Pagi itu masih diselimuti kabut. Di pondok pesantren di pinggiran kota K, masih terdengar suara santri sibuk mengaji. Sepasang bapak dan ibu, Pak Agus dan Bu Halimah, tiba di ponpes itu. Mereka berniat membesuk Hadi, anak kesayangan mereka.

Sembari menunggu, mereka memutuskan berjalan-jalan, menikmati udara segar di kawasan pesantren. Dari kejauhan, mata Bu Halimah tertuju pada sesuatu yang menggantung. Tampak seperti boneka di sebuah pohon pinggir lapangan, tempat para santri biasa berolahraga.

Boneka itu terlihat menggemaskan. Sesekali, mereka mengambil foto di sekeliling mereka, termasuk sudut arah boneka yang mereka hampiri.

Area lapangan pesantren di pagi hari memang masih sepi. Para santri masih harus mengaji di asrama masing-masing.

Semakin dekat, Bu Halimah semakin gemas. Boneka berukuran besar itu memakai pakaian khas santri.

“Lucu ya, Pak,” ujar Bu Halimah sembari menoleh ke arah Pak Agus yang berada di belakangnya.

Namun, ibu itu heran melihat ekpresi wajah suaminya. Beliau tampak begitu syok melihat boneka itu.

“Kenapa sih, Pak, kok kaget gitu wajahnya?” tanya Bu Halimah. Pak Agus masih menatap boneka itu dengan ekspresi penasaran sekaligus ketakutan. Dirinya lantas mendekati boneka itu. Mata Pak Agus semakin tercengang. Seolah tak percaya…

*

Suara lonceng bel pondok pun berbunyi. Tanda bahwa kegiatan mengaji di asrama telah usai. Pak Agus dan Bu Halimah segera beranjak menemui Hadi. Mengingat tak banyak waktu luang di sela padatnya jadwal kegiatan pondok, keduanya langsung bergegas tanpa banyak cakap.

Keluarga itu bertemu di kantin pondok yang telah disediakan untuk para tamu atau wali murid. Layaknya orang tua yang telah lama tak bersua dengan anaknya, Pak Agus dan Bu Halimah pun melepas rindu dengan berpelukan. Mereka lantas saling bertukar kabar.

Di tengah perbincangan, Hadi kerap melihat ada yang aneh dengan ekspresi kedua orang tuanya. Apalagi, Pak Agus tiba-tiba minta dipertemukan dengan ustadz pengasuh di pondok tersebut.

“Lah, kenapa, Pak? Waktu kita kan nggak banyak buat ketemu?” tanya Hadi keheranan.

“Ada yang mau Bapak sama Ibuk obrolin. Minggu depan kan bisa ketemu lagi. Nanti kita luangkan waktu lagi buat ketemu kamu,” jawab Pak Agus.

Tak bisa bertanya lebih jauh, Hadi pun menuruti permintaan orang tuanya. Mereka kemudian menemui ustad tersebut di kantor pengurus.

“Monggo pinarak, Pak, Bu!” sambut Ustad Ibrahim, pengasuh pondok sembari mempersilakan mereka duduk di ruang tamu.

“Gimana kabar Bapak dan Ibu? Sehat, ya? Hadi juga, ya? Alhamdulillah. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ustad Ibrahim.

Tanpa basa-basi, Pak Agus pun bercerita tentang boneka yang tergantung di pohon pinggir lapangan tadi. Pak Hadi juga mengaku sempat memotretnya.

“Boneka apa, Pak? Kami tidak pernah mengizinkan santri membawa boneka di lingkungan pondok pesantren lho, Pak. Apalagi sampai menggantungnya di pepohonan,” ujar Ustad Ibrahim keheranan.

Pak Agus dan Bu Halimah pun terkejut dan saling berpandangan.

“Bukannya ada boneka yang pakai sarung di pohon itu, Pak Ustad?” tanya Bu Halimah tak percaya. Ustad Ibrahim pun menggelengkan kepala sambil terheran.

“Bapak coba kasih lihat fotonya, Pak,” ujar Bu Halimah.

Pak Agus lantas mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, lalu memberikannya ke Ustad Ibrahim.

“Nah, ini lho, boneka yang kami maks—“ ucapan Pak Agus tiba-tiba terhenti. Beliau mendegut ludah.

Tak ada apa-apa di pohon itu. Tak ada satu boneka pun yang tergantung!

Ustad Ibrahim menarik napas, mengingat peristiwa kelam yang pernah terjadi di pohon itu…

BERSAMBUNG