”Wes talah, wong loro iku koyok pitik jago ndek njero kalangan.” Begitulah komentar pembalap Pramac-Ducati Danilo Petrucci. Komentar iku muncul setelah tim Repsol Honda mengumumkan bahwa Jorge Lorenzo bakal bertandem dengan Marc Marquez tahun depan.

Hmmm.

Asal tahu saja ya. Petrucci ngomong begitu itu sama sekali tidak bermaksud memuji. Opo maneh menyanjung. Namun, dia lebih memberikan peringatan bahwa sebuah ”kengerian” akan terjadi mulai musim depan.

Iso dibayangno yo lur, ono pitik jago loro nang njero kurungan. Yo opo dadine?

Kabyuk-kabyukan terus. Tarung ga ono mandeke. Berdarah-darah. Sampe ono salah siji sing mati (kalah). Atau setidaknya mlayu.

Petrucci layak mengeluarkan komentar semacam itu. Karena selain Lorenzo, Honda sempat nawari Petrucci untuk menjadi rekan satu tim Marquez. Tapi pembalap Italia iku emoh. Dia menolak mentah-mantah. Alasannya, ngelawan Marquez dengan motor yang sama (Honda RC213V) itu seperti mengajari burung terbang. Sia-sia.

Akhirnya, Petrucci milih menerima tawaran Ducati yang lebih masuk akal. Ducati sudah terbukti bisa menandingi Honda dalam dua musim terakhir. Peluang untuk lebih maju dan bertarung dengan Marquez musim depan lebih terbuka. Lagi pula, apa bisa ada dua pembalap nomor satu di Honda?

Repsol Honda belum berpengalaman menangani dua pembalap bergelar juara dunia dalam satu tim. Opo maneh dua-duanya ga cuma sekali jadi juara dunia.

 

Nah, inilah sebuah keputusan WANI atau bisa dibilang NEKAT dari bos anyar Repsol Honda, Alberto Puig. Jaman pendahulunya dulu, Shuhei Nakamoto, keputusan seperti itu bisa jadi tidak akan pernah lahir. Honda akan sampai kiamat mempertahankan Dani Pedrosa yang punya karakter adem-ayem-tentrem. Ga neko-neko.

Atau jika butuh penyegaran, ada pembalap lain yang satu tipe. Cal Crutchlow, misalnya. Itu pilihan aman. Sudah berpengalaman panjang di atas RCV, sudah dikontrak langsung sama HRC, dan yang paling penting jaminan kondusif di dalam tim.

Repsol Honda belum berpengalaman menangani dua pembalap bergelar juara dunia dalam satu tim. Opo maneh dua-duanya ga cuma sekali jadi juara dunia. Kalau digabung, gelar juara dunia Marquez dan Lorezo saja jumlahnya 11. Marquez 6 gelar, Lorenzo 5 gelar.

Rentetan gelar Honda itu berselisih satu dengan pasukan Yamaha. Valentino Rossi 9 gelar, Maverick Vinales 1 gelar. Dan sejak Marquez naik kelas ke MotoGP pada 2013, tidak ada pembalap lain yang mampu menjadi juara dunia selain Lorenzo. Istilahnya, dua orang ini adalah pitik Bangkok pilih tanding.

Yamaha sudah berpengalaman bertahan-tahun ngurusi dua pembalap bergelar juara dunia di bawah satu atap. Hasilnya? Ya eroh dewe lah. Tukaran gak mari-mari. Sampek salah siji ono seng kalah. Kabur.

Rossi pernah kalah bersaing dengan Lorenzo sampai terpaksa menyingkir ke Ducati pada 2011–2012. Lorenzo nyaris membunuh kebintangan sang legenda. Sebab, setelah pindah ke Ducati, Rossi jadi melempem. Untung Rossi punya nyali 11. Nggak habis-habis. Dia memilih balik kucing ke Yamaha pada 2013. Memutuskan tarung ulang melawan Lorenzo.

Kalau ingat zaman Rossi-Lorenzo eker-ekeran, sikut-sikutan, bos-bos Yamaha pasti capet banget. Sampai-sampai garasi Yamaha dipisah, ditutup tembok pas 2010 agar Lorenzo tidak bisa mengintip settingan motor Rossi.

Begitu juga sebaliknya. Rivalitas panas Lorenzo-Rossi sampai meluas melibatkan fans, pembalap lain, sampai menyentuh sensitivitas bangsa Italia-Spanyol. Masih ingat nggak ketika Rossi menyebut Marquez menolong Lorenzo untuk menjuarai MotoGP 2015? Sampe ada drama sepak-menyepak di Sepang, Malaysia.

Perang dingin itu terjadi sangat intens dan berlarut-larut. Akhirnya, Lorenzo nggak tahan lagi dan memutuskan hengkang ke Ducati.

Untuk meraih dua kemenangan, Dovi butuh limang tahun balapan karo Ducati. Lorenzo? Satu setengah tahun.

 

Seharusnya, kepindahan Lorenzo ke Ducati tidak sepenuhnya sebuah ”kekalahan”. Sebab, siapa pun akan ngiler dengan tawaran kontrak 12 juta euro seperti yang diterima Lorenzo. Bisa jadi, kesempatan tersebut tak datang dua kali.

Di Ducati, Lorenzo tampil sangat mengecewakan selama lebih dari 18 bulan. Ducati mulai gak srantan. Tapi sejatinya Lorenzo sedang merencanakan sebuah pembunuhan dahsyat. Korbannya tentu saja rekan satu timnya sendiri, Andrea Dovizioso.

Begitu senjata ditemukan, yakni perubahan desain tangki bahan bakar yang lebih pas dengan gaya balap, Lorenzo menggila. Menang dua kali beruntun di Mugello dan Barcelona. Bayangkan! Untuk meraih dua kemenangan, Dovi butuh limang tahun balapan karo Ducati. Lorenzo? Satu setengah tahun.

Dengan dua kemenangan dua kali beruntun Lorenzo tersebut, mental Dovi ajur. Padahal biasanya kalau balapan dia selalu tenang, selow. Sejak Lorenzo moncer, Dovi jadi ndlosor berkali-kali.

Beri Lorenzo satu musim lagi dan Dovi yang digadang-gadang menjadi penantang kuat Marquez bakal keok. ”Terbunuh”. Mungkin karirnya juga.

Beruntung bagi Dovi, Lorenzo memutuskan hengkang ke Honda. Daripada gajinya dipangkas habis-habisan oleh Ducati, mending datang ke Honda bertarung dengan rider terbaik MotoGP saat ini dan membuktikan bahwa dirinya masih ada. Bahkan lebih kuat dari kapanpun sepanjang karirnya.

Dan, Lorenzo sudah pasti merencanakan ”pembunuhan” berikutnya. Dia adalah satu-satunya pembalap yang pernah menjadi juara dunia sejak Marquez naik kelas ke MotoGP.  Tapi, saat itu dia masih bersenjata Yamaha. Mengalahkan Marquez dengan motor yang sama, pasti rasanya akan jauh lebih menyakitkan.