Andrea Dovizioso boleh menang di GP Republik Ceko Minggu (5/8) malam. Namun, Jorge Lorenzo lah yang mencuri pertunjukan saat itu. Sudah lama sekali juara dunia tiga kali tersebut tak berduel sengit di tengah balapan.

Andai saja Lorenzo tak datang untuk ikut bertarung di tiga lap terakhir, bisa dipastikan balapan di Brno berlangsung anyep. Teman nobar di sebelah saya sempat ngorok sebentar saat balapan melewati lap 12-17.

Tapi begitu balapan memasuki lap 18 dari 21 putaran yang dilombakan, ceritane dadi sangar broo. Lorenzo seperti kesurupan. Ternyata dia memang menyimpan amunisi agar bisa berduel di akhir.

Tonton saja video manuver menyalipnya dari tikungan 13. Menusuk dari sisi dalam tikungan untuk melibas Marc Marquez di posisi kedua. Lalu keluar tikungan dengan pengereman yang sangat smooth agar bisa masuk tikungan 14 sambil membabat Dovizioso.

Meski yang kedua ini tak sepenuhnya sukses. Karena Dovi melibasnya lagi di tikungan 15, setelah Lorenzo membuat kesalahan dan melebar.

Dovi menyerang Lorenzo. Sebaliknya Lorenzo menghardik Lorenzo di depan wartawan sedunia. Ini adalah buntut perang komentar keduanya sejak April lalu.

 

 

Tapi Lorenzo tak menyerah. Dia mengulangi serangan yang sama di lap berikutnya. Kali ini di tikungan 4. Tontonan thriller diputar lagi. Nyaris terjadi senggolan yang bisa berdampak ndlosor bagi Lorenzo dan Dovizioso. Bahkan, mungkin Marquez.

Tapi ternyata tidak. Mereka terus bertarung sampai finis. Ducati finis 1-2 untuk kedua kalinya musim ini. Bedanya, di GP Italia, Lorenzo juaranya.

Yang agak mengharukan adalah ketika sedang menanti wawancara di parc ferme, Lorenzo datang menghampiri Dovi untuk memberi selamat. Di sinilah Lorenzo mencuri perhatian. Suasana rukun itu seperti sama sekali tak terbayang bakal terjadi tiga hari sebelumnya.

Saat itu keduanya saling serang dengan mengumbar komentar di media. Nggak ono rukun-rukune blas. Dovi menyerang Lorenzo. Sebaliknya Lorenzo menghardik Lorenzo di depan wartawan sedunia. Ini adalah buntut perang komentar keduanya sejak April lalu.

”Jujur, aku sudah muak dengan situasi ini. Ketika aku sedang terpuruk dan dia (Dovi) menang, aku bertepuk tangan di depan podium untuk memberinya selamat. Aku ini juara dunia MotoGP tiga kali. Dan, di musim keduaku di Ducati, aku sudah sering lebih cepat dari dia. Apakah perlu aku belajar dari dia? (yang belum pernah menjadi juara dunia), ” begitu ujar Lorenzo.

Dia melanjutkan, “Seperti sudah pernah aku bilang di Argentina. Dia ingin melecehkan kemampuanku. Tapi aku sudah menang 46 kali (Dovi baru 9). Saat tahun lalu, situasinya sangat sempurna bagi dia, seharusnya dia bisa juara dunia. Tapi apa yang terjadi? Dia hanya finis runner up (kalah dari Marquez)? Sebelumnya lebih parah lagi, cuma finis 6 atau 7. Kok dia bilang metodeku yang salah. Aneh!” terusnya.

”Aku ingin ingatkan dia agar tak mencampuri urusanku. Biarkan aku sendiri mengatasi semua masalahku. Karena jika dia menghadapi seorang Lorenzo yang marah, itu akan sangat berbahaya, ” dia mengancam.

Dovi memang menyindir Lorenzo beberapa waktu lalu. Saat itu sejumlah wartawan bertanya tentang kemenangan rekan setimnya itu dua kali beruntun di GP Italia dan Catalan.

Dia menyebut dua kemenangan itu tidak berarti apa-apa karena masalah Ducati selama nyaris dua tahun terakhir sama sekali belum bisa diatasi.

”Menang dua kali sama sekali tidak mengubah situasi. Apalagi kami (Ducati) tidak mengontraknya hanya untuk menang dua kali, ” serangnya. ” Jadi aku sama sekali tidak berubah pikiran tentang Lorenzo, ” tandasnya.

Perseteruan keduanya akhirnya dituntaskan di lintasan. Kali ini Dovi juaranya. Tapi semuanya tidak akan berhenti di sini. Karena balapan berikutnya akan berlangsung di Austria pekan depan.

Di sirkuit cepat dengan hanya sembilan tikungan itu biasanya Ducati tampil sangat-sangat garang. Jadi tontotan duel Dovi v Lorenzo masih akan ada episode berikutnya. Siapa pemenangnya nanti? Tanya Roy Kiyoshi!