Rusuhnya pertandingan Arema FC ketika menjamu Persebaya Surabaya memantik reaksi keras dari suporter Persebaya, Bonek Mania, dan suporter Persib, Bobotoh. Karena sudah berkali-kali merasakan ganasnya palu vonis hukuman Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Bonek dan Bobotoh kini berharap agar keadilan serupa diberlakukan pada suporter Arema FC, Aremania.

Secara kasatmata, setidaknya ada beberapa pelanggaran yang dilakukan Aremania. Salah satunya, rasis sepanjang laga. Mereka tak henti-hentinya meneriakkan “Bonek dibunuh saja.”

Kemudian, pada jeda waktu pergantian babak pertama ke babak kedua, ada beberapa oknum suporter yang masuk ke lapangan. Suporter tersebut kemudian melakukan provokasi terhadap pemain. Mereka juga mengajak berkelahi dengan sempat menyentuh pemain.

Tidak berhenti di situ. Ketika skor masih sama-sama nol pada babak pertama, lagi-lagi ada oknum suporter yang berbuat konyol. Herannya, itu dibiarkan begitu saja oleh pihak panpel Arema FC. Suporter tersebut dengan seenaknya mengencingi gawang.

Sebelumnya, di putaran pertama, Persebaya menerima sanksi berat dengan membayar denda Rp 410 juta. Itu atas terjadinya beberapa pelanggaran ketika Persebaya menjamu Arema FC. Yaitu, pelanggaran menyalakan flare, mengencingi gawang, pelemparan botol, dan meludahi pemain Arema FC.

Ketika pertandingan berakhir, ulah suporter itu masih berlanjut. Momen fair play saat para pemain bersalaman dinodai oleh masuknya suporter yang menyobek bendera Persebaya.

Selain itu, pemain Persebaya yang hendak memasuki ruang ganti dihujani lemparan botol oleh suporter. Para suporter yang beringas itu seolah tak puas dengan kemenangan timnya. Dan terakhir, suporter Arema FC menyalakan flare. Yang jelas-jelas dilarang PT LIB selaku pihak operator.

Sebelumnya, di putaran pertama, Persebaya menerima sanksi berat dengan membayar denda Rp 410 juta. Itu atas terjadinya beberapa pelanggaran ketika Persebaya menjamu Arema FC. Yaitu, pelanggaran menyalakan flare, mengencingi gawang, pelemparan botol, dan meludahi pemain Arema FC.

Namun, jika dibandingkan dengan pelanggaran yang dilakukan oknum Bonek, pelanggaran yang terbaru ini lebih berat. Suporter dengan seenaknya masuk ke lapangan, kemudian melakukan intimidasi dan mengajak pemain berkelahi.

Padahal, sudah jelas bahwa sepak bola bukanlah olahraga tinju. Apalagi, suporter ini siapa? Tugasnya hanya memberikan dukungan di luar lapangan. Karena itu, wajar jika ada yang bertanya: waras kah SAM?

Nah, pada pertandingan kemarin, kebetulan beberapa petinggi PSSI menonton langsung di stadion. Ada Wakil Ketua PSSI Iwan Budianto yang juga pemilik mayoritas saham Arema FC, Sekjen PSSI Ratu Tisha, dan Gusti Randa.

Sebelumnya, Bobotoh dan Viking telah merasakan ganasnya palu vonis Komdis. Persib mendapat hukuman satu tahun bertanding tanpa suporter. Itu buntut dari meninggalnya suporter Persija, Haringga Sirla, ketika nekat hendak mendukung Persija sendirian di Stadion Bandung Lautan Api.

Kini, sanksi yang setimpal juga harus diberikan kepada Arema FC. Sebab, jika tidak, bakal timbul reaksi ketidakpuasan dari para suporter tanah air. Dengan menganggap ada klub yang dianakemaskan.

Jika itu terjadi, iklim kompetisi akan sangat tidak sehat. Karena PSSI selaku regulator tunggal dinilai tidak profesional dalam mengelola sepak bola Indonesia.

Julukan menganakemaskan sebuah klub cukup beralasan dan memang berdasarkan fakta. Sebagaimana dilansir Tirto.Id, ternyata rata-rata pejabat teras PSSI adalah pemegang mayoritas saham untuk klub yang bermain di GO-JEK Liga 1.

Sebut saja Ketum PSSI Edy Rahmayadi selaku pemilik saham di PSMS Medan sebesar 51 persen, Wakil Ketua PSSI Djoko Driyono selaku pemilik saham di Persija Jakarta dengan persentase 80 persen, Kepala Staf dan Ketua Umum PSSI Iwan Budianto selaku pemilik saham Arema FC dengan besaran 70 persen, serta Komisaris Utama PT LIB Glenn Sugita yang juga memiliki 70 persen saham di Persib Bandung.