Kalau lari dari kenyataan, jomblo  Indonesia banyak jagonya. Tapi kalau balapan lari 100 meter, bisa jadi seribu satu bandingannya. Apalagi ini kelas dunia, Bung. Dan dari yang sedikit itu lahirlah Lalu Muhammad Zohri.

Saat melintasi garis finis pada kejuaraan dunia 100 meter junior U20 di Tampere, Finlandia, dan belum sadar kalau menang,  dua pelari Amerika Serikat Anthony Schwartz dan Eric Harrison malah sudah selebrasi duluan. Padahal mereka cuma peringkat 2-3.

Zohri kalem ae. Keplok-keplok biasa. Sujud sukur. Padahal baru kali ini setelah ajang IAAF digelar sejak 32 tahun lalu, ada pelari Indonesia yang menjadi juara. Selain lawan pelari Amerika Serikat, ada peserta lain dari Jamaica, negara yang melahirkan banyak pelari tangguh kelas wahid. Termasuk orang tercepat sejagad raya, Usain Bolt.

Tapi Zohri emang gitu anaknya. Kalem. Santai. Cool. Bersahaja.

Juara dunia dengan prestasi selangit, tapi sangat membumi. Tidak ingin melupakan dari mana asalnya.

Ke-cool-an itu tambah menangguk respect dari banyak orang saat kali pertama pemerintah menawarkan merenovasi rumah reyotnya yang beratap gedek itu.

Katanya, “Nggak usah, saya ingin rumah itu menjadi kenangan dengan orang tua yang telah tiada.” Begitu kata kakaknya menirukan pesan Zohri.

Dunangis gak? Juara dunia dengan prestasi selangit, tapi sangat membumi. Tidak ingin melupakan dari mana asalnya.

Bicara sukses, kisah mirip-mirip Zohri pernah terjadi sekitar dua tahun terakhir di Malang, Jawa Timur. Warga kota adem itu tiba-tiba dihebohkan dengan munculnya kudapan yang rasane kane lop, jare Aremania.

Jenenge Sempol. Bentuke mirip sate karena ada tusukan bambunya, tapi dudu sate. Rasane koyo tempura, tapi gak mirip banget. Bingung? Gocelan.

Sempol sukses jadi ngehits dan diburu pencinta kuliner sampai sekarang. Saking populernya, makanan tersebut sukses menenggelamkan dominasi kudapan khas Bandung atau Jawa Barat lainnya. Sebut saja cilok, cireng, cimol, batagor, basgor, basreng, dan bolo-bolonya itu.

Padahal, semua tahu bahwa jajanan tersebut sudah bertahun-tahun menguasai pasar lapak kaki lima di mana-mana. Pergerakannya pun sangat invasif. Sudah mirip Indomaret dan Alfamart yang setiap 100 meter ada.

Cilok dan kawan-kawannya itu sudah seperti pelari-pelari Afrika di dunia, di jagad kuliner jalanan kota besar di Jawa Timur.

Dia awalnya mengasah kemampuan larinya di pinggir pantai, di lautan pasir yang berat itu. Tanpa alas kaki. Nyeker. Bertahun-tahun seperti itu.

 

Sekarang di jalanan kota besar di Jawa Timur, sempol mulai membalik situasi. Mereka yang menginvasi. Ciri-ciri penjualnya mirip bakul cilok. Mungkin karena banyak penjual cilok yang hijrah jadi pedagang sempol.

Bedanya, di salah satu sisi obrok bakul cilok ditempati dandang berisi kuah untuk menghangatkan cilok. Sedangkan untuk pedagang sempol, ada wajan untuk menggoreng.

Meski sederhana macam Zohri, untuk membuat sempol menjadi jajanan paripurna, prosesnya panjang. Adonan sempol hampir sama dengan cilok. Daging ayam giling dicampur dengan tepung terigu. Agar lebih kenyal-kenyol, ditambahkan tepung kanji plus bumbu-bumbu racikan supaya lebih gurih.

Adonan itu kemudian dikepal-kepal lalu direkatkan pada sebatang buluh bambu. Atau tusuk sate. Sampai pada tahap ini, sempol masih mentah.

Agar bisa dikonsumsi, sempol harus digoreng dulu. Bukan hanya sekali, tapi dua tahap. Pertama digorang polosan setengah matang. Lalu dicelupkan ke kocokan telur dan digoreng lagi.

Begitu pula Zohri ditempa. Dia awalnya mengasah kemampuan larinya di pinggir pantai, di lautan pasir yang berat itu. Tanpa alas kaki. Nyeker. Bertahun-tahun seperti itu. Tapi ternyata hasilnya belum matang.

Dia kemudian harus membenarkan teknik larinya di pelatnas. Di sana dia digoreng seperti sempol. Seminggu porsi latihan 11 kali. Ditangani para profesional di bidangnya.

Dari sana pula, catatan waktu Zohri menajam dari rekor nasional junior 10,25 detik menjadi 10,18 detik. Wow. Baru digoreng sepisan iku lur. Ndurung digoreng gawe ndog.

Sekarang Zohri sedang mengejar rekor manusia tercepat Asia Tenggara Agung Suryo 10,17. Untuk menyamainya, butuh waktu 0,1 detik. Untuk memecahkan rekornya, perlu 0,2 detik. Tidak mudah. Tapi Zohri masih 18 tahun.

Sementara itu, setelah dua tahun berkembang, sempol mengalami banyak modifikasi termasuk saus dan topingnya. Targetnya jelas. Menjadi kuliner paling top di Jawa Timur dan bisa merambah ke seluruh nusantara. Tapi tetap membumi dan yang paling penting murah.

Asal tahu saja, meski sudah hits banget,  sempol tak pernah melupakan asal muasalnya. Namanya tetap sempol, sebuah kampung di Kabupaten Malang yang syahdu. Tempat jajanan itu lahir.

Padahal bisa saja agar lebih mengerek popularitas, namanya dimirip-miripkan dengan jajanan Sunda lainnya. Misalnya, cite= aci disate atau tereng= sate digoreng. Mungkin ciwo= cilok dowo. Namun, dia tetaplah sempol. Sempat dinamai pentol korea, tapi malah ga payu.

Seperti sempol yang direkatkan pada tusuk sate agar tetap solid ketika digoreng, Zohri juga harus direkatkan pada tiang pembinaan yang lurus dan fokus. Sebab,  sempol dan Zohri punya misi yang sama: melawan kemustahilan.

Zohri melawan dominasi pelari-pelari Afrika. Sedangkan sempol menantang invasi cilok dan bala kurawanya.