Apa yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lain selain warna kulit, pekerjaan, pangkat dan derajat? Jawabnya simpel: passion!

Passion erat kaitannya dengan hobi atau minat seseorang untuk terus melakukan sesuatu secara serius secara kontinu dan menjadikannya ahli. Ujung-ujungnya, hal tersebut dapat menghidupi kebutuhan hidupmu.

Tapi, nggak semua orang ngerti apa yang dia inginkan atau membuatnya semangat menjalani hidup. Kebanyakan pasrah ae, asal kerjo, pokoke isok urip demi berlangsungnya dapur mengepul. Lama kelamaan, orang jadi mirip robot: mengerjakan sesuatu karena materi, bukan karena hati.

Yo nggak onok salahe se mereka yang memang berpikir realistis bahwa hidup perlu pengorbanan—tak cuma mengejar mimpi yang belum pasti kapan berhasil. Namun, bagi kalean yang pengen atau sedang melakukan apa yang kamu cintai dan hidup darinya, saya mengangkat topi buat kalean.

Saya ingin curcol sedikit. Sebagai orang yang tengah berusaha keras hidup dari bidang yang saya cintai yakni menulis, banyak halangan saya alami ketika menjalaninya. Kurangnya dukungan orangtua, bacotan tetangga, dan perasaan ragu kapan berhasil, selalu saja menghatui. Fakk.

Jadi di tulisan ini, saya ingin sekadar berbagi apa yang bisa kamu lakukan untuk hidup dari apa yang kamu cintai, sehingga ketika ditanya orangtua “bakatmu opo,” kamu tak perlu menghindari lagi.

Temukan Passion Sek

Yo mosok wong liyo seng weruh bakat dan keahlianmu opo. Hanya dirimu sing paham, cuk! Jadi, renungkan dalam-dalam apa yang sebenernya jadi tujuan uripmu. Misal, kamu yang suka nyanyi di kamar mandi. Ketimbang nggarai wong omah suwi ngenteni, kenapa nggak nyoba ae nyanyi di panggung atau karaoke?

Selain orang lain dapat menikmati suaramu, itu juga bisa jadi acuan penilaian apakah suaramu dapat diterima kuping pendengar. Tapi, kalau faktanya batuk ae kamu fals, yo mending lupain mimpi jadi penyanyi terkenal. Bercanda ding. Yo latian terus rewk.

Kursus dan Kembangin Bakat

Saya percaya bahwa usaha dapat mengalahkan bakat. Taruh aja kalean punya bakat nulis tapi malas-malasan untuk nulis. Meski ketika kamu nulis hasile apik dan mengalahkan penulis lain yang berdarah-darah menghasilkan karya, tapi kalau nggak pernah diasah yo mirip belati, suwe-suwe tumpul dan nggak guna!

Karena itu ada yang namanya kursus atau pelatihan. Kamu bisa menambah ketrampilanmu disana sehingga makin jago dan terampil. Lek males dateng, kalean cari alternatif belajar lain, video YouTube, atau buku-buku yang mendukung ketrampilanmu. Huwenaak to..

Ikut Kompetisi

Gimana kamu tahu kalau apa yang mbuk lakoni berada di tingakatan yang udah bagus jika nggak dengan jalan ikut kompetisi? Ini melatih mentalmu dan mengukur sejauh mana keahlian dalam suatu bidang.

 Apalagi jika dipertemukan dengan orang lain yang punya keahlian serupa, hal tersebut bisa memacu kamu agar tidak puas diri. Kalau kata pepatah, masih ada langit di atas langit.

Kamu yang seneng masak, coba ikut deh kompetisi masak. Selain sebagai branding bagi kamu untuk pemasaran ke orang-orang, banyak peluang kerja sama yang bakal terbuka ke depan dengan banyak pihak, khususnya dunia kuliner.

Namamu sebagai ahli masak jadi tak dipandang sebelah mata, syukur-syukur bisa gantiin Chef Juna—atau kalau saya, memacari Chef Marinka. Huweenak dek iku koyoke aiihhmm..

Hargai Keahlianmu

Kalau bukan kamu sendiri siapa lagi? Aku serius bangsat! Hargai apa yang kamu lakukan! Beri harga meski itu belum tahap sempurna dan jauh dari masterpiece. Elek-elek ngunu karyamu. Sedikit curhatan lagi, teman saya pernah menggambar wajah untuk seseorang dan customernya komen, “Gambar ngene kok larang se, mas! Nggak isok kurang?”

Janchoookk! Lah lapo kon ngongkon orang lain nggambar lek nggak gelem mbayar fuckhead! Mbuk yo mikir, nggak semua orang bisa gambar. Come on, hargai dan bersikap bijaklah karo kemampuan orang lain. Emang se kelihatannya sepele, tapi akeh manusia di lapangan nganggap remeh passion orang lain, dianggap terlalu mahal untuk sebuah karya. Hmmm ashuu..

Akhir kata, apapun yang kalean lakukan, suka atau tidak suka, jalani dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu di masa depan, hal tersebut bisa jadi manfaat bagi kamu juga oranglain. Setidaknya tanggung jawablah karo mbok sing lakukan biar dapat kamu pamerin ke calon mertuamu. Hohoho!