Saya punya seorang teman masa kecil. Sekarang dia bekerja di kantor. Perusahaan swasta. Kerja kantoran. Berangkat pagi-pagi pukul 05.00 supaya tidak telat masuk kantor. Sampai rumah paling cepat pukul 20.00. Berinteraksi sebisanya dengan tiga anaknya.

Kemudian salat Isya dan pergi tidur pukul 22.00. Bangun mulai pukul 03.00, salat malam dilanjut salat Subuh, selanjutnya berangkat kerja kembali. Begitu terus. Hanya libur Sabtu-Minggu. 

Saya juga punya seorang teman jurnalis di Surabaya. Di perusahaan media besar. Posisinya sudah berada di level menengah jajaran manajemen. Sebelumnya, dia jurnalis yang trengginas. Tidak pernah ada jam pasti untuk kerjanya.

Sering saat pagi dia sudah harus menghadiri sebuah acara, yang berlanjut pada siang harinya. Datang ke kantor sore harinya untuk mengetik berita. Dia tak boleh pulang sebelum semua berita selesai diedit. Kadang, berlanjut harus datang ke acara malam harinya. 

Setelah menapak sebagai redaktur, bukan berarti dia bisa santai-santai. Kerap ada rapat saat pagi atau siang yang disebut “wajib” oleh pihak kantor. Rapat selesai pukul 01.00, sedangkan pekerjaan mengedit berita wartawan dimulai pukul 17.00.

Durasi yang nanggung. Pulang tidak enak, tapi tidak pulang juga menunggu terlalu lama. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena memang diikat dengan klausul “sebagai sebuah pekerjaan yang khas, jam kantornya sangat lentur”.

Itu berarti dia tidak akan mendapat uang lembur, walaupun jam kantornya sangat panjang.

Meski begitu, mereka mengaku tak mempermasalahkan hidupnya. Mereka tak berencana mengubah hidup dan puas dengan sistem ekonomi kapitalis seperti ini.

Mereka tahu bahwa komisaris mereka hidup bergelimang tantiem, punya waktu liburan lebih panjang, bisa makan dan minum di restoran supermahal. Semua dilakukan atas keringat mereka. 

Bahkan, ketika keuntungan perusahaan menurun dan para komisaris ingin mempertahankan margin keuntungan mereka, teman saya hanya pasrah ketika para bos tersebut memotong bonus dan pendapatan mereka.

Mereka lebih takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan apa yang telah didapatkan sejauh ini ketimbang menilai situasi dengan pikiran jernih. Sistem yang ada membuat mereka tak punya pilihan lain. 

Dan di atas segalanya, mereka menjalani hidup ini hanya untuk membayar cicilan. Entah itu cicilan rumah, mobil, atau biaya pendidikan anak. 

 

***

Ada banyak orang seperti kedua teman saya. Bahkan, mungkin hampir semua orang di atas usia 30-an yang mulai memasuki level menengah dalam manajemen bersikap seperti itu.

Bukan sekedar menerima, mereka juga menjadi pembela sistem yang paling gigih. Meski mereka tahu hampir mengorbankan semua aspek hidupnya pada pekerjaan untuk sebuah gaji yang tak seberapa. 

Kedua teman saya bukan termasuk seorang kapitalis. Mereka tak akan pernah. Keduanya adalah level menengah dalam sebuah manajemen perusahaan mapan. Pendapatan mereka bukan berasal dari kapital (modal) yang menghasilkan untuknya.

Mereka hanya gajian. Mereka tak akan pernah mempunyai perusahaan. Mereka mengikuti rutinitas dan jam kerja panjang membekukan untuk mendapat gaji. 

Di usia yang sudah di atas 35 tahun, kedua teman saya makin tak punya pilihan. Mereka sudah tak sekuat dulu untuk memulai usaha baru. Mereka tetap bekerja lebih dari 12 jam sehari. Jarang bertemu dengan anak-anak mereka, jarang liburan (kalau pun punya kesempatan, mereka jarang punya anggaran), dan kesehatan yang terbatas.

Dan di atas segalanya, mereka menjalani hidup ini hanya untuk membayar cicilan. Entah itu cicilan rumah, mobil, atau biaya pendidikan anak. 

Para kapitalis bertempat jauh di atas mereka. Jangankan bermimpi menjadi Jack Ma dengan kekayaan lebih dari Rp 500 triliun atau Mark Zuckerberg dengan Rp 380 triliun, kapital lokal seperti Alexander Tedja (kekayaan Rp 18 triliun) saja sudah sangat sulit diraih.

Mereka tahu bahwa dirinya (yang biasa disebut borjuis kecil oleh term Marxisme) adalah orang-orang yang dieksploitasi.

Kapitalisme sudah kehabisan kelas yang dieksploitasi sehingga mulai menghisap borjuis kecilnya sendiri. Tapi, tetap saja, mereka akan membela sistem yang ada. Aneh bukan?

Marx memang tidak tepat dalam banyak hal. Misalnya, tak pernah ada revolusi komunisme yang benar-benar berhasil seperti yang diramalkan. Hanya mandek pada kediktatoran kaum proletariat yang kemudian berubah menjadi sangat menindas.

Atau, ketika menyebut bahwa agama hanya melenakan masyarakat untuk menerima dunia yang penuh penindasan, dia menyebutnya sebagai candu. 

Tapi, Marx benar ketika menyebut kapitalisme menghasilkan apa yang disebut sebagai “kesadaran palsu” (false consciousness). Mereka yang tak pernah menjadi kapitalis (baca: pemilik modal besar) adalah orang yang paling mati-matian mempertahankannya. Terutama kelas menengah manajemen. 

Mereka yang masih berkutat dengan cicilan, tapi sudah mampu membayar regular, dan menyisakan sedikit tabungan. Mereka yang sudah bisa berbelanja agak leluasa, tapi tetap cemas dengan tagihan kartu kredit.

Mereka menerima norma kapitalisme dan merasa beruntung agak leluasa dengan keuangannya. Mereka yang tahu sedang dieksploitasi dan cukup puas dengan sedikit potongan kue yang diberikan para kapitalis. 

***

Pada 1776, ekonom Skotlandia Adam Smith membuat kredo: “bahwa menjadi rakus akan laba itu baik”.

Tapi, konteks pernyataan dalam waktu itu bertujuan mengubah tatanan pola ekonomi saat itu. Di mana, para raja dan bangsawan menghabiskan laba untuk hal-hal yang tidak penting. Berperang memperebutkan wilayah lain, pesta yang memboroskan, pakaian-pakaian, dan perhiasan-perhiasan. 

Dalam buku Wealth of Nation, Smith menyebutkan bahwa seorang tuan tanah, bos pabrik sepatu, dan penenun memperoleh laba lebih besar daripada yang dibutuhkan untuk menafkahi keluarganya sendiri. Dia menggunakan laba itu untuk mempekerjakan lebih banyak orang agar semakin banyak labanya.

Semakin banyak laba, semakin banyak orang yang bisa dipekerjakan. Kesimpulannya, peningkatan laba pengusaha swasta adalah dasar peningkatan kekayaan dan kemakmuran kolektif. 

Smith mengajari bahwa perekonomian seharusnya menjadi situasi “semua untung”. Laba saya adalah laba kamu juga. Kita bukan hanya sama-sama bisa menikmati potongan kue yang lebih besar secara bersamaan: peningkatan irisan Anda bergantung pada peningkatan irisan saya juga. 

Pikiran ini kemudian menjadi salah satu yang paling revolusioner dalam dunia ekonomi. Pikiran ini mengubah sifat ekonomi dunia dan mengembangkan skala perekonomian sampai sekarang. 

Namun, Smith tak memberi jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimana jika distribusi peningkatan laba tersebut tidak berimbang? Bagaimana jika peningkatan laba itu sama sekali tak berpengaruh pada pendapatan para karyawan, yang diset tetap sejak awal bekerja? Bagaimana jika peningkatan laba itu justru menjadikan si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin?

Tak mudah untuk menjawabnya. Juga tak mudah untuk mengubahnya.

Pada akhirnya, kebanyakan dari kita akan menjadi seperti apa yang disebut Seno Gumira Ajidarma sebagai Menjadi Tua di Jakarta.

’’Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa’’