Pernah ada suatu masa ketika perkembangan sastra di Indonesia tak ubahnya medan pertarungan yang sengit. Pertarungan antara golongan yang percaya bahwa sastra memikul tugas sosial untuk kemenangan rakyat pekerja dengan golongan yang ingin membebaskan sastra dari beban makna dan guna.

Masa yang disebut Sitor Situmorang sebagai masa yang tidak akan membiarkan lahirnya sastra iseng itu memang memunculkan raksasa-raksasa sastra yang nama dan karyanya menjadi wajah perkembangan sastra di Indonesia sekaligus jadi bahan bakar untuk memperuncing perseteruan dari dua golongan tersebut.

Sutan Takdir Alisjahbana pernah mengumpulkan para sastrawan dari dua golongan itu dengan pihak ketiga yang diwakili oleh dirinya untuk mempertemukan pikiran-pikiran mereka di depan S. Rukiah yang ditunjuk sebagai ketua pertemuan tersebut.

Mudah ditebak, pertemuan itu gagal total.

Saling tuding mengakibatkan gagalnya pertemuan tersebut. Sastrawan Lekra menyebut karya di luar Lekra hanya pabrik mimpi seperti bikinan Hollywood yang mencoba menutup mata pembaca terhadap ketimpangan, kelaparan, dan penghisapan yang terjadi di Indonesia dan seluruh muka bumi.

Sementara itu, sastrawan Gelanggang menilai karya sastra Lekra membuat sastra Indonesia kaku dan tidak berkembang dengan hanya mengagungkan kata ‘rakyat’, ‘revolusi’, dan ‘realisme’ sebagai kata saktinya.

Alisjahbana yang mewakili Pujangga Baru pun kena damprat karena dianggap sudah macet dan sedang menggali kuburnya sendiri. Sedangkan S. Rukiah lebih condong pada sikap Lekra yang mengutamakan perjuangan rakyat dan mendorong perkembangan sejarah.

Namanya Sri Isni. Tak pernah jelas ia lahir pada tahun berapa. Hanya disebutkan bahwa ketika Lekra didirikan, umurnya belum cukup untuk masuk Sekolah Rakyat.

Perseteruan itu sejatinya tak langgeng-langgeng amat karena mereka yang berseteru sempat mengambil jarak, meski caci maki dan saling ejek dari kedua golongan tetap mengisi celah-celah kekosongan ‘masa damai’.

Jika tak boleh disebut masa damai, mungkin itu adalah sikap masa bodoh terhadap laju tiap golongan.

Pada masa tersebut, Pramoedya Ananta Toer menemukan nama yang menurutnya akan jadi generasi yang membuka babak baru perkembangan sastra di Indonesia.

Adalah seorang perempuan yang sangat sedikit kita ketahui tentangnya, kecuali dari catatan dan pernyataan Pram sendiri. Namanya Sri Isni. Tak pernah jelas ia lahir pada tahun berapa. Hanya disebutkan bahwa ketika Lekra didirikan, umurnya belum cukup untuk masuk Sekolah Rakyat.

Hampir tidak ada dokumen yang menyertakan foto dan riwayat Sri Isni, kecuali satu-satunya puisi miliknya yang berjudul Laut.

Kekaguman Pramoedya kepada puisi Sri Isni, jika boleh kita bandingkan, hampir sama seperti kekagumannya terhadap Maxim Gorky. Pram menyatakan kekagumannya terhadap Gorky setelah melahap habis Keluarga Artomonov dan Ibunda —yang kelak ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia— kepada A.S. Dharta, “Gorky ini benar-benar seorang dewa.”

Melalui puisi Laut, Pram memberikan sanjungan kepada Sri Isni sebagai generasi baru yang tidak mengalami penjajahan asing dan hidup di atas tanah yang sudah merdeka.

Tapi, pada saat bersamaan, ia memiliki perasaan yang tajam dengan acuan moral sosial yang terus bergelora:

Wajah biru—ombak tak menentu
pada tepinya pasir yang terkancah air
menggeliat tubuh telanjang anak nelayan
dingin—lapar—dalam penantian

Pada perahu ia tak pernah jemu
karna bila bapaknya kembali bawa rejeki
esok bakal mengenyam nasi
ketika ombak melagu—nyanyi batinnya sendu
cekung matanya memantul tanya

Kapan kan jalan jadi milik yang kerja
kapan laut ini tak dikuasai
tuan-tuan pemilik sampan

Dan birunya laut adalah jawaban
terangnya hari datang adalah miliknya

Terang-terangan sanjungan Pram ditujukan atas puisi yang ditulis Sri Isni pada 1962 itu. Sri Isni disebut sebagai generasi yang tidak teracuni ukuran-ukuran serta latar belakang historis mengenai penjajahan asing dan bagaimana sebaiknya sastra berdasarkan argumen yang berlainan satu sama lain dari generasi yang lebih tua.

Puisi Sri Isni disebut Pram sebagai karya yang berhak bicara atas nama hari depannya sendiri, tanpa perlu larut dengan sentimen-sentimen melankolis masa penjajahan.

Sikap kepengarangan Sri Isni, yang meski berjarak dengan masa penjajahan, memiliki ketajaman dan tumbuh bersama perkembangan sosial itu sendiri. Tanpa perlu menyibukkan diri dengan glorifikasi yang tak perlu. Juga tak larut dalam humanisme universal yang ‘simpatik dan lunak’ serta kejangkitan pesimisme Eropa.

Puisi Sri Isni agaknya cukup mengejutkan. Terutama karena di tahun itu kecenderungan sastra yang beredar di kampus-kampus berisi melankolia yang berlarat-larat. Bahkan, muncul ejekan dari mahasiswa yang menganggap puisi-puisi dan sastrawan realisme sebagai “pengarang-pengarang rakyat kelaparan yang sedang mencari makan.”

Pram menyebut mahasiswa-mahasiswa seperti itu sebagai Don Kisot modern ciptaan tahun 1962, yang menderita udim politik dan membalik tudingan atas kekakuan sastra realisme dengan menyatakan bahwa mahasiswa dan peminat sastra ‘begituan’-lah yang kaku dan tandus hatinya.

Prediksi Pram atas sastra ‘begituan” akan segera terkubur dan digantikan generasi baru macam Sri Isni.

Prediksi Pram meleset. Setelah ’65 sastra realisme sosialis justru dikubur dalam-dalam. Sri Isni yang disebutnya sebagai generasi yang membuka babak baru tradisi sastra di Indonesia tak pernah muncul di kemudian hari.

Meski begitu, prediksi Pram tak sepenuhnya meleset. Sebab, puisi-puisi bergenre realisme yang belakangan lebih sering disebut “puisi-puisi protes” tumbuh subur di luar perkiraan Pram.

Puisi-puisi tersebut menjadi organik serta membuatnya ikut berkembang dengan lingkungan yang dihadapi dan dipilihnya: ruang publik. Bukan suprastruktur sastra seperti lembaga-lembaga seni dan angkatan-angkatan sastra yang saling berseteru itu.