kamu ketahui bersama, gagal bercinta menjadi tema umum di musik dangkop.

Meski sama-sama menyampaikan rasa sedih perempuan lantaran kudu medot perasaan cinta, Bagaikan Bumi dan Langit terasa lebih tegar ketimbang Wegah Kelangan. Hanya di lagu itu pula, seorang lelaki terlihat lemah dan malah dipug-pug sama si perempuan.

….usaplah air matamu, relakan diriku, bukan maksud hatiku tuk melukaimu, tapi karena tak ada restu dari orang tuamu.. Huft huft huft. 

Bertema sedih ataupun senang, optimis maupun pesimis, tiga lagu iku iso nggawe sirah peno headbang secara tuma’ninah. Itulah keistimewaan dangkop: pokoke headbang.

Ibarat background gambar, dangkop itu fleksibel. Bisa dimuati gambar apa pun. Musik berbagai genre mampu dicoplo dengan sangat renyah.

Sebenarnya, andai tidak gengsi, dangkop setara dengan musik reggae yang bunyinya kecret-kecret. Meski nada yang ditimbulkan itu-itu saja, tetap mengasyikkan. Sebab, bisa dimuati musik jenis apa pun.

Yang bikin dangkop kurang jantan adalah liriknya yang melulu cinta-cintaan.

Andaikan dimasuki lirik-lirik idealis macam pembebasan, kekerasan, agraria, hingga kritik tajam atas pemerintahan yang otoriter, saya kira dangkop bakal lebih elegan dari musik reggae. Sebab, yang membedakan reggae dan dangkop hanya tema liriknya. Urusan nada dan sensasi podo plek.

Jika reggae saja mampu membingkai tema-tema idealis menjadi musik kecret-kecret, masak Dunkdut Coplo tak bisa mengemas tema perlawanan dengan musik yang thung thung ha’e ha’e?

Di tengah kreativitas bermusik yang membabi-picek seperti saat ini, saya berharap ada musisi yang memasukkan tema-tema non percintaan pada Dunkdut Coplo. Jadi, selain elegan, musik yang lahir dari masyarakat akar rumput tersebut bisa dengan bangga dibawakan anak-anak muda kelas menengah.