Siapa yang dapat memisahkan kita

Jika maut pun tak bisa

Maka ijinkanku genggam tanganmu

Skali ini saja

Sebelum maut menjemput

Sebab selama ini aku bertahan

Hanya untukmu..

(lirik lagu Hanya Untukmu – soundtrack Nyai Duesseldorf)

Diliat dari kata-katanya sih dalem buwanget ya rek lagu iku. Galau. Penggambaran rasa cinta yang mendalam. Walaupun kata-katanya ngena ke perasaan, aku sih dapet kasetnya gratis. Hadiah dari novel Nyai Duesseldorf karya Zeventina.

Tebal novelnya 402 halaman.  Walaupun judulnya Nyai Duesseldorf, kisah percintaan tragis gadis pemetik teh yang berlatar belakang di Duesseldorf, Jerman, tersebut mek diceritakan di 77 halaman terakhir. Setting cerita liane malah di Ciwidey, Bandung.

Awalnya, aku beli novel ini dengan ekspektasi akan banyak cerita dan pengetahun baru tentang Duesseldorf, Jerman. Secara kan, jare wong-wong seh buku itu jendela dunia. Durung iso budal nang Jerman gapapa, sing penting beli buku tentang Jerman dulu saja.

Anake dewe diarani mati. Emak macam apa coba #netizenkesal.

 

Kali pertama baca, mak bedunduk seorang pemuda Jakarta yang bernama Ardy kecelakaan. Dia ditolong gadis desa yang sampai akhir cerita nggak diceritakan lagi. Hilang begitu saja. Gak ada kabar dan kejelasan, seperti gebetanmu yang kecantol cewek sing lebih menawan.

Mungkin diberi judul Nyai Duesseldorf biar rodok keren ketimbang Nyai Ciwidey atau Nyai Gang Pasar.

Nyai Duesseldorf atau Kinasih, gadis pemetik teh di perkebunan Ciwidey, terjebak dua pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Pria pertama adalah Ardy, pemuda Jakarta baiq hati nan boediman yang peduli dengan anak-anak kurang mampu di Ciwidey.

Sing kedua Mark Bocholz, reporter terkenal di Jerman yang nyasar ke Ciwidey gara-gara program TV culture embuh apalah itu.

Awalnya, Kinasih jatuh cinta sama kang Ardy. Namun, kisah cinta mereka nggak direstui orang tua Ardy. Apalagi, dia punya rencana menetap di Ciwidey buat bangun sekolah dan ngurusi anak-anak kurang mampu. Sinetron banget ngunulah. Buk e Ardy gak setuju.

Berbagai cara dilakukan ben Kinasih ngalih. Mulai ngasih duit tapi malah dibalikin sama Kinasih, nyebar undangan palsu nek Ardy arep rabi, ngongkon preman ngobong omahe Kinasih lalu adike katutan kepanggang, sampe ngasih kabar kalau Ardy mati kecelakaan.

Oke, yang terakhir keterlaluan! Anake dewe diarani mati. Emak macam apa coba #netizenkesal.

Hebatnya Kinasih, meskipun sakit hati, dia tetap gantiin Ardy untuk mengelola sekolah rintisan tersebut seorang diri. Melihat gadis patah hati, mas bule Mark sing ket awal wes kesemsem nyoba masuk ke kehidupan Kinasih. Ngapik- ngapiki. Tebar janji. Ndramus tingkat dewa sampai Kinasih menaruh hati.

Ujung-ujungnya, mereka memutuskan rabi di Jerman. Keren kan?

Sayang, semua itu hanya tipu daya. Bahagia mereka hanya sementara. Gak suwi setelah rabi, kedok Mark terbuka. Pria bermata indah itu ternyata memiliki penyimpangan seksual. Iyo, ganteng-ganteng gendeng.

Kinasih dikurung di gudang apartemen dan harus memenuhi hasrat kelainan seksual Mark sekaligus paman penyuka sesama jenis dalam ritual birahi La Costra Nostra sing mistis nan misterius. Ritual itu membuat Kinasih dipasung, kulite disiseti, ditetesi jeruk nipis, diguyur minuman keras, lalu dinikmati mereka.

Kebayang gak sek koyok opo rasane? Puweeeeriiiiiih. Lah jangankan dingunukne, tangan kenek pisau pas ngiris brambang ae rasane kudu nangis.

Di tengah derita tersebut, Kinasih mencoba bertahan. Berharap cinta sejatinya, Ardy, datang menyelamatkan. Oke, di sini balik lagi, cinta itu bikin goblok! Umpama aku ada di situ, tak bengoki kon mbak. Kaburo Cuk!

Membaca novel ini seketika bikin aku jadi kayak emak-emak korban sinetron. Ngomel, nggrundel dewe sepanjang cerita.

Di akhir cerita, penulis menyebutkan bahwa novel Nyai Duesseldorf terinspirasi dari kisah nyata. Tenyata, banyak perempuan Indonesia di luar sana yang nasibnya sama seperti Kinasih. Gak wani kabur dan mbalik ke Indonesia karena mikirin suplai ekonomi buat keluarga.

Sebagian yang pinter sih nyoba kerja, golek kanca, dan mencari stategi kabur tentunya. Tapi, itu hanya beberapa. Masih banyak yang dikekang dan disiksa. Ya, kita berdoa saja. Semoga gak ada nyai-nyai selanjutnya.