Kunjungan Pramoedya Ananta Toer ke Balai Pustaka pada 1949 mungkin menjadi pengalaman yang tak bisa dilupakan pengarang besar tersebut. Pram yang baru saja memperkenalkan diri di Balai Pustaka langsung disambut Idrus. Ketika tangan keduanya bersalaman, ringan saja Idrus meluncurkan kalimat pendek yang membekas di ingatan Pram, “Ini yang namanya Pramoedya? Pram, kau tidak menulis, tapi berak!”

Idrus mungkin satu di antara sedikit penulis Balai Pustaka yang dikagumi Pram. Bahkan setelah ejekan Idrus meluncur tepat di muka Pram, hal itu tak membuat dia berhenti mengagumi karya-karya Idrus seperti pernyataannya dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali yang disusun adik Pram sendiri, Koesalah Soebagyo Toer. “Idrus, itu! Orang Balai Pustaka! Orang yang aku kagumi!”

Di luar kekagumannya kepada Idrus, Balai Pustaka yang dianggitnya dalam pernyataan itu sering menjadi bulan-bulanan Pram karena dianggap sebagai penerbit yang tidak memberikan fungsi pendidikan, wawasan politik, dan moral sosial.

Balai Pustaka yang mengalami masa puncak pasca menerbitkan roman Salah Asuhan karya Abdoel Moeis disebut Pram tidak lebih dari voorschot pemerintah kolonial Hindia-Belanda kepada publik setelah likuidasi atas aktivitas politik yang dianggap meresahkan pemerintah kolonial melalui partai non-kooperasi yang revolusioner.  

Munculnya Salah Asuhan terbitan Balai Pustaka disebut sebagai upaya politik pemerintah kolonial untuk menonpolitikkan sastra melalui syarat-syarat sastra yang romantik dengan penggunaan bahasa Melayu yang dianggap baik dan berisi. Yang tak kalah penting adalah pembuktian bahwa sastra yang baik merupakan sastra yang jauh dari permasalahan politik.

Pram menilai sastra keluaran Balai Pustaka sebagai sastra antipolitik, antirealisme, dan antirasionalisme yang memiliki emosi tak terkendali serta bahasa yang buruk.

Kecenderungan sastra terbitan Balai Pustaka dicurigai Pram untuk memuluskan jalan sinisme terhadap revolusi, kehilangan vitalitasnya sebagai applied art—seni yang memikul tugas sosial, menetralkan pandangan para pengarang dengan memunggungi realitas.

Akibat paling buruk dari kecenderungan tersebut, para pengarang merasa lebih baik, lebih suci, lebih pintar dari segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya, kemudian berujung bentrok dengan semua orang. Terutama sesama pengarang yang sama saja dengan merintis jalan masuknya imperialisme-kolonialisme yang datang dengan kereta lebih modern.

Sebenarnya, sasaran Pram bukan hanya Balai Pustaka. Sebab, para pengarang yang dianggap Pram sebagai sastrawan realisme sosialisme tingkat pertama seperti Mas Marco dan Semaoen juga tak luput dari kritiknya.

Pram menyebut kerja-kerja Mas Marco dan Semaoen masih dalam taraf kompromi yang menawarkan kisah “happy ending” dengan keberhasilan menggapai cita-cita sosialisme sekaligus mengangkat tokohnya sebagai pahlawan yang berhasil naik ke ranjang pengantin.

Perjuangan memenangkan sosialisme, lanjut Pram, secara ilmiah belum berhasil karena perjuangan itu baru pada taraf menempuh jalan ke arah sosialisme.

Karena itu, kerja Mas Marco dan Semaoen dianggap hanya bunga-bunga perjuangan untuk memberikan gambaran ke depan jika sosialisme, kebenaran, dan keadilan berhasil ditegakkan.

Pada catatan akhir, Pram memberikan pernyataan yang menohok bahwa memenangkan sosialisme tak ada hubungannya sama sekali dengan perjuangan mendapatkan laki dan bini.

Kritik Pram kepada karya Mas Marco dan Semaoen bisa dibilang cukup lunak karena menganggap kerja-kerja pengorganisasian Mas Marco dan Semaoen nyata adanya. Dengan begitu, karyanya tidak bisa disebut sebagai kesalahan, tapi hanya kekeliruan.

Pelopor karya sastra pada masa revolusi macam Idrus dan Chairil Anwar adalah orang yang dikagumi Pram. Kritiknya pun meluncur deras dan sengit. “Idrus dengan Corat-Coret yang berpredikat bawah tanah itu ternyata cuma sampai pada menggaruk-garuk gatal di sekitar borok kemanusiaan.”

Chairil Anwar disebut Pram lebih maju dengan Aku-nya karena dianggap sebagai proklamasi perasaan rakyat bahwa Indonesia belum punah oleh tindasan pemerintah kolonial. Kendati Chairil belum sampai pada suatu keyakinan politis dan filsafat sosial.

Chairil Anwar baru sampai kepada orientasi kopi gurunya: Dunia Liberal, yang membuatnya berlaku binal ala “binatang jalang dari kumpulannya terbuang”.

Kecerewetan Pram soal karya sastra dan sikap kepengarangan terlacak dari sikapnya yang mengusung realisme-sosialis dalam tradisi sastra di Indonesia.

Ia tak menolak keindahan dalam sastra. Tapi keindahan itu semestinya terletak pada tujuan kemanusiaan: perjuangan untuk kemanusiaan dan pembebasan terhadap penindasan. Dengan tegas ia menyatakan, keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Sastra realisme-sosialis, menurut Pram, pertama-tama mesti mampu menjawab pertanyaan pokok. Untuk apa dan mengapa orang menulis? Sejauh mana materi penulisan dan perkembangannya sesuai dengan arah untuk memenangkan keadilan sosial bagi semua dan yang membutuhkan?

Dari pertanyaan pokok itu, watak setiap karya realisme-sosialis selalu bertendensi, memiliki tugas sosial, dan tak alergi dengan politik. Soal watak terakhir tersebut, Pram menebali pernyataannya bahwa kesalahan artistik dalam karya sastra lebih bisa diampuni dibanding kesalahan politik.

Realisme-sosialis mendapat perhatian yang meluas pasca Pram diangkat sebagai salah satu anggota Pimpinan Pusat Lekra dalam Kongres Nasional I Lekra pada 1959 di Solo. Ia dianggap sebagai panglima sastra dan juru bicara dalam bidang kesusastraan.

Puncaknya adalah naskah yang ia susun sebagai prasaran dalam seminar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 26 Januari 1963 yang berjudul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Naskah itu berisi kaidah sastra realisme-sosialis disertai perkembangan sastra di Indonesia.

Sayang, angin keburu berbalik karena dua tahun sesudahnya, lewat tragedi September, kubu kiri dibabat habis. Pram, orang-orang kiri, dan orang-orang yang diduga kiri dihukum tanpa proses hukum pengadilan. Realisme-sosialis yang diusung Pram melalui Lekra yang berafiliasi dengan PKI dianggap sebagai ideologi jahat.

Dibanding anggapan sebagai sebuah genre di Indonesia, desas-desus dan syak wasangka yang meliputi realisme-sosialis lebih besar seperti kasus mendera Pram dan Lekra-nya.

Realisme-sosialis keburu dicap sebagai haram jaddah, kendati dalam pembuka naskah Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia Pram menyediakan diri untuk “dikoreksi benar tidaknya pengetahuan, pikiran, dan tanggapan tentang realisme-sosialis pada umumnya, dan kenyataan-kenyataan serta fakta-fakta di Indonesia pada khususnya”.