1 April. Tekad sudah bulat. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi. Apa yang saya lakukan sudah kelewatan. Harus segera dihentikan.

Begitulah saya hari itu. Malam sebelumnya, saya membaca sebuah cerita menarik. Tentang perjuangan seseorang yang menghentikan kebiasaan belanja.

Belanja di sini adalah membeli barang-barang fashion. Baju, tas, dkk dengan harga middle. Bukan karena mbaknya jatuh miskin. Tapi dia merasa sudah kelewat boros dengan aktivitas pemicu hormon kebahagiaan tersebut.

Kisah itu bak Cinderella. Berakhir bahagia. Si mbaknya sukses menjalankan misi. Dalam setahun, dia bisa menghentikan kebiasaan belanja gombal. Saat membaca itu, sebetulnya saya sempat apatis. Nih si mbak nggak tau lucu-lucunya barang Bangkok sih. Makanya dia berhasil.

Tapi melihat ending story-nya, dia dengan gagah berani menulis mampu menghemat USD 4.000. Mau tak mau, saya pun mengagumi dia. Itu bukan hal yang mudah. Setahun nggak beli baju apapun? Setahun nggak tergoda sneaker yang tambah hari tambah unyu-unyu variannya (oh kata unyu-unyu ini masih hits ga sih)? Rasanya hanya perempuan beriman kuat yang bisa melakukan. Dan untuk itulah, saya semestinya salim ke mbaknya kalau ketemu.

Entah sejak kapan saya mulai demen banget belanja. Sekitar tiga tahun terakhir rasanya. Dimulai dengan belanja tas, hampir tiap bulan saya menghabiskan Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta. Yang bosen dijual lagi. Meski rugi ya nggak kapok-kapok. Abis jual ya beli lagi. Begitu seterusnya. 

Lama-lama bosen. Apalagi makin hari, grup medsos jual beli yang saya ikuti, membernya makin beragam. Susah sekali jual tas yang udah bosen. Akhirnya numpuk. Tas-tas itu jadi bak berhala tak berguna. Sesal pun datang belakangan (karena kalau duluan itu pendaftaran, ya ya iki guyonan luawass).

Heran saya, buat apa dulu beli tas sebanyak itu. Bisa lah kalau dikumpulkan jadi dua motor baru (ini bukan apa-apa yha karena kaleyan pasti tau masih banyak perempuan yang tasnya jika dikumpulkan bisa dibuat beli satu perumahan hehe..). 

Memang urusan belanja ini tidak sampai mengganggu perekonomian dalam negeri, apalagi sampai utang. Tapi saya ngerasa ini sudah too much.

Coba saya lebih bisa menahan diri. Duitnya dikumpulkan buat hal-hal yang lebih terpuji. Umrah kek atau seenggaknya sambang ke Lee Min-ho, oppa kita semua yang sedang wamil.

Saya pun tobat. Meski tak sampai memohon pengampunan, saya ternyata bisa lho nggak beli-beli tas lagi *applause untuk diri sendiri.

Hanya saja, ini nih… yang sembuh ternyata beli tasnya saja. Urusan beli-belinya belum sembuh 😭😭😭

Saya ganti haluan. Mulai mengumpulkan gombal. Harganya jauh lebih murah daripada tas. Cuma Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Tapi dalam seminggu, pesanan saya bisa datang sampai tiga kali. Udah gitu karena belinya online, banyak yang nggak sesuai gambar. Sekalinya saya pakai baju itu, terus ada yang bilang eh kamu gendutan, besoknya baju itu pasti akan pensiun (sungguh nistaa…).

Hobi baru tapi lama tersebut ditunjang tren yang nggak habis-habis. Pas saya mulai belanja baju nggak selesai-selesai itu, hijab voal mulai ngehitz. Kerudung itu harganya Rp 150 ribu–Rp 235 ribu. Tapi ada yang sampai Rp 400 ribu dan Rp 700 ribu untuk merek tertentu. Dan dalam dua bulan, saya punya 15 kerudung voal.

Oh ya, saya sudah lama nggak belanja di mal. Jauh lebih nyaman belanja online. Alasannya kenapa, nanti saja di tulisan lainnya kalau situs ini masih ada hihi. 

Saya nggak tau, apa hanya saya yang merasakan adrenaline bergolak ketika melihat barang yang menurut saya lucu. Makin bergolak kalau ternyata ada yang nanyain barang itu. Size berapa sis?

Huahh..meletup-letup dada ini. Seolah ada pembenaran bahwa selera saya juga disukai orang lain. Lebih bergolak lagi kalau ada calon buyer yang bilang Mbak boleh liat detail. Haduuh rasanya kayak ada yang mau kalah. Dan begitu si seller bilang sold out saat masih mikir beli apa enggak, seketika itu patah hati saya. Mencelos. Getunn saudarah-saudarah… 

Beda sekali kalau saya di posisi yang akhirnya bisa membeli barang itu. Senang dan penuh semangat. Klak klik SMS banking ga sampe semenit. Begitu mengabarkan ke seller kalau sudah transfer, saya kayak pejuang habis menang perang haha…

Tapi begitu barang datang, rasanya ternyata hambar. Seperti hubungan yang ada di fase jenuh. Biasa ajaa… Malah kalau barang itu benar-benar nggak sesuai, saya simpan di satu laci tersendiri. Masih utuh sak plastike.

Dari situ, saya belajar kalau saya ini hanya senang pada proses belanja. Bukan barangnya. Ini kan nggak bener. Kalau kelewatan, saya juga nanti yang susah. Maka sejak 1 April, saya meniru mbaknya mengikuti no shopping challenge. Nggak usah sampai setahun. Saya belum semulia itu. Sebulan saja wis, nggak usah muluk-muluk.

Untuk menguatkan diri, saya menuliskan tekad tersebut di akun medsos.

Waaahh… dukungan berdatangan. Saya tidak sendiri. Tentu saja ada banyak perempuan yang senasib. Mereka berempati. Saya makin semangat. Tapi semesta tak bekerja sama. Hari itu godaan belanja terasa makin berat. Ya gimana nggak berat, di antara 700 akun yang saya follow, 80 persen adalah akun belanja online

Dalam sehari, nyaris dua kali saya gagal akibat aksi live shopping barang-barang sale. Tapi saya coba kuatkan diri. Berhasil… meski slogan Lebih baik menyesal belanja daripada menyesal keabisan di kepala saya terus mengakuisisi pikiran.

Bangganya, saya sudah mengalahkan keinginan itu. Sudah kebayang akhir bulan saya akan menulis artikel heroik karena mampu menjalani no shopping challenge.

Besok pagi di hari kedua, saya sudah bertekad no belanja ya. 

Pas jelajah medsos, lha kok hijab incaran saya muncul di feed. Harganya juga lebih murah karena preloved. Allahu Akbar… apa yang harus saya lakukan. 

Saya keluar dari medsos tersebut. Mengalihkan perhatian dengan nonton Viu. Tapi nggak bisa. Saya balik lagi. Ohhhhh uda ada yang nanyain harga hijab itu. Dada saya berdegup makin cepat. Duh nanti kebeli mbaknya gimana. Tapi saya kan nggak boleh belanja. Ini nggak semuanya dijual karena seri lama. Begitu perang batin saya hingga berujung.. ok fix mbak. Ya ampunnn, saya gagal di hari kedua. Lemahnya saya……