Opini Edi bisa dibaca di sini.

Saya dapat surat terbuka mak byak yang berisi kritikan atas tulisan saya yang tayang rutin di mojok.co dan telah dibukukan dalam buku berjudul Milenialnomics. Kritikannya selain tajam, juga pedas sekali. Lambe saya seperti dikeplaki pake sandal teklek yang sudah rusak. Ini jangan kemudian terus disimpulkan kalau saya tuh mending ditapuk pake teklek yang baru ya?

Jangan biasakan menggunakan nalar seperti itu, selain sesat itu juga jahat..

Untungnya, si pembuat surat terbuka mak byak yang ngaku dekat dan mengamati perilaku milenial tersebut menuliskannya tidak dengan tulisan tangan. Kebayang tulisan tangan orang sibuk tentu bakal membuat minus mata saya bertambah. Kalau isi sudah saya selami dan periksa, banyak salahnya dari pada benernya. Tapi ya ngak masalah, kalo bener semua malah nanti nggak jadi diskusi.

Saya pun menganggap saling berkirim surat secara terbuka ini tradisi yang baik. Mirip-miriplah dengan polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane. Juga kritik tajamnya Goenawan Mohamad yang membawa-bawa Mandela saat mencoba menasehati Pram, yang berakibat ditendang balik oleh Pramoedya Ananta Toer dengan sengit.

Saya tidak bermaksud menyiapkan jurus tendangan balik seperti halnya yang dilakukan Pram untuk membungkam GM. Selain si pembuat surat tersebut merupakan guru dari banyak orang, termasuk saya sendiri di dalamnya, jelas ada aroma salah persepsi yang mengemuka di surat tersebut. Jadi apa yang saya tulis nantinya hanya gagasan yang ditampilkan ulang.

Sebenarnya kontra narasi yang akan saya ajukan untuk menjawab kritik tersebut akan lebih mashook kalau anda sekalian sudah membeli buku Milenialnomics tersebut. Ini bukan maksud saya hendak jualan buku ya. Jangan gunakan nalar itu karena tujuan saya menulis itu untuk menyalurkan hobi dan mewarnai pikiran para milenial saja.

Uang insya allah mengalir terus dari berbagai sumber. Iya salah satunya yang saya harapkan dari lakunya buku tersebut. Hahaha. Bagaimana kalau malas baca dan beli? Buat klub diskusi 10 orang, 7-8 di antaranya anda arahkan untuk membeli.

Setelahnya diskusikan, anda cukup menyimaknya.  Nggak lah, ada cara lebih murah. Silahkan berkunjung ke rubrik celengan yang saya perbarui tiap pekan di mojok.co.

Harapannya, kita dapat menguliti tesis soal “mengatur keuangan saja kok perlu diajari” yang diajukan seorang pengusaha merangkap kyai eh atau kyai merangkap pengusaha ya? Pokoknya gitu lah, anda bisa memahami maksud saya kalau sudah browse nama Mas Edi Mulyono, atau Edi AH Iyubenu atau Edi Akhiles di kotak pencarian Google, jangan kotak sabun yes. Kotak sabun mending diselipkan di antara tumpukan baju.

Itu ya, transfer wanginya akan membuat pos pengeluaran anda untuk membeli kapur barus atau obat semprot pewangi pakaian menjadi nil, nihil. Hal-hal semacam life hacks itu yang saya tuliskan di dalam kolom atau buku. Hahaha gimana ya? Ngomongin kotak pencarian Google aja bisa sampai menghemat pengeluaran. Tetapi itu memang problem kita hari ini, tau tapi enggan menggunakannya karena hidup kok jadi terasa menderita banget, berjuang banget.

Ada kesalahan elementer kalau saya dianggap mengajarkan ilmu lama soal hidup isinya kok hanya berhemat, menabung dan kerja keras. Piye ya, saya itu pernah mengunggah cara kerja Jon Jandai yang menyudahi kerja di kota dan memutuskan kembali ke desa. Dia tidak menginginkan hidupnya habis untuk kerja keras, nyicil rumah puluhan tahun, dan itu pun dibonusi stress.

Mas Edi menganalogikan mengatur uang itu seperti ngocok pake kartu. Sik, kalimatnya harus dibenahi agar tidak disalahartikan para pemuda dan pemudi harapan bangsa. Menurutnya, mengajari milenial mengelola uang itu mubazir, karena tingkat kesulitannya sebenarnya tidak lebih dari mengocok kartu. Tidak perlu pake aturan tertentu; tidak perlu mengambil sikap sempurna, tidak perlu merem melek, tidak perlu harus per 15 lembar, dan tidak perlu berdoa.

Tidak perlu, tidak perlu dan tidak perlu pokoknya!

Gimana ya, saya harus menjelaskan secara sistematis kepada kalian bahwa mengatur keuangan itu memang tidak pernah terkait uang kita kurang atau mbleber-mbleber turah. Bahkan dalam salah satu tulisan, saya menyarankan para milenial untuk jangan lupa piknik. Menabung itu perlu, tetapi jauh lebih perlu lagi menikmati hidup. Piknik hanya salah satu pos pengeluaran saja.

Di dunia ini terlalu banyak cerita berserak yang kita tidak akan pernah tau kalau tidak ada yang membagikannya atau mengalaminya sendiri. Kalau kita mainnya dengan orang yang menganggap mending kredit Avanza dari pada mengunjungi kota, sebut asal saja, Praha di Eropa Timur, maka kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengunjungi kota tersebut. Lain halnya kalau kita berkumpul dengan orang yang berprinsip lebih baik pernah ke mana-mana daripada punya Avanza tapi paling jauh pergi ke Semarang.

Ini bukan perkara mana lebih baik, tetapi perkara memberikan alternatif pemikiran. Kita ini kan kadang nggak konsekuen dengan apa yang kita inginkan. Nggak pingin ngirit, tetapi coba periksa saja saat membelanjakan uang, membeli kendaraan saja masih memikirkan merk apa yang setelah pemakaian sekian tahun tidak jatuh harganya.

Dalam urusan membeli mobil, Mas Edi contoh yang baik bagi yang berpikir kalau senang ya beli aja. Beliau pernah beli Mercy yang tutupnya bisa dibuka byak, nggak mikir tahun depan harganya melorot drastis. Tapi keputusan beliau contoh buruk untuk milenial yang masih kebingungan memutuskan enaknya beli Yamaha Nmax, atau Honda PCX, dimana salah satu item pertimbangannya mempermasalahkan harga jualnya kelak.

Informasi tersebut jangan di-sliding apa lagi di-tackle dengan bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Beli ya tinggal beli saja, nggak usah iyig atau mikir macem-macem. Persis pikiran beliau waktu beli Alphard trus kemudian menyesal karena ternyata tiap keluar dari mobil tersebut muntah-muntah. Ndak ada bedanya dengan naik angkot.

Hal yang membedakan, kemampuan orang untuk segera ganti kendaraan walau harganya remuk ambyar sangat berbeda. Lha Mas Edi lain, sekarang jeleh besok sudah ganti mobil baru. Nggak perlu nunggu mobil yang dipakai sekarang laku. Prinsip itu hanya berlaku untuk orang yang mempunyai kendaraan lebih dari lima, di mana kehujanan, kepanasan, nglothok catnya blas nggak mikir. Masih banyak milenial yang nggak bisa tidur gegara cat kendaraanya nglothok waktu melintas di Dolly.

Ilmu ekonomi itu ilmu yang mempelajari tentang pilihan yang ada di waktu sekarang dan masa depan.  Nggak bisa kok hasilnya harus mak bedunduk njedul sekarang. Tapi bukan berarti itu nggak ada ya, jangan disliding lagi pendapat saya ini. Apa yang jadi concern saya perilaku kebanyakan. Sementara perilaku Mas Edi kan cenderung nggak umum, ganjil, dan anih.

Jika menabung sekarang, maka ada potensi di waktu mendatang akan punya uang sekian rupiah. Jika dibelanjakan produktif sekarang, akan berpotensi mendapat tambahan penghasilan sekian rupiah. Itu asumsinya tidak ada lonjakan pengeluaran ya, misal trus salah pilih pacar yang sangat trengginas dalam menghamburkan uang. Nah, lain halnya jika untuk membeli kopi dan telo goreng di Café Basa Basi milik Mas Edi sekarang, tentu keluarnya esok harinya.

Mas Edi dan kaum milenial yang nggak perlu beli buku saya,

Perihal anak-anak muda yang jajan, eh nggak cuma jajan ding, tapi seperti hidup di Café Basa Basi itu hanya sebagian wajah milenial kita. Memang banyak sekali yang mampu membelanjakan uang 50 ribu dan bahkan jauh lebih besar dari itu. Tapi bagaimana untuk anak yang orang tuanya berprofesi sopir, tukang batu, buruh tani yang hanya mampu bawa uang 100 ribu mentok 200 ribu apa kemudian mereka tidak berhak disebut anak milenial?

Ganti disebut anak denial? Ya jangan, ngesakno.

Ekonomi mengenalkan konsep opportunity cost, keleluasaan ada di tangan kita dengan segala konsekuensinya. Tinggal potret milenial mana yang akan kita tampilkan. Milenial sekarang sering dipandang maunya kaya raya tapi ogah kerja keras. Itu juga keliru. Banyak yang jauh lebih netjis dan wangi dibanding Mas Edi 47 tahun lalu saat masih naik motor yang kelak dikembangkan insinyur Jepang jadi Suzuki Crystal, dan saya saat naik GL Pro bleyer-bleyer orang sedang indehoy di lembah UGM.

Namun mereka lebih berani “kerja ngosek WC”. Serius ini, rupo mereka yang bekerja di toilet-toilet mall itu jauh lebih ganteng dan ayu dibanding yang bekerja di tempat serupa 10 tahun lalu. Tentu beda dengan moncernya nasib njenengan yang “satusewu siji”. Seratus ribu yang menjalani, hanya satu yang berhasil. Juga beda dengan saya yang bernasib 65, enam yang menjalani lima yang berhasil.

Hidup itu juga saya yakin nggak seperti matematika, hanya karena saya membuat tulisan balasan ini sejumlah 1.349 kata trus saya lebih punya banyak kelebihan dibanding Mas Edi yang menyapa saya dengan 1.202 kata. Mas, hidup itu nggak sulit bagi yang sudah menemukan kunci sukses, tapi juga tidak semudah mengocok pake kartu, hah apalah itu pokoknya mau pake apa. Bikin kzl aja..