Sebelum muncul revisi UU KPK, beredar narasi tentang polisi Taliban dan polisi India di tubuh KPK. Selanjutnya, muncul narasi tentang kadrun. Lebih tepatnya, KPK telah disusupi oleh kadrun.

Pada saat terjadi demonstrasi besar-besaran untuk menolak revisi UU KPK dan RUU KUHP, beserta beberapa RUU lain yang dianggap tidak pro rakyat pada bulan September lalu, narasi yang digunakan untuk melawannya juga narasi kadrun. Katanya, demonstrasi tersebut ditunggangi oleh kadrun.

Terpilihnya Fahrul Razi sebagai Menteri Agama juga lagi-lagi diselimuti dengan narasi kadrun. Katanya, orang militer dipilih untuk membasmi kadrun.

Kok sedikit-sedikit kadrun sih?

Kadrun adalah akronim dari kadal gurun. Sebuah konotasi negatif terhadap radikalisme berkedok Islam. Kiasan itu ditujukan kepada kelompok berpandangan sempit yang kearab-araban dan kelompok yang menginginkan Indonesia menggunakan sistem khilafah dalam artian sempit.

Radikalisme memang merebak di mana-mana. Bentuknya bermacam-macam. Pertama, radikal dalam artian eksklusif dalam urusan syari’at, style, dan mode. Biasanya kelompok seperti ini merasa risih dengan orang lain yang berbeda dalam urusan khilafiyah pada ibadah.

Mereka menganggap budaya yang paling baik adalah budaya kearab-araban. Termasuk pada cara berpakaiannya. Orang yang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya dianggap salah. Secara fatal, ada yang dianggap kafir.

Kedua, radikal dalam artian eksklusif dalam urusan politik. Kelompok seperti ini ada yang secara syari’at, style, dan mode sama dengan kelompok eksklusif yang dijelaskan sebelumnya. Ada juga yang tidak. Yang pasti menyatukan mereka adalah pandangan politiknya.

Bagi mereka, cara berpolitik dan bentuk kekuasaan yang terbaik adalah dengan memakai sistem khilafah secara sempit. Khilafah menurut penafsiran mereka, yang bagi mereka sejalan dengan sejarah Islam masa lalu di zaman sahabat nabi dan dinasti-dinasti berikutnya, yang dianggap sebagai masa-masa kejayaan Islam.

Kekhawatiran tentang Islam yang berpandangan sempit tersebut memang perlu, karena kasusnya memang banyak terjadi di masyarakat. Di banyak tempat, orang-orang semacam itu bahkan sering bikin onar dan membuat masyarakat terpecah dengan memaksakan kebijakan tentang apa yang sesat dan tidak, apa yang halal dan haram, apa yang baik dan buruk. Dalam skala nasional pun biasanya pandangan ini lebih kepada sesuatu yang bersifat politis.

Namun, kekhawatiran tersebut jangan sampai berlebihan. Jangan sedikit-sedikit berprasangka, “Wah, ini ada unsur radikalnya! Wah, ini ada bau-bau kadrunnya!” Kita harus belajar berpikir jernih, memandang secara objektif.

Perihal kekhawatiran masyarakat tentang radikalisme tersebut, bukan hanya dimanfaatkan untuk mengantisipasi merebaknya radikalisme, tetapi juga untuk propaganda politik. Sebenarnya, pada narasi-narasi yang berlebihan tentang radikalisme atau kadrun tersebut terlihat, mana yang benar-benar untuk mengantisipasi radikalisme, mana yang sebagai propaganda politik.

Kalau ada unsur nyinyir yang berlebihan, bisa disimpulkan bahwa itu propaganda politik. Akibatnya adalah, alih-alih semakin bisa dikendalikan, radikalisme secara kultural justru semakin meningkat. Orang-orang berpandangan sempit menyusup ke tengah kelompok masyarakat.

Masalahnya, polarisasi membuat masyarakat tidak bisa membedakan mana narasi yang digunakan untuk mengantisipasi radikalisme dan mana narasi yang digunakan sekadar untuk propaganda politik.

Hal itulah yang membuat masyarakat semacam kehilangan kemampuan untuk berhati-hati. Dalam kasus lain, juga membuat perjuangan-perjuangan yang bersifat pro rakyat menjadi tidak maksimal. Oleh sebab itu, sudah waktunya kita menghentikan perputaran narasi yang membelokkan ini. Jangan sedikit-sedikit kadrun lah!