Menyaksikan anak-anak milenial diajari tata cara mengatur uang yang sahih dan kaffah terasa bagai menyuruh dedek-dedek balita masakini mengocok kartu remi dengan meletakkan gawainya. Cara ngocok yang baik dan enak dari depan, ya, Dek, tarik ke belakang, pelan-pelan. Ulangi lagi, lagi, lagi, Dek. Terus, Dek, terus. Oh…. Plak, keplaki.

Lho, lho, sikto, kenapa memangnya kalau ngocoknya dibalik, sambil jempalitan, dari atas ke bawah, kanan ke kiri, gitu? Kartu lho ya maksudnya ini.

Kan ndak papa. Sahih saja, baik saja, finalnya….ya enak juga. Maksudnya, selesai juga ngocok kartunya dengan enak-enak saja.

Nyebelinnya, yang ngajarin kaifiyat fiqh fulus itu adalah sobat dewe, guru dewe, idola dewe, kokmen serba dewe lah, Mas Haryo Setyo Wibowo aka Abu Roman al-Sumehi –nama baru setelah hijrah. Wong Jakarta pula. Wes matang-wit pula umurnya.

Mendadak saya jadi ingat masa saya rajin ngajarin anak-anak muda menulis fiksi beberapa tahun lalu di Kampus Fiksi.

Di antara gojekan yang saya jedulkan ialah banyak benar buku-buku novel teenlit di pasaran hari ini yang ditulis bukan oleh teenager, tapi oleh orang-orang yang wes jenggotan dan gampang masuk angin. Jadinya, itu teenlit-jenggotan-masuk-anginan.

Walaupun di dalamnya ada alur yang-yangan-nya juga, feel dramanya tetap saja jenggotan-masuk-anginan. Bukan milenial yang kaffah!

Ini persis era booming buku Ayat-Ayat Cinta dulu, membludaklah di pasaran novel-novel dengan stempel kudus NOVEL RELIGI. Assalamu’alaikum-nya ada, bismillah-nya ada, tapi ya yang-yangan ciuman grepeh-grepehan juga ada. Mestinya kan ta’aruf, to. Atau sebaliknya, ta’aruf asal yang-yangan. Minim-minim, ya labelnya religi, to. Suog!

Dear Mas Haryo yang tukang nyelengi wit nongko.

Jadi begini. Begitu juga boleh. Begindang ya okelah. Koyok karo sopo wae….

Ada contoh kasus nyata nih, ya. Ya, saya sendirilah. Apa ya yang harus saya lakukan dengan belanja keuangan (belanja, Mas Haryo, bukan mengatur demi hemat, lho) di awal tahun 2019 ini karena pendapatan saya terus over banget dibanding ekspektasi yang saya angankan?

Ini bukan masalah mengatur duit supaya survive sebagaimana lazimnya fatwa Panjenengan lho, Mas Haryo. Ini masalah membelanjakannya. Ya, ngentekke dengan semangat dan riang gembira.

Ini masalah keuangan juga lho, Mas.

Tok kiro masalah keuangan hanya soal kekurangan duit po? Mbleber duit pun ya masalah.

Gimana nih nasihat keuangan Mas Haryo?

Plis jangan endo-endonan dengan menjawab, “Mdrcct….”

Baik, biar lebih meyakinkan bahwa ini masalah banyak orang juga, saya nukilkan contoh nyata lain yang dialami Pakdhe Muhammad Gunawan, wong Semarang, yang sebiji velg mobilnya bisa nebus sebuah Mio anyar tanpa perlu merasa eman untuk disawang-sawang kala sedang melaju. Jadi, ke mana-mana, jan-jane beliau sedang numpak lima Mio, termasuk ban serepnya.

Ia berkisah tentang masalah keuangannya. Yakni banyaknya orang utang ke dia dan tak bayar sesuai janji. Pikir punya pikir, lanjutnya, kok memikirkan pinjaman molor yang lumrahnya zaman sekarang kudu diikhlaskan hilang sejak detik pertama memberikan pinjaman, hidupnya malah jadi ribet sendiri.

Padahal fungsi uang dalam hidup ini kan ya untuk menyumbangkan kebahagiaan. Lalu ia berinisiatif mengambil manuver ciamik, yakni menyemati para peminjam nunggak itu agar terus ngoyo dalam berutang, plus silakan nyidhuki sendiri pinjamannya. Masih banyak stok restitusi kok, wong sekali restitusi, puluhan wit nongko aleman bisa langsung ditebangi sak iyige, tuturnya.

Apa yang kemudian terjadi, Mas Haryo?

Cek dan riset  sendirilah, Mas Haryo, hakok manjah apa-apa saya kasih info, lalu dijadikan bahan tulisan, lalu ditayangkan, lalu dapat honor sendiri. Kayak Iqbal Aji Daryono saja.

Saya rekomendasikan Panjenengan untuk bertandang ke pusat-pusat aktivitas anak-anak milenial. Kafe Basabasi, misal. Coba riset.

Ada berjubel anak muda, yang usianya terpaut sekira 50 tahun dibanding Mas Haryo, yang setiap saat petengkrengan di kafe ini. Kegiatannya ya ngopi, ngudud, jajan, main HP, online, nyalain laptop, ngegame, mbribiki, speak-speak, browsing, puwisah-puwisih cintah, dll. Pokoknya tak jauh-jauh dari online dan mdrcct gitu.

Nyata banget aktivitas rutin setiap hari itu membutuhkan biaya. Uang. Jika dihitung umum saja katakanlah sebesar Rp. 50.000 sama rokoknya per hari, sebulan butuh 1.5 juta.

Ya sih, Mas Haryo, plis jangan samakan tamsil ini dengan kondisi saya lah. Kendati tempo hari Mas Haryo pernah ngece banget waktu menuliskan angka 5 juta/hari sebagai belanja harian saya, tetaplah ya pengeluaran cah-cah milenial tadi adalah uang riil. Bukan godong nongko iyig atau ramuan wani selfie maupun bayi-bayi teri yang disembelihi dengan tega.

Karena itu ihwal uang yang terus bergulir, niscaya Mas Haryo auto-memahami dengan sekadar lirikan mata kepakaran bahwa itu pun bagian dari persoalan keuangan. Misal, bagaimana mereka yang kerjaannya teletekan gitu aja bisa membelanjakan sejumlah uang tersebut dengan ngoyo?

Betul, mereka ngoyo menjalani hidup begituan. Ngoyo ngopi, ngoyo ngudud, ngoyo ngindomie, ngoyo online, ngoyo cekikikan, ngoyo mbribiki ciwi-ciwi embuh dengan puwisih-puwisih cintah seolah kompleksitas hidup ini beres dengan narasi-narasi “oh pelukan, oh cumbuan, oh darling, oh tapuki cangkeme men sesuk ra cengkeman”, dan ngoyo mdrcct lah pokoknya.

Memangnya Mas Haryo, ngoyo ngolesin minyak angin cap Elang dan nempelin koyo lalu diaku-aku tato masa-masa mremani? Hih kzl bats….

Ini fenomena melenialnya, Mas! Sangat riil!

Apakah Mas Haryo tetap akan menerapkan teori zaman teklek bahwa menabung adalah pangkal kaya? Rajin bekerja keras adalah pangkal sukses? Rajin prihatin adalah pangkal endang dan karena itulah ia dinamai Endang Prihatin?

Hawong wes sugeh, turah-turah, kepenak jajan apa wae lan jajakke anak-anake wong, ya kayak saya ini misal –maaf ya ini bukan sombong tapi tahaddust bin ni’mah—masak difatwai menabung, kerja keras, berhemat, menabung, kerja keras, berhemat. Hih, kzl bats akutu, Mas….

Niscaya tertampik!

Ontologi anak milenial, fyi, adalah wegahan. Wegah tidur jam sembilan malam dan bangun jam empat pagi. Wegah kerja keras kok kayak bukan wong Jogja saja. Wegah nikah muda tapi ena-ena ya keniscayaan –minimal, sabun atau losyen selalu ready. Wegah mikir ruwet karena hidup ini simple.

Wegahan mandi karena mandi, kata Ejanupah, hanya untuk orang-orang yang merasa dirinya kotor. Wegah manut dan ngalah demi harmoni, karena manutan dan ngalahan adalah tanda lemah iman-feminis-SJW. Kokmen, kudu ngeyel, wani ngeyel, walau tak cantik, cengele ireng. Ini kunci dasein mereka!

Apalagi kok dinasihatkan menabung. Ya ndak relevan. Ditertawai.

Tentu saja, anak-anak milenial yang disasar fatwa-fatwa kepakaran Mar Haryo menyimpan impian yang sama saja dalam hal keuangan dengan kita-kita semua. Pengin kaya raya, tapi tetap wegah kerja keras dan nabung. Pengin hidup nyaman dalam spirit malas yang penuh semangat. Betul, ngoyo malas! Pengin wik-wik tapi emoh nikah, karena dipandang ngeribeti.

“Jika orang lain rajin bekerja keras, kenapa saya harus bisa juga? Jika saya juga bisa, lalu apa bedanya kualitas saya dengan dia?” Begitu di antara kredonya.

Dan, nyatanya, mereka tetap hidup, Mas Haryo! Mesio rupane koyok wit nongko. Life is tetap life lho artinya. Tidak kok lalu berubah jadi maut karena pola ontologis hidup mereka berubah dengan zaman Panjenengan.

Mohon tahan dulu, ya, Mas Haryo, jangan komentar “mdrcct” dulu.

Tapi, eh, btw, apakah Mas Haryo sudah mumet sampai di sini? Jika iya, sebaiknya Mas Haryo kembali membaca Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta karya Tere Liye atau Kisah Lengkap 25 Nabi karya Iqbal Aji Daryono atau pakai headset saja dan dengerin taushiyah Ustadz Abdus Samad atau momong cucu (tetangga) sambil nyawangi perkutut di teras belakang rumah sambil gosokan balpirik. Ayem, adem, seger.

Begitu ya, Mas Haryo.

Saya sabar menanti pencerahan njenengan atas segala kepelikan hidup ini, walau aslinya ya ming sederhana namun dibikin gawat-ngoyo-rumit oleh njenengan.

Dan, sebagai sahabat yang kerap di-PHP, saya ingin menyegarkan ingatan Mas Haryo pada satu quote yang aslinya telah diwariskan simbah-simbah kita namun baru belakangan ini kita dengar lagi dalam ungkapan yang lebih bersahaja, yakni, “Benke wae, suwe-suwe rakyo mati dewe.”