Disclaimer: Tulisan ini mengandung spoiler tipis-tipis

Jika dilihat dari kualitas penyampaian cerita, sebenarnya film Joker tak terlalu asyik. Dari awal sampai akhir, datar-datar saja. Tak ada usaha membuat penonton naik adrenalinnya dengan memberikan efek terkejut, atau mungkin yang mampu membuat penonton merasa, “Ini nih, puncak keseruannya.”

Ada beberapa catatan yang membuat film Joker terasa kurang asyik. Pertama, timing menyampaikan penyiksaan di masa kecil dengan penyiksaan-penyiksaan ketika Arthur Fleck menjadi badut sedikit kurang pas, sehingga terkesan seperti tambal sulam saja, bukan saling menguatkan.

Kedua, konflik antara Thomas Wayne dengan Athur Fleck kurang diperjelas. Saya yakin, sampai film itu selesai pun masih banyak yang bingung, sebenarnya Thomas Wayne pernah tidur dengan Penny Fleck atau enggak sih?

Ketiga, penyampaian kisah masa lalu Penny Fleck masih kurang jelas untuk mempertegas bahwa dulu ia mengalami gangguan jiwa. Pasalnya, ketika sudah tua kan dia terlihat kalem-kalem saja.

Penny terlihat seperti orang tua lugu, yang mengharapkan belas kasih dari seseorang yang entah dulu benar-benar menjadi kekasihnya atau hanya majikannya.

Andai saja kegilaan itu masih ada di masa tuanya, mungkin penonton bisa merasa lebih yakin tentang kegilaannya di masa lalu. Data-data yang didapat dari rumah sakit jadi terkesan kontradiktif dengan kenyataan di masa tuanya.

Keempat, skizofrenia yang dialami oleh Arthur Fleck diceritakan dengan kurang halus. Ketika Arthur salah masuk ruangan, tiba-tiba ditampilkan informasi kalau ia sebelumnya tidak bersama perempuan berkulit hitam tetangga kamarnya. Adegan itu terasa agak aneh.

Dari awal tak ada upaya menjelaskan, bahwa selain punya kelainan suka tertawa tanpa alasan yang jelas, Arthur juga terkena skizofrenia.

Coba kita bandingkan dengan film lain yang hampir mirip, yaitu Glass. Keduanya sama-sama memiliki unsur psychology-crime, tapi kejeniusan Ellijah Price atau Mr. Glass lebih mampu membuat penonton terkejut. Tingkah polah Kevin Wendel Crumb yang nggilani juga tentu lebih bikin gemes daripada perilaku Joker.

Usaha untuk menampilkan sepak terjang Mr. Glass dalam mewujudkan obsesinya di kehidupan nyata diceritakan secara halus. Plot twist yang tepat di beberapa bagian membuat film Glass semakin terlihat seru.

Tentu saja film ini juga punya titik puncak keseruannya. Ketika tiga tokoh utama, yaitu Ellijah Price atau Mr. Glass, David Dunn, dan Kevin Wendel Crumb berada di depan rumah sakit saling bertarung satu sama lain, yang dimenangkan oleh Mr. Glass sebagaimana cerita-cerita hero vs villain klasik.

Selain karena ada nama-nama keren seperti Samuel L. Jackson yang berperan sebagai Ellijah Price, Bruce Willis sebagai David Dunn, dan James Mc Avoy sebagai Kevin Wendel Crumb, saya kira kepiawaian sutradara menyusun adegan demi adegan sangat menentukan berhasil atau tidaknya film tersebut.

Night Shyamalan memang spesialis film-film thriller dengan plot twist yang juga berhasil memanfaatkan kemampuan akting para aktor terbaik.

Dalam Joker, Joaquin Phoenix tampil spektakuler. Sayangnya, Tod Phillips merusak kekerenan itu dengan alur yang datar-datar saja. Maka jelas dong, film Glass lebih keren dibanding Joker.

Anehnya, penonton justru lebih banyak memberikan respon terhadap film Joker alih-alih pada film Glass. Sejak penayangan pertamanya, di media sosial banyak sekali orang yang mendadak jadi kritikus film dan mengelu-elukan film ini.

Memangnya ada apa sih dengan Joker? Mengapa film dengan tingkat keseruan yang biasa-biasa ini banyak dibicarakan?

Jika saya lihat, dari opini yang berkembang dari tulisan-tulisan pendek yang dijadikan status medsos ataupun yang dimuat di banyak media daring, kebanyakan menjadikan film Joker sebagai pintu masuk untuk membaca realitas sosial.

Di dalam film Joker, cerita yang ditampilkan bukan hanya obsesi individu tokoh utamanya sebagaimana yang ada pada film Glass.

Joker menceritakan permasalahan sosial-politik yang terjadi di kota Gotham. Kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin yang sangat tinggi membuat rakyat menjadi begitu beringas karena stres dengan kehidupan kelam dan tidak adil yang dialaminya.

Joker yang sebenarnya tidak peduli dengan semua itu kemudian berubah dan melakukan perbuatan-perbuatan yang diakibatkan oleh penyakit mentalnya. Perilaku itu dianggap mewakili suara rakyat kebanyakan. Dijadikanlah Joker ini sebagai simbol perlawanan.

Saya kira, orang-orang banyak membicarakan film Joker selain karena ia dikenal sebagai musuh bebuyutan Batman adalah juga karena banyak orang merasa terwakili dengan cerita itu tadi. Para penonton sudah tak peduli lagi dengan kualitas, karena yang bergerak adalah perasaannya.

Belakangan ini, di Indonesia memang terjadi banyak masalah. Mulai dari Papua, Karhutla, hingga RUU dan UU bermasalah yang menyebabkan banyaknya demo menuntut perbaikan atas isu-isu itu.

Tidak lama setelah digelarnya aksi massa di berbagai penjuru Indonesia, tayanglah film Joker yang di dalam ceritanya juga menampilkan adegan demonstrasi besar-besaran. Bukankah itu terasa begitu cocok dengan situasi dan kondisi batin banyak orang?

Agaknya, para penghuni Senayan dan Istana Negara harus nonton film itu. Kalau masih tidak merasa tersindir, berarti ada yang salah dengan perasaan mereka.