Kalau Dunia Tanpa Koma adalah sinetron yang dibintangi Dian Sastro dan Tora Sudiro, maka Dunia Tanpa (Uang) Kartal adalah sinetron yang dibintangi oleh beberapa orang terkaya di dunia ini. Sebenernya kita juga bermain dalam sinetron itu sih. Sebagai pemeran pembantu spesialis adegan-adegan yang membantu mereka makin kaya.

Saat ini perkembangan teknologi keuangan dunia sedang bergerak ke arah No Cash At All. Para pelaku industri fintech menawarkan berbagai terobosan baru tentang bagaimana caranya supaya dari konglomerat hingga pedagang kaki lima, dari kartel narkoba hingga pengamen jalanan tidak perlu menggunakan uang kartal dalam seluruh transaksinya. Baik untuk kepentingan bisnis maupun nonbisnis.

Ini menarik sekali bagi pemerintah maupun dunia usaha. Dengan termonitornya seluruh transaksi keuangan masyarakat, pemerintah makin mudah menarik pajak dan memonitor peredaran uang di masyarakat. Katanya.

Dan pelaku usaha pun tak kalah senangnya karena akan dapat memangkas biaya operasional. Ujung-ujungnya profit naik.

Di Asia, Korea Selatan sudah mengklaim diri siap menerapkan “coinless society” pada 2020. Sementara di belahan Eropa, ada Swedia yang berada di barisan terdepan. Menurut Riskbank, bank sentralnya Swedia, saat ini penggunaan uang tunai hanya berkisar di angka 20% dari keseluruhan transaksi di negara itu. Prediksinya, pada tahun 2023 mereka sudah bisa meninggalkan uang kartal untuk menyusul Korsel menjadi “cashless society”.

Bank-bank di Swedia sudah mulai menutup cabang-cabang mereka di kota kecil, bahkan menghilangkan mesin ATM dan mengenakan biaya tambahan untuk transaksi setor atau tarik tunai dalam besaran yang lumayan memberatkan. Ya semacam memaksa masyarakat beralih ke uang digital.

Paling kasihan ya orang-orang tua yang lemot terhadap perkembangan teknologi. Mereka jadi harus belajar cara bertransaksi yang baru dengan meggunakan kartu atau mobile device.

Saya kok jadi ngenes aja gitu membayangkannya. Rasanya masih jauh lebih mudah ngajari anak kelas 5 SD persamaan 3 kali X per X-3 daripada membayangkan bagaimana caranya menjelaskan pada ibu saya yang baru 72 tahun tentang hal-hal seperti itu.

Lha wong untuk melakukan panggilan telepon atau video melalui WhatsApp saja sudah hampir setahun beliau tetap tidak bisa melakukannya sendiri.

Di Belanda, N=5 (NisFive) suatu perusahaan yang bergerak di bidang teknologi sensor, sedang mengembangkan “Contactless Payment Jacket”, jaket yang dilengkapi dengan alat sensor kartu yang sedianya diperuntukkan bagi para pengamen, pengemis, dan gelandangan.

Pada saatnya nanti, orang-orang yang ingin mendonasikan uang cukup menempelkan kartu debit atau kredit ke jaket mereka yang sudah dilengkapi dengan sensor kartu. Salah satu teknologi yang dipersiapkan untuk menyambut Dunia Tanpa Uang Kartal.

Terus nyuci jaketnya gimana ya? Hhmm… Apa yang terlintas di pikiran kita memang menggambarkan posisi kita di kancah dunia. Saat orang sudah berpikir tentang jaket elektronik dan dunia tanpa uang kartal, kita masih konsisten ngrembug cucian.

Kalau dipikir-pikir, cashless society itu kan justru membuat ketergantungan kita pada teknologi semakin tinggi. Ketergantungan pada utilitas seperti internet, provider telekomunikasi dan sumber daya listrik makin besar. Iya sih, biaya operasional tenaga kerja dan biaya beban pembukaan kantor fisik berkurang. Tapi kan bukan berarti tidak ada biaya tambahan juga dalam sistem digital payment.

Negara dan pelaku usaha harus memastikan semua utilitas itu berjalan dengan lancar, mulus, tidak pernah crash. Detik demi detik, hari demi hari, selamanya. Karena sistem yang crash bisa jadi akan berakibat sangat fatal.

Membayangkannya saja, saya langsung merasa menjadi sangat rentan. Iya kan, seharusnya makin besar ketergantungan pada teknologi justru membuat hidup terasa jadi makin rentan. Lha, wong kita jadi tidak bisa melakukan apa-apa tanpa semua bantuan itu.

Lagian ya, betapa membingungkannya semua ini. Di saat jumlah penduduk di dunia ini makin meningkat dan cenderung terus meningkat pesat, bagaimana mungkin manusia memilih semakin menggantungkan diri pada teknologi dan mengurangi kesempatan manusia yang banyak ini memperolah pekerjaan. Padahal level angka pengangguran masih tetap menjadi salah satu indikator kesejahteraan ekonomi. Memusingkan sekali.

Dari sisi psikologi juga, perubahan budaya dari “cash money society” menjadi “cashless society” akan mempengaruhi cara manusia membeli barang-barang.

Ketika memegang uang fisik, alam bawah sadar kita memiliki keterikatan fisik yang menciptakan keterikatan emosional dengan uang itu. Kita menjadi lebih hati-hati mengeluarkannya karena secara mental kita tidak menyukai perpisahan dengan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri kita.

Lain halnya ketika kita bertransaksi tanpa uang fisik. Hanya gesek-gesek kartu atau pencat-pencet HP atau token saja. Alam bawah sadar kita tidak menyalakan alarm rasa kehilangan karena saraf-saraf kita tidak menyimpan memori rasa ketika memegangnya. Akibatnya, proses beli-beli-beli akan menjadi makin lancar. Tanpa kita sadari, kita akan menuntut diri bekerja semakin keras supaya bisa membeli semakin banyak.

Tapi Mbak, mengapa saya tetap merasa kehilangan ketika pacar online saya lebih suka nge-love postingan orang lain sementara postingan saya boro-boro di-love, di-like aja enggak? Padahal saya nggak pernah pegang-pegang dia juga. Errrr…

Penolakan atas gerakan cashless society juga memunculkan isu terkait perangkat hukum yang belum (atau sengaja dibuat tidak) tersedia secara kompeten untuk melindungi data pribadi kita dari para pihak yang menginginkannya.

Yah, memang sih, isu ini sudah jauh hari muncul duluan. Big Data yang berisi rekaman “kehidupan” orang-orang (melalui aktivitas mereka dengan ponsel canggihnya) diperjualbelikan di kalangan para pelaku usaha.

Isu kebocoran data Facebook belum lagi hilang dari ingatan. Kebocoran data pengguna Facebook sudah jadi perbincangan seantero dunia, tak terkecuali di Indonesia. Konon ada sekitar 87 juta data pengguna aplikasi media sosial besutan Mark Zuckerberg itu bocor ke pihak ketiga untuk berbagai kepentingan.

Di Indonesia, tercatat 1.096.666 data pribadi pemilik akun Facebook yang bocor. Pengamat Teknologi Informasi Teguh Prasetya mengamini data pribadi Facebook yang bocor tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Mulai dari kepentingan bisnis sampai politik. Hal-hal seperti itu juga bukannya tidak mungkin terjadi pada vendor-vendor jasa yang menyediakan layanan digital payment.

Rasanya, makin ke sini hidup kita makin dipenuhi berbagai penawaran barang dan jasa. Iklan-iklan itu lama-lama udah kayak jin ifrit aja yang selalu mengikuti kita di manapun berada. Apalagi dengan makin melekatnya kita dengan gawai.

Tak ada sekali gulung layar pun yang tak mengandung iklan. Seakan segalanya sudah didesain sedemikian rupa sehingga membuat kita makin sulit memisahkan mana kebutuhan dan mana keinginan ketika mempertimbangkan akan membeli sesuatu.

Gawai yang makin sulit lepas dari hidup, mata yang makin sering menyaksikan berbagai penawaran barang dan jasa, uang fisik yang semakin digeser oleh uang digital yang lebih sedikit keterikatannya dengan kita, dan pelaku-pelaku usaha yang makin brutal dalam aksi menjual benda-benda hasil produksinya.

Tak heran jika Alibaba Group saja membukukan nilai total transaksi final sekitar Rp538,7 triliun selama festival belanja 11.11 kemarin. Angka itu jauh melampaui perolehan tahun lalu yang hanya senilai sekitar Rp429 triliun.

Di Indonesia, salah satu platform e-commerce, Shopee, mencatat penjualan mencapai 70 juta barang pada promo 11.11 tahun 2019. Tercatat ada kenaikan penjualan 3 kali lipat di satu jam pertama promo tersebut dibandingkan tahun 2018. Brand-brand dengan performa tertinggi mencatat rata-rata peningkatan kunjungan maupun pesanan ribuan kali lipat dibanding hari-hari biasa.

Sedih rasanya ketika membaca komentar seorang teman yang menceritakan kegalauan temannya yang lain karena terlanjur bertransaksi dengan menggunakan fitur Shopee Pay Later dan belum tahu nanti mau dibayar pakai apa ketika barangnya datang. Ya mau diobral semurah apapun, mau dikasih cashback sebesar apapun, kalau tak ada uangnya tetap saja pusinglah bayarnya, Bu.

Ya, sudahlah. Ketika negara dan pelaku usaha memiliki pandangan yang sama atas sesuatu hal, niscaya tak ada lagi ruang bagi masyarakat untuk memilih pandangan alternatif.

Ketika negara dan pelaku usaha sama-sama meyakini bahwa cashless society adalah hal yang baik bagi peradaban, kecil sekali peluang masyarakat untuk bisa menentangnya.

Mereka punya semua kekuatan yang dibutuhkan untuk membuat pilihan alternatif selain pilihan yang mereka ridhoi menjadi mahal atau sangat sulit dijangkau. Kemudian mereka akan membuatnya tampak seperti “perubahan alami yang tak bisa dihindari”.

Saat negara dan pelaku usaha bersama-sama menciptakan kondisi yang membuat kita makin senang dan mudah berbelanja, maka satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah kembali pada nasehat AA Gym yang rajin diingatkannya pada kita. Dulu. Di suatu masa ketika kita masih rajin mendengarkan ceramah-ceramahnya. Bahwa kuncinya adalah: pengendalian diri…

Itu sudah.