DNK

Di India, Nikah Nggak Segampang Kayak di Film-film Bollywood-nya

Di India, Nikah Nggak Segampang Kayak di Film-film Bollywood-nya

Permasalahan gender dan kekerasan seksual di Indonesia belum banyak yang muncul ke permukaan. Kasus yang mencuat pun, selalu bisa kita lihat polanya. Di antaranya, insiden bakal terkuak setelah terjadi sekian lama. 

Itu kemudian langsung dieksploitasi berita kriminal yang memakai bahasa yang cenderung merendahkan, seperti: “Perempuan Disetubuhi 5 tahun oleh Ayah dan Kakak Kandung,” atau, “Seorang Nenek Diperkosa Bertahun-tahun oleh Tetangganya,” atau, “Laki-laki Perkosa Sepupunya selama 30 tahun.”

Dalam konteks negara berkembang, fenomena ini tak jauh berbeda dengan yang terjadi di India. Kebetulan saya pernah berkesempatan berkuliah di tanah Hindustan. Negara yang terletak di Asia Selatan ini, punya prevalensi pemerkosaan yang tinggi. 

Setiap hari, kita pasti bisa menemui berita perkosaan. 

Tapi yang perlu kamu tahu, India dan Indonesia punya budaya berbeda dalam memperlakukan  perempuan. Di Indonesia, bias gender yang terjadi masih lekat dengan tradisi Islam. Banyak perbedaan pendapat ulama yang mengatakan posisi perempuan dalam Islam. 

Sedangkan di India, yang merupakan negara dengan penganut Hindu terbesar di dunia, posisi perempuan tak dijelaskan secara eksplisit. Namun budaya turun-temurun sejak penjajahan Inggris, masih menganggap perempuan sebagai beban keluarga.

Salah satu penyebabnya adalah, dalam pernikahan di India, baik arranged marriage (perjodohan) atau love married, perempuan yang harus melamar laki-laki. Nah, saat melamar, pihak perempuan wajib membawa seserahan yang biasanya disebut dowry. 

Wujudnya, bisa uang atau barang. Sayangnya, ditengah arus kehidupan modern, masih banyak keluarga laki-laki yang dengan arrogan meminta dowry dalam jumlah besar. Yang perlu juga diketahui, dowry tak hanya dilakukan oleh masyarakat Hindu. 

Semua agama yang larut dalam tradisi ini akan melakukannya. Contohnya teman kelas saya saat kuliah, pria penganut Hindu konservatif yang bergabung dengan partai politik di provinsi Karnataka. 

Teman saya punya karier yang lumayan moncer. Dia digadang-gadang bisa mencalonkan diri untuk pemilihan legislatif mewakili salah satu kota. Menurutnya, dengan karirnya yang pesat, dia bisa menaikkan harga jual dirinya lewat dowry nanti.

Ketika saya tanya, dia menjawab akan membanderol dowry pada calonnya, senilai Rs 10 lakh atau sekitar 200 juta rupiah. Wow! 

Cerita lain, kali ini dari seorang teman perempuan yang juga muslim, sebut saja namanya Maryam. Seperti yang diketahui, Islam di India memakai mazhab Imam Hanafi. Nah, Maryam ini berpacaran dengan seorang pemuda muslim, dan dia ingin sekali menikah dengan pemuda itu.
 
Sayang, muslim di India juga lebih mengenal arranged marriage. Keluarganya pun tidak sepakat karena sudah memiliki calon sendiri untuk Maryam. Namun, Maryam lebih memilih berjuang untuk love marriage dengan pemuda yang dicintainya. Dia menentang perjodohan keluarganya.

Butuh waktu memang. Keluarga Maryam pun akhirnya luluh dengan syarat Ayah Maryam harus mengirim orang untuk menyelidiki latar belakang keluarga kekasih Maryam. Tak ayal, ayah Maryam tak menyangka, kekasih Maryam berasal dari kasta yang lebih tinggi dari keluarga Maryam (Islam pun berkasta di India, lho). 

Keluarga Maryam pun langsung setuju untuk melamar kekasih Maryam. Menurut Maryam, hal itu semua dilakukan oleh ayahnya karena mereka harus yakin, dowry yang sudah dikeluarkan setara dengan nilai seorang laki-laki itu. 

Muslim dengan kasta yang tinggi di India, biasanya dikenal melalui ciri dekatnya keturunan mereka dengan Arab Saudi, dan seberapa besar cakupan wilayah dagangan mereka. Karena di India, Islam lekat dengan profesi pedagang. 

Meski Maryam adalah perempuan berpendidikan tinggi, ibunya pun merupakan seorang rektor di salah satu sekolah tinggi, namun mereka juga masih melanggengkan budaya bias gender itu sendiri. 

Faktor dowry inilah yang membuat keluarga konservatif merasakan anak gadis adalah beban. Khususnya dari keluarga yang berasal dari kasta yang rendah, atau dari keluarga miskin. 

Seorang teman perempuan India yang berprofesi sebagai pengacara mengatakan, dowry menjadi alasan masih banyaknya keluarga dari kalangan ekonomi miskin yang mengeksploitasi anak gadisnya untuk menikah dibawah umur. 

Kultur inilah yang menyebabkan adanya kekerasan seksual akibat pemaksaan pada anak di bawah umur tumbuh subur.

Meski anak gadisnya belum 18 tahun, dan ada yang mau menikahi anaknya, mereka akan dengan senang hati menikahkan anaknya. Daripada di kemudian hari mereka harus mengumpulkan uang untuk dowry. 

Para perempuan yang tidak mau membayar dowry, harus rela hidup membujang bila calon pasangannya tetap membandrol nomimal dowry untuk menikahinya. Kejadian seperti ini jamak terjadi di India. 

Khususnya pada perempuan yang berpendidikan tinggi, karena mereka sudah merasakan betapa egaliternya negara-negara lain memperlakukan perempuan dan laki-laki. 

Menurut mereka, hidup sebagai perempuan yang tidak menikah di India bukanlah perkara nominal dowry semata. Namun sebuah pilihan untuk mendobrak nilai yang sudah tidak relevan dengan hak asasi manusia.