Surabaya konon katanya adalah kota mall. Semuanya serba mall. Butuh apa-apa ke mall. Belanja ini-itu ke mall. Makan-makan ke mall. Pokoknya mall, mall, dan mall. Lah tapi, kalau satu kota dikuasai mall, terus warganya dapat apa? Masak ya disuruh belanja terosss? Shopping terosss? Konsumtif terosss?

Tapi dugaan saya salah besar. Surabaya nggak hanya melulu belonjo dan belonjo. Di daerah Kali Rungkut, tepatnya di RW 5, saya menemukan tempat dimana para warganya lebih sibuk memproduksi sesuatu dibanding belanja. Tempat dimana ekonomi kerakyatan amat terasa di tengah laju konsumerisme.

Tempat menarik itu bernama Kampung Kue Rungkut Lor.

Kampung Kue adalah sentra unit usaha warga yang bergerak di bidang pembuatan kue dalam satu kampung. Berawal dari empat orang pada 2005 lalu, kini sudah ada 65 orang yang memiliki usaha kue di Rungkut Lor. Masing-masing warga paling tidak punya omzet lebih dari Rp10 juta per bulan.

10 juta per bulan! Kalah adoh gaji wulananku cuk!

Pada masa awal pendirian Kampung Kue, warga yang menjadi pioner unit usaha cuma bisa memproduksi puluhan hingga seratus kue. Tapi sekarang, satu rumah saja paling tidak bisa menghasilkan minimal 700 kue dengan nilai produk Rp1,2 juta. Wow!

Omzet besar Kampung Kue itu salah satunya dikerek oleh jaringan pemasaran yang difasilitasi Pemkot Surabaya, termasuk di dalamnya bantuan izin usaha dan sertifikasi, plus kolaborasi dengan sektor swasta.

Makanya, jangan heran kalau kue-kue dari tangan emak-emak Rungkut Lor bisa tembus Maskapai Penerbangan Citilink, Almond Crispy, Hypermart, hingga sentra UKM binaan Pemkot Surabaya.

Tak cukup sampai di situ, produk Kampung Kue ini dalam waktu dekat bakal tembus pasar internesyenel. Ibu Choirul Mahpuduah, salah seorang penggerak sekaligus pelaku usaha di Kampung Kue bahkan mengatakan sudah ada permintaan dari Singapura.

“Bulan depan Insya Allah sudah mulai ekspor,” katanya.

Masok lah!

Lantas, bagaimana kisah awal berdirinya Kampung Kue ini?

Saya bertandang ke rumah Ibu Choirul Mahpuduah, Kamis (5/9) di Rungkut Lor. Saat itu, Ibu Irul—panggilannya—sedang merapikan beberapa pack produknya. Sambil ngiler dan menunggu ditawari ambil kue, saya iseng nanya awal mula Kampung Kue ini.

“Sebelum saya memiliki usaha kue bersama ibu-ibu yang lain, saya bekerja sebagai karyawan di salah satu pabrik dekat sini,” ujar Bu Irul memulai ceritanya.

“Buruh-buruh di pabrik tempat saya bekerja dulu itu 90 persen perempuan, dan kebanyakan dari mereka memiliki mindset “bekerja kepada orang lain”. Setelah penutupan pabrik, kebanyakan dari kami diberi janji sama mandor kalau suatu saat kalau pabrik buka lagi, kami akan diberi pekerjaan lagi,” ujarnya.

Namun, janji hanya tinggal janji. Ketika pabrik mendapatkan investor baru dan aktif kembali, kebanyakan dari buruh yang sebelumnya bekerja di pabrik itu tidak bisa kembali bekerja dengan alasan wes ketuweken.

Setelah itu, kebanyakan dari mereka menjadi kehilangan semangat. Bahkan beberapa ada yang harus bermain petak umpet dengan rentenir.

“Kondisi di lingkungan sini itu juga kumuh, kalo musim hujan banjir. Sedih, Mas. Kemudian saya pikir, kita tidak boleh begini terus, kita butuh mesin ekonomi. Tapi mesin ekonomi yang seperti apa?” kata Bu Irul.

Beliau lantas berinisiatif untuk mendatangi ibu-ibu di lingkungan Rungkut, mengajak mereka bergerak sembari mencari tahu, usaha apa yang cocok dijalankan di lingkungan ini.

“Ketika itu, saya bersama dengan beberapa ibu-ibu memulai untuk jahit-menjahit. Saya dan ibu-ibu itu membuat celana kolor, keset, beha dan berbagai macam jenis produk rumahan. Kami juga berkembang dengan mengikuti berbagai pelatihan sampai para ibu-ibu itu bisa membuat tas, manik-manik, dan berbagai macam kerajinan lain,” ujarnya.

Namun, kenyamanan sesaat nampaknya membuat ibu-ibu Rungkut lupa dengan tujuan awal mereka, yakni cita-cita bersama untuk mendapatkan pendapatan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar hutang.

Hal tersebut disadari oleh Bu Irul setelah para ibu menolak ajakannya untuk kembali bereksplorasi usaha setelah usaha menjahit mengalami kemacetan.

“Kan nggak setiak hari orang-orang itu butuh celana atau beha mas. Jadi ketika produksi jalan terus namun gak ada yang beli, ya akhirnya macet,” imbuhnya.

Setelah melakukan investigasi, Bu Irul akhirnya menemukan bahwa di lingkungannya terdapat beberapa warga yang bisa membuat kue.

“Ketika itu saya langsung kepikiran, wah ini bisa dijadikan unggulan lingkungan, seperti Kampung Kue. Cocok ini. Nah setelah itu, saya mencoba jelaskan kepada ibu-ibu yang lain terkait niat saya yang ingin menjadikan kue sebagai komoditas masyarakat sini,” ungkap Bu Irul.

Apakah masyarakat langsung menerima? Nggak, dong. Kebanyakan dari mereka justru menolak usulan Bu Irul dengan berbagai alasan.

“Saya pernah mendapatkan undangan untuk pelatihan pemubuatan kue. Ketika saya tanyakan ke ibu-ibu, ternyata yang mau cuma lima orang. Eh ketika saya ajak lagi, ternyata nggak ada yang mau. Ya saya kan malu sama panitianya,” ujar Bu Irul.

Tapi tentu saja Bu Irul tak menyerah dan terus berusaha.

Akhirnya dari perjuangan Bu Irul, muncul beberapa orang yang mau merintis usaha kue. Setelah beberapa dari mereka sukses, emak-emak tersebut tidak irit ilmu. Rejeki sudah ada yang ngatur. Mereka menularkan ilmunya pada emak-emak yang lain agar satu kampung bisa sejahtera bersama hingga sukses besar seperti sekarang.

Cerita ini membuat saya termotivasi dan melupakan lapar yang sedari tadi melanda. Jadi Bu Irul, saya udah boleh nyicip kuenya belum?